Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
ikut pergi


__ADS_3

rutinitas harian dinda berangkat ke kantor setelah sarapan dengan kedua orang tuanya, meski satu tujuan dengan papinya tapi dia tak mau berangkat bersama dan lebih memilih untuk diantar jemput oleh reza.


pagi ini lain dari biasanya reza menjemputnya dengan pakaian yang bukan untuk kekantor. reza mengenakan setelan baju casual yang menambah kadar ketampanan bak artis korea


"pagi non" reza biasa menyapa dinda dengan panggilan non atau bu saat berurusan dengan pekerjaan. dan dinda tak mempersalahnya hal itu ia memaklumi meski kadang tak nyaman


"pagi juga, pak reza belum mandi ya" ejek dinda padahal ia panas dingin melihat reza dengan wajah fres dan pakaian yang bukan formal. rasanya pingin peluk terus


reza mengemudikan mobilnya dengan pelan agar dapat lebih lama berada diperjalanan dengan dinda.


"pak tumben belum rapih, apa hari ini cuti?" tanya dinda bingung


"engga tapi saya ada kerjaan lain tidak dikantor jadi begini saja. bukan kah terlihat lebih tampan? lihat saja air liurmu hampir menetes menatapku!" bisa bisanya reza berkata seperti itu dengan wajah datar.


"astaga sepertinya pak reza harus kerumah sakit. orang yang terlalu percaya diri biasanya tidak waras!" ucap dinda mode jutek


"tapi orang kau sebut tidak waras ini bukankah yang kamu suka?" reza melirik sekilas ke wajah dinda.

__ADS_1


"terserah lah! pagi pagi bikin emosi aja" jawab dinda dan mulai memainkan ponselnya


"kau mau ikut bersama ku hari ini?" tanya reza pada dinda


"kemana? kau tau aku sangat sibuk jika pak reza lupa!" dinda jual mahal padahal ingin dipaksa ikut oleh reza


ayo dong dirayu biar aku ikut batin


"ya sudah kalau tidak mau, jangan menyesal nanti!" ucap reza


dinda meletakan tasnya di meja kerja dan duduk dikursi kerja miliknya. suara dering ponselnya didalam tas enggan untuk diangkat. hingga panggilan ketiga dinda dengan malas mengambil ponselnya. melihat siapa yang menghubunginya dengan segara ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya


"halo ada apa!" tanya dinda kesal karena reza pergi begitu saja tanpa merayu dinda agar ikut dengannya


"kenapa kesal, aku masih menunggu dibawah jika kau berubah pikiran! dalam waktu sepuluh menit jika tak turun aku akan pergi" reza menutup panggilan telfonya


dinda segera menyambar tas dan ponselnya lalu berlarian ke lift untuk turun kelantai dasar. dengan sekuat tenaga dinda lari dengan menggunakan sepatu heel yang cukup tinggi ia tak rela jika ditinggalkan reza begitu saja

__ADS_1


"tunggu!" ucap dinda yang pura-pura berjalan santai padahal nafasnya sedang tak beraturan


reza yang hendak masuk kedalam mobilnya terseyum melihat dinda datang menghampirinya.


"sudah ku duga" reza memutar membukakan pintu mobil disamping kursi kemudi


"silahkan nona manis" ucap reza dan dinda masuk kedalam mobil


"sebenarnya mau kemana sih, kenapa selalu saja dadakan jika ada pekerjaan luar kota!" dinda masih mengatur nafasnya


"kau akan tau nanti, ikut saja kau akan senang!" reza fokus dengan jalanan yang dia lalui keduanya menuju bandara


"kita mau kemana pak?" dinda melihat arah jalanya menuju bandara mendapat tatapan tajam dari reza. reza sangat membenci dinda memanggilnya pak saat sedang berdua


"iya mas maaf, kita mau kemana? kenapa kearah bandara" dinda melembut dengan pertanyaanya. tangan reza pun gemas dan mengusap puncak kepala dinda dengan lembut


"cukup nurut aja ya sayang" ucap reza berhasil membuat dinda memanas dengan panggilan yang diucapkan oleh reza barusan

__ADS_1


__ADS_2