
tiba dirumah sakit dinda segera ditangani oleh dokter dan dibawa keruang gawat darurat melihat kondidi dinda yang sudah berlumuran darah pada bagian kakinya.
tak lama mami ana datang bersama supir karena suaminya sedang diperjalanan menuju rumah sakit dari kantornya. mendengar anaknya terluka papi tirta langsung begitu saja meninggalkan rapat pentingnya
"bagaimana bisa terjadi?" tanya mami ana pada bik wati yang sedang menunggu dinda diluar ruangan
"kami tidak tahu pasti nyonya, saat mendengar teriakan bu dinda sudah tergeletak dilantai" ucap bik wati menunduk takut
"apa sudah ada kabar dari dokter?" tanya papi tirta yang baru saja tiba
"belum tuan, saya masih menunggu dokter keluar" jawab bik wati gugup
"papi gimana dinda pi?" mami ana menangis dipelukan sang suami
"reza kemana!' papi tirta tak melihat menantu yang janji akan menjaga anaknya
"pak reza pergi dari tadi pagi sekali tuan, kami belum menghubunginya karena panik" ucap bik wati lagi
*
"halo za, bisa pulang sekarang! dinda membutuhkanmu!" papi tirta menghubungi reza
rapat sedang berlangsung namun reza tetap mengangkat telfon mertuanya, perasaannya pun tak enak sejak berangkat tadi pagi. terasa berat meninggalkan sang istri
__ADS_1
"baik pi!" tak banyak bertanya reza meminta agar dion melajutkan rapatnya dan reza segera kembali
perasaan yang tak tenang reza menghubungi rumahnya dan benar saja reza mendapat kabar jika istrinya sedang dirumah sakit
melajukan mobilnya dengan sangat kencang reza yang khawatir dengan dinda tak menghiraukan lagi keselamatanya, pikiranya kalut mendengar istrinya berada dirumah sakit saat ini
reza tiba dirumah sakit yang disebutkan asisten rumah tangganya dalam waktu hanya tiga puluh menit yang seharusnya dalam perjalanan normal membutuhkan waktu setidaknya satu jam. dsapat dibayangkan bagaimana kencangnya laju mobill yang reza kemudikan
"dimana istri saya!" reza datang dengan nafas yang tak beraturan menghampiri sang mertua
wajah dan matanya memerah
"dinda sedang ditangani dokter nak" mami ana menjawab sambil menangis terisak
"kami butuh tanda tangan persetujuan dari suaminya" ucap dokter yang baru keluar dari ruangan perawatan dinda
"ada apa dok!"papi tirta yang maju lebih dulu rasanya dirinya yang lebih berhak atas anaknya tangisnya pun tak dapat ia keluarkan, rasa sesak dan sedih sangat menusuk papi tirta saat ini
melihat istrinya yng lemah diapun harus berusaha kuat
"mari ikut saya" dokter mengajak reza dan papi tirta menjelaskan apa yang terjadi pada dinda
"kami tak bisa menyelamatkan anaknya pak, mohon maaf sebaiknya harus segera dikeluarkan jika tidak akan berpengaruh pada ibunya" ucap dokter menjelaskan
__ADS_1
"apa itu akan membuat istri saya selamat dokter?" tanya reza
"kami tidak bisa pastikan tapi ini satu satunya untuk menyalamatkan istri anda" jawab dokter
reza meminta persetujan papi tirta meski reza lebih berhak memutuskan tapi dirinya juga sadar orang tua dinda juga penting
papi tirta mengangguk berat menandakan persetujuan tindakan dokter
dengan berat hati reza memutuskan setuju dengan saran dokter "lakukan yang terbaik agar istri saya selamat dokter, bagaimanapun caranya!" ucap reza
setelah tanda tangan persetujan reza dan papi tirta kembali bersama yang lain menunggu didepan ruang oprasi, mami ana yang mendengar jika calon cucu pertamanya harus dilahirkan sebelum waktunya tangisnya pecah
reza yang tahu apa yang sedang dipikirkan saat ini, yang dia tahu istrinya harus selamat dan entah bagaimana reza akan menjelaskan pada dinda dengan apa yang terjadi pada calon bayi keduanya
"maafkan reza mi, pi" reza bersimpuh didepan mertuanya yang saat ini duduk menunggu kabar anaknya "reza salah, maafkan reza"
"sudahlah! yang terjadi bukan lagi kuasa kita. semua hanya titipan jika yang memberi titipan belum mempecayakan kita harus apa" jawab papi tirta yang sangat bertolak belakang dengan hatinya yang hancur berkeping
"kita berdoa saja semoga dinda baik baik saja, bangun lah" mami ana menguatkan diri bahwa ada yang lebih terluka lagi selain dirinya
"reza ngga mampu menjaga dinda dan anak reza sendiri!" ucap reza memukul tembok dengan kepalan tangannya
tangannya keluar darah namun tak dirasakan oleh reza yang sangat merasa bersalah.
__ADS_1