Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Kado Spesial


__ADS_3

 reza memandangi wajah cantik istrinya dalam remang lampu, mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening dinda dengan lembut, diangkat tubuh langsingnya masuk kedalam kamar keduanya yang ternyata sudah didekorasi oleh dinda seperti kamar pengantin dengan hiasan kelopak bunga mawar membentuk hati diatas kasur


dengan pelan reza merebahkan tubuh dinda dikasur yang sudah dihiasnya, dinda memakai baju tidur tipis yang cukup sek*si berwarna merah maron yang kontras dengan kulit putihnya


"mas sudah pulang?" tanya dinda terbangun dari tidurnya karena merasakan sentuhan dibibirnya yang dilakukan oleh reza


"maaf mas membangunkanmu" ucap reza merasa bersalah


"ngga mas! mau mandi aku siapkan airnya dulu" ucap dinda beranjak dari ranjang tempat tidurnya


"mas bisa lakukan sendiri, kamu disini saja oke!" reza masuk kedalam kamar mandi


dinda keluar kamar mengambil kue dan juga menyalakan lilin lalu membawanya lagi ke kamar


"happy birth day, suamiku!" ucap dinda saat reza keluar dari kamar mandi


"terima kasih sayang, kenapa harus repot seperti ini hmm" reza mendekati dinda


"kamu ngga suka ya?" dinda terlihat tak bersemangat karena kejutanya seperti tak disukai suaminya


"suka banget dinda, tapi kamu jadi cape kan" reza tak tau harus berkata apa padahal sebenarnya ia sangat suka dan terharu oleh kejutan istrinya


"ya sudah ayo tiup lilinya" dinda menyerahkan kuenya pada reza, reza pun meniup lilin dan meletakan kuenya dimeja yang ada di kamar tersebut


"terima kasih sayang!" reza mengecup kilas bibir dinda yang cemberut "maaf ya mas telat pulangnya, tadi banyak yang perlu diurus, ini semua kamu yang buat?" tanya reza melihat sekeliling kamarnya

__ADS_1


"iya" dinda menjawab singkat


"ayo duduk dulu makan kue tercantik dari istri yang paling cantik" ucap reza menarik tangan dinda agar mengikutinya duduk disofa dekat rajangnya. senyum dinda mulai terbit lagi  memberikan pisau kue untuk memotong kuenya


reza memotong sedikit kuenya dan menyuapi dinda, lalu mendekatkan wajahnya ke istrinya memakan kue yang sama dimulut dinda yang masih ada diluar mulut dinda


"manis!" ucap reza singkat "kadonya mana?" tanya reza tak melihat bungkusan kado untuknya


"sebentar aku ambilin dulu" dinda hendak beranjak tanganya ditahan oleh reza dan kembali terduduk dipangkuan suaminya.


"mau kemana, kenapa mas ditinggalin?" reza memeluk erat tubuh istrinya yang saat ini duduk nyaman dipangkuanya


"katanya mau kado dari aku gimana sih!" dinda kesal dengan suaminya


tak mau menjawabnya reza membugkam bibir dinda dengan bibirnya, dinda terdiam menikmati dan reza pun melanjutkan aksinya menci*um dinda bibir keduanya kini saling bertautan semakin dalam dan mulai memanas. dinda yang awalnya diam kini membuka mulutnya dan mulai mengikuti permainan suaminya


"mas mau kado yang spesial" ucap reza dengan suara paraunya menahan sesuatu yang harus dituntaskan


"mas mau apa?" dinda menatap wajah reza yang sulit diartikan saat ini


tanpa menunggu lama reza mengangkat dan menggendong dinda menuju ranjang keduanya. merebahkan tubuh dinda dengan pelan dan mulai mengungkungnya, tanpa banyak kata reza menci*um kembali bibir istrinya dan mulai melepaskan kaos tipis yang dikenakannya.


dinda pun mulai gugup dengan suasana yang saat ini dia rasakan. ia takut karena ini pertama kali baginya tapi dinda juga tak mau menunda lagi untuk memberikanya kepada suaminya yang sudah sabar menunggunya.


"bolehkan mas minta kado ini" reza menanyakan kesiapan dari istrinya, dinda mengangguk mengiyakan permintaan suaminya yang memang sudah menjadi kewajiban baginya

__ADS_1


dengan senyum menyeringai reza melanjutkan kegiatan yang terhenti sejenak, kini tangan reza mulai berkelana ditubuh mulus istrinya. reza melepaskan baju yang dikenakan dinda yang kini hanya menyisakan pakaian da*lamnya saja, melihat itu has*rat reza makin membara dan tak menyia-nyiakan waktunya


ci*uman reza dari wajah dinda menurun ke arah leher jenjang dan putih dikecupnya berkali-kali dan meninggalkan bekas merah.  suara desa*han dinda terdengar merdu saat reza menyentuh bagian dida*da dinda, sentuhan  tanganya dan rem*as*an di benda kembar milik dinda


keduanya kini sudah menanggalkan semua pakaiannya dan tak tersisa sehelai benang pun menepel, reza memandang tubuh dinda penuh damba baru pertama bagi keduanya melihat apa yang saat ini ada didepan matanya


"mas aku takut" dinda tak sanggup menahan gugupnya saat ini


"tenanglah mas akan lakukan perlahan, ini juga pertama kalinya bagi mas" reza kembali mencu*bu dinda  agar tak gugup saat dinda terlihat menginginkanya, reza mulai mengarahkan benda sakti miliknya dengan perlahan kedalam lubang buaya milik dinda, perlahan dan pasti meski cukup sulit akhirnya benda sakti itu memasuki tempatnya


dinda menetesakan air matanya saat merasakn perih dibagian intinya saat sesuatu yang masuk menerobosnya. namun dengan pelan reza mengerakkanya dan juga bibirnya pun tak tinggal diam menye*sap benda bulat di gunung kembar dinda


rasa perih dan sakit yang dinda rasakan kini berubah jadi rasa nik*mat yang membuat des*ah*anya kembali keluar dari mulutnya, dinda menger*ang saat merasakan sensasi yang akan keluar dari tubuhnya yang bergetar


melihat wajah dinda reza pun mempercepat gerakannya dan keduanya menuntaskan has*ratnya menuju puncak bersama, dikecupnya wajah dinda bertubi-tubi rasa bahagia dan lega dirasakan keduanya


tubuh yang dipenuhi dengan keringat di tengah malam yang dingin, sekitar satu jam keduanya bergulat dengan kegiatan olahraga malam


"terima kasih kado terindahnya sayang" reza mencecup kepala dinda penuh kasih


"iya mas" dinda mendekap tubuh reza yang masih polos tanpa apapun dengan rasa malu diwajahnya


reza mengangkat tubuh dinda dan membawanya kekamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa kegiatanya tadi, setelah itu keduanya langsung tidur lelap karena rasa kantuk dan lelahnya


pagi harinya dinda seperti biasa terbangun lebih dulu lalu menyiapkan sarapan dan juga baju kerja untuk suaminya. saat akan beranjak dari tempat tidurnya dinda merasakan perih dibagian intinya dengan perlahan ia berjalan kekamar mandi dan berendam dengan air hangat untuk mengurangi rasa sakitnya

__ADS_1


keluar dari kamar mandi dinda mendapati suaminya masih tertidur sangat pulas, melihatnya membuat dinda sangat malu mengingat kejadian semalam namun juga ada rasa senang menyerahkan mahkotanya pada lelaki yang sangat dicintainya


__ADS_2