Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Malu


__ADS_3

sore hari keduanya bangun dan mandi bersama tanpa kegiatan lain karena takut ditunggu oleh orang tuanya diluar.


"mas duluan keluar aja, aku mau nutupin bekas kamu nih susah banget" ucap dinda kesal karena banyak sisa kegiatanya tadi bersama suaminya yang menimbulkan warna merah


rezapun menuruti keinginan istrinya dan menemui mertuanya yang sedang santai duduk berdua dibalkon dekat ruang tamu apartemen reza.


"sore pi, mi" reza menyapa mertuanya dan ikut bergabung duduk disofa yang cukup panjang


"sore, dinda kemana za?" tanya mami ana


"lagi mandi mi, sebentar lagi keluar" jawab reza malu mengakui jika kedua pasangan itu mandi bersama


papi tirta dan reza membahas masalah bisnis yang akan dikerjakan oleh keduanya, karena akan menjalin kerjasama antara kedua perusahaan dan menambah cabang diluar negeri. sementara dinda datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan dua cangkir teh untuk para lelaki dan wanita


"gimana sayang  betah disini?" tanya mami ana yang sedikit khawatir pada anak perempuanya yang kini jauh tinggalnya


"betah mi, mami tania dan dady baik banget sama aku. terus mas reza juga sangat perhatian" bisik dinda didekat mami ana agar suaminya tak menjadi geer mendengarnya


"syukurlah, mami lega mendengarnya mami harap kalian selalu rukun dan juga bahagia, satu lagi cepet bikin momongan yang banyak buat kami para orang tua" ucap mami ana yang tersenyum menyeringai karena melihat sekilas tanda merah di dada dinda yang terlihat saat bajunya tersingkap angin


dinda yang merasa aneh dengan senyuman maminya memeriksa bagian tubuhnya dan ada satu karya suaminya yang tadi tak terlihat dan tak ia tutupi dengan bedak, dinda berfikir itu akan tertutup baju nyatanya maminya malah mengetahuinya


dinda yang terlanjur malu pura-pura tak mengerti senyuman maminya dan mengalihkan pembicaraan.


acara makan malam akan diadakan di rumah orang tua reza yang sudah disiapkan oleh mami tania. keempatnya berangkat dari apartemen reza dan dinda dengan menggunakan mobil.

__ADS_1


reza menyetir dan ditemani oleh papi tirta. dinda dan mami ana duduk dibelakang


"za mampir ke toko kue dulu ya, mami mau beli sesuatu buat tania" ucap mami ana


"iya mi, nanti dekat rumah ada toko kue langganan kami" jawab reza pada mertua wanitanya dan melajutkan lagi perjalanannya


tak berapa lama tiba dikediaman orang tua reza yang sebelumnya sudah membeli kue ditoko langganan keluarga reza,


"hai sudah datang, ayo masuk" ajak mami tania dan mami anaa menyerahkan kue kesukaan besannya


"gimana kabarnya pak tirta?" tanya dady farhan pada besan lelakinya


"sangat baik, sepertinya pak farhan juga begitu" jawab papi tirta


selesai kegiatan makan malam dilanjut dengan ngobrol bisnis anatar lelaki dan acara ghibah untuk kaum hawa


"tania sepertinya tak lama lagi kita udah punya cucu loh" mami ana memulai pembicaraan dari apa yang dia lihat tadi


"benarkah, syukurlah kalau begitu semoga saja kembar jadi aku satu kamu satu  gitu ya" ucap mami tania


keduanya sangat bersemangat membahas calon cucu, sedangkan yang dibicarakan asik dengan ponselnya


"dinda apakah anak mami membuatmu kelelahan?" tanya mami tania kencang hingga terdengar oleh reza yang menjadi tak fokus dengan pembicaraanya tentang kerjaan


"Ngga mam, orang mulaia besok sudah ada art yang akan bantuin dinda, jadi kalian tenang saja" jawab dinda polos membuat reza tersenyum mendengar jawaban istrinya yang baru tadi pagi mengeluh kelelahan

__ADS_1


"maksud kami bukan itu dinda!" tegas mami ana "tapi itu" tunjuk mami ana pada leher dan dada dinda yang memiliki banyak maha karya dari suaminya


"mami!" dinda berteriak kesal karena maminya sendiri membuatnya malu didepan mertunya. meski umurnya sudah dewasa tapi dinda merasa aneh dengan pembahasan seperti ini


kedua maminya tertawa bersama menindas anaknya, sementara reza santai saja tak merasa malu justru bangga sudah  bisa menanggalkan statusnya


malam semakin larut mami tania meminta agar besan dan anaknya menginap dirumahnya untuk malam ini, mami tania merasa senang karena rumahnya ramai, dan semua menuruti kemauan mami tania


"sayang ayo tidur sudah malam" reza mengajak istrinya masuk ke kamar


"duluan aja mas, dinda masih pingin ngobrol dulu" ucap dinda tak mau jadi bahan ledekan maminya


"dinda!" suara tegas papi tirta membuat dinda beranjak dan menyusul suaminya


para orang tua pun geleng-geleng kepala dan smuanya menuju kamar masing-masing


"mas ihh, aku kan jadi bahan ledekan mami gara-gar mas bikin banyak banget begini" kesal dinda saat menujukan beberapa bekas ulah suaminya


"hahhaha" bukan takut istrinya marah malah reza tertawa


"mana coba mas lihat" reza mengecek sparah apa perbuatanya dan dinda dengan polosnya membuka bajunya yang masih meninggalkan tangtop dibadanya sambil menunjukan yang membuatnya malu


reza memeluk istrinya yang makin imut saat mode juteknya muncul. " maaf ya mas kelepasan, habis en*ak sih" jawab reza mendapatkan pukulan dari dinda


keduanya pun memutuskan untuk tidur karena waktu sudah larut

__ADS_1


__ADS_2