
waktu makan siang tiba, dinda yang duduk sendirian menunggu sang suami sedang rapat bersama klien ditempat yang sama
"saya mau pesan kopi ya!" ucap dinda setelah menyelesaikan makan siangnya
"baik bu" jawab pelayan resto
dinda melihat sekeliling semuanya makan bersama pasangan atau teman disampingnya. sedangkan dinda saja yang melahap makanananya sendirian
hingga ada seseorang yang menghampiri dinda dan menyapanya
"nda! kamu nda kan?" ucap seseorang menatap wajah dinda dengan teliti
"saya?" dinda bingung
"iya kamu dinda kan? dulu ayu memanggil kamu nda!" jelas lelaki bernama bimo
"oh! iya saya ingat" jawab dinda ragu
dari arah depan suaminya sudah mulai gelisah menatap istrinya. dinda pun sama tak mau ada baku hantam akibat salah paham yang dilihat suaminya
"boleh saya duduk sini" ucap bimo namun dirinya sudah berada dibangku depan dinda
"saya menunggu seseorang" ucap dinda
"oh maaf, saya pikir kamu sendirian! boleh saya minta nomer ponsel kamu" bimo menyerahkan ponselnya
dan seketika tangan besar seseorang mengambil ponselnya.
dind yang takut terjadi keributan ikut berdiri memegang tangan reza
__ADS_1
"mas dia teman Sma dulu!" dinda pelan
"anda siapanya nda ya?" ucap bimo
"nda?!!!" emosinya mulai tersulut mendengarkan istrinya diberikan nama panggilan yang aneh dan membuatnya geli
"iya dinda, kamu siapanya? setau saya dinda tak punya kakak laki laki"
"saya suaminya! senang bertemu dengan teman lama istri saya! selamat menikmati fasilitas hotel" ucap reza sopan menahan gejolak dalam hatinya
"ayo sayang!" reza meletakan ponsel milik bimo dan menarik tangan dinda
"perkenalkan ini istri saya! namanya dinda" kini reza mengenalkan dinda pada kliennya
daripada menahan rasa khawatirnya melihat istrinya didekati buaya buntung
"salam kenal bu dinda, kami sangat senang mengenal pasangan serasi dan berprestasi seperti anda berdua" ucap klien reza
"tidak bu, mari silahkan duduk"
dinda duduk disamping suaminya yang tak melepaskan tangan dinda sama sekali.
"begini pak, kami rencana akan mengadakan renovasi untuk beberapa property kami yang akan dikelola oleh istri saya untuk cafe begitu kurang lebih" reza menjelaskan detailnya
dinda hanya menggangguk dan setuju saja suaminya paling tahu apa yang dimau oleh dinda.
"baiklah kita bertemu lagi setelah istri saya menentukan gedung mana yang akan dipakai nanti" ucap reza mengakhiri rapatnya
__ADS_1
"baik pak kami tunggu kabar selanjutnya" ucap klien reza keduanya berjabat tangan dan berpisah
"kita bicara dikamar!" ucap reza dengan wajah datarnya
"mas tunggu!" dinda mengejar reza dengan langkah panjangnya
reza memelankan langkahnya menunggu dinda agar berjalan beriiringan.
tiba di lantai yang sama dengan kantornya ada kamar hotel yang memang dikhususkan untuk pemiliknya yang tidak lain adalah reza
"mas kok kesini?" dinda biasanya tidur dikamar yang ada diruangan reza
reza membuka kamarnya dengan kunci akses yang hanya dimilikinya dan dion saja
"ayo duduk!" reza menepuk sofa disebelahnya
dinda menuruti duduk disamping reza dengan patuh.
"siapa tadi hmmm?" reza mengangkat sebelah alisnya
"astaga masku sayang! jadi masalh tadi" dinda mengehela nafasnya
"dia adalah...." dinda terdiam sejenak
"mantan kamu!" sahut reza
"bukann mas! dia mantannya mantan sahabatku dulu!" ucap dinda kesal harus mengingatkan pada masa pahitnya dulu
"maksudnya?" reza baru dengar ada yang namanya mantan sahabat
__ADS_1
"udah deh jangan bahas ini, males ah" ucap dinda
reza pun mengerti dan meminta maaf pada istrinya karena kesal meluhat dinda di dekati orang lain