Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
first kiss


__ADS_3

sudah beberapa hari berlalu dinda melakukan pekerjaanya dan juga mengambil alih pekerjaan papinya yang sedang liburan dengan istri tercintanya


"papi kapan pulang, dinda kangen mami " ucap dinda saat melakukan panggilan video pada orang tuanya


"alasan saja" jawab papinya " amamimu sedang mandi nanti papi sampaikan. sekarang kerja saja yang benar!" papinya mengerjai anaknya


"ahhhh papi dan mami memang sekongkol ini mah" dinda menaruh kelapanya pada meja kerjanya


"kenapa bu" ucap asisten dinda yang baru dua hari masuk kerja itu


"apa aku memanggilmu, sana selesaikan pekerjaanmu" ucap dinda sedang tak mau diganggu


" ada apa key" tanya reza yang melihat asisten dinda keluar ruangan dinda dengan kesal


"itu pak tadi bu dinda teriak, saya pikir ada sesuatu yang terjadi tapi saat saya masuk malah saya diusir" keluh keyla pada reza berharap akan dibela


"ya sudah kembali ketempat kerjamu!" reza masuk kedalam ruangan dinda


"permisi bu, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya reza tapi tak ada sahutan reza mendekati dinda takut dinda sakit atau pingsan.

__ADS_1


"bu dinda" reza kembali mamanggil saat sudah sangat dekat. dinda yang kaget kursinya terdorong kebelakang tak sengaja iya menarik tangan reza untuk berpegangan. reza yang tak siap iya kehilangan keseimbangannya dan ikut jatuh dikursi yang sama dengan dinda


cup, kedua bibir milik keduanya bersentuhan tak sengaja dan keduanya kaget dinda langsung mendorong reza.


"maaf pak, aku tak sengaja" ucap dinda melihat reza terbentur meja kerja dinda


"ehem saya juga minta maaf itu, bi...bir bu dinda sedikit berdarah" reza juga canggung menujuk bibir dinda dimana tadi tempat bibirnya jatuh


"ahhhh iya itu..ohh itu nanti saya obati. pak reza boleh keluar ruangan saya" dinda tak mau muka merahnya terlihat oleh reza. rasa malu dan juga canggung membuatnya tak ingin melihat reza lagi


"astaga ciuman pertamaku" dinda berteriak kecil dan didengar reza yang baru saja menutup pintu


ia lalu kembali keruanganya dengan  perasaan bersalah jika benar itu adalah moment pertama untuk dinda


sore hari dinda pulang lebih dulu dengan menggunakna taxi online yang ia pesan sebelum jam pulang kantor. "keyla kamu boleh pulang saya juga akan pulang sekarang" ucap dinda pada asistennya


"baik bu" ucap keyla yang bahagia bisa pulang cepat kali ini


dinda mengendap-endap pulang agar tak bertemu dengan reza saat ini. tapi mungkin nasib baik sedang tak berpihak padanya saat masuk kedalam lift  "kenapa nunduk-nunduk bu jalanya" ucap reza yang lebih dulu masuk kedalam lift tanpa diketahui dinda

__ADS_1


"tidak tadi kaki ku terasa pegal, jadi aku berjalan pelan" dinda biungung harus beralasan apa


"apa perlu saya gendong?" tanya reza mulai berani menjahili dinda


"apa anda alih profesi pak reza!" ucap dinda sok galak padahal dalam hatinya mengharap


"tentu saja jika untuk wanita cantik! saya bisa berprofesi jadi apa saja" jawab reza melihat ekspresi wajah dinda yang terlihat gugup


"tenang saja tadi saya tak merasakan apapun" bisik reza didekat telinga dinda membuat dinda merinding


"jangan dekat-dekat nanti ada orang yang lihat bisa salah faham!" dinda dalam mode jutek


"saya tidak melakukan apapun jadi kenap orang harus salah faham" ucap reza santai ia tak takut pada anak dari bosnya itu


keduanya pulang dengan mobil yang sama, reza memaksa dinda untuk mau diantarkan dan membatalkan pesanan taxinya dan mengganti kerugianya.


dinda sampai di rumah mewahnya dan langsung menuju kamarnya. ia tak memperdulikan reza yang masih menatap ke arahnya. dari dalam kamar ia menuju balkon dan mengintip apakah reza sudah pergi atau belum. saat dinda membuka sedikit kain penutup jendelanya terlihat reza melambaikan tangan ke arah kamar dinda dan memberikan senyum terbaiknya.


dinda dengan cepat menutup kembali penutup jendelanya dan berjalan merebahkan dirinya ke ranjang miliknya

__ADS_1


__ADS_2