
"dad, mam kami pamit mau pindah ke apartemen mulai malam ini, jangan memikirkan apapun ini sudah reza rencanakan saat sebelum menikah" reza berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pindah, selain memberikan kenyamanan bagi istrinya reza juga ingin menghabiskan waktunya berdua saja sebagai pasangan suami istri baru
"tapi re mami masih ingin bersama menantu mami!" mami tania tak terima mantunya dibawa pergi
"nanti kami sering kesini mam, dan dinda juga harus belajar mandiri" jawab reza
dinda memeluk mertuanya " kita masih bisa shopping bareng mam dan jalan berdua" ucap dinda menghibur
"mami sudahlah mereka kan baru menikah pasti butuh banyak waktu untuk berdua" ucap dady farhan
dengan berat hati dan sedikit drama kedua wanita itu akhirnya mau untuk berpisah sementara. reza mengemudikan mobilnya ke apartemen yang belum lama ini ia sewa untuk tinggal berdua dengan istrinya.
reza tak memutuskan membeli apartemen karena tak berniat tinggal selamanya disana
tiga pulun menit waktu yang dibutuhkan untuk keduanya sampai diapartemen yang akan ditempati
"kita sampai sayang!" ucap reza memarkirkan mobilnya dan mengajak dinda untuk masuk ke dalam kamarnya
"bagaimana? kamu suka tempatnya?" tanya reza saat tiba disebuah apartemen
"bagus mas, bersih dan pas untuk kita tak terlalu besar atau pun kecil. jadi tak repot aku membersihkanya" ucap dinda sambil berkeliling
"ayo kita lihat kamarnya!" ajak reza menarik tangan dinda melihat kamar yang akan ditempati mereka berdua
"kamu tak perlu repot membersihkannya setiap hari, nanti akan yang datang kesini setiap pagi untuk membantumu" reza tak mau istrinya kelelahan
"tak perlu seperti itu mas, aku bisa melakukannya sendiri! dulu saat kuliah juga aku pernah tinggal sendiri" dinda tak mau diremehkan masalah pekerjaan rumah
"tapi kau hanya perlu mengurusi suamimu saja, dan itu akan cukup menguras tenagamu nanti" ucap reza datar
dinda sibuk membereskan bajunya dari koper ditaruh dilemari, dan tak menghiraukan perkataan suaminya
tangan besar menyelinap diperut dinda membuatnya kaget.
"mas! membuatku kaget saja!"
"kau harus terbiasa sayang! jadi apa persiapanmu untuk malam ini?" reza membalikan badan dinda dan menatapnya
__ADS_1
"persiapan apa mas? emang kita mau ngadain acara apa!" dinda bingung
"bukankah sudah saatnya? kau sudah selesai dengan tamu mu kan?" ucap reza menyelidik
"astaga! mas aku kira apaan" dinda memukul lengan suaminya belum tau maksud terselubung ucapan reza
"aaww sakit din, kamu menyakiti suami perjakamu ini hmm?" reza mengembil baju dan berlalu kekamar mandi
sedangkan dinda masih memikirkan kata suami perjaka yang diucapkan reza, dinda tersenyum bahkan sampai saat ini dia pun masih tersegel
dinda membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam, apa yang harus dia lakukan. sebagai wanita yang cukup dewasa dinda tentu tau kewajibannya sebagai istri
selesai dengan kegiatanya dinda menuju dapur, ternyata dikulkas tak ada apapun untuk dimasak
"mas kita mau makan malam apa? tak ada bahan apapun untuk dimasak!" dinda mengatakan pada suaminya yang baru keluar dari kamar mandi
"kita pesan dari luar saja, besok baru kita belanja setelah mas pulang dari kantor" reza menghampiri dinda yang duduk disofa depan tv
reza mengecup puncak kepala istrinya dan merangkulnya untuk bersandar di bahunya.
"mas apa kita akan lama disini?" tanya dinda menatap wajah tampan reza
"hmm bukan hanya bertanya saja, nanti kalau sudah tidak sibuk ajak aku jalan-jalan ya. sudah sangat lama aku tak liburan kenegara ini" ucap dinda dengan sangat manis
"tentu saja kemana pun istri mas inginkan, tapi mas harus bereskan urusan kantor" reza mengusap punggung dinda yang masih bergelayut manja ditubuhnya. rasa tak percaya reza bisa mendapatkan anak dari bosnya
reza yang dulu trauma akan masalah percintaan dengan hadirnya dinda kini demi sedikit percaya lagi dengan cinta itu
"mas kapan makananya datang, aku sudah lapar!" dinda mengeluh manja pada reza yang jarang sekali terjadi. mungkin karena sedang berdua saja atau keduanya semakin merasa nyaman
"jadi istriku kalau lagi lapar jadi lembut gini, apa mas buat kamu lapar setiap hari biar makin manis!" reza mengejek istrinya
"benar- benar menyebalkan sekali" dinda kesal dan pergi meninggalkan reza masuk kedalam kamarnya.
"din! mau kemana?" reza mengambil ponselnya dan mengecek pesanan makanannya ternyata salah alamat. reza mengetikam alamat rumah orang tuannya
reza mengikuti istrinya ke kamar "din mas salah kirim alamat tadi saat pesan makanan. kita mau makan diluar saja apa mau pesan ulang" tanya reza mendekati istrinya yang juga bermain dengan ponselnya
__ADS_1
"pesan aja mas aku males keluar lagi" ucap dinda sibuk berbalas pesan dengan mertuanya yang mengatakan ada pesanan makanan dari reza
keduanya terdiam dan masih sibuk dengan ponselnya masing-masing. sesaat reza meletakan ponselnya dinakas dan duduk diranjang disamping istrinya
"kamu sudah lapar banget ya! mas keluar dulu ya belikan makanan agar cepat" reza kasihan melihat istrinya
"ngga usah mas, udah pesan kan nanti sayang ngga dimakan" dinda menaruh juga ponselnya
keduanya saling menatap dan entah apa yang dipikirkan masing-masing yang jelas saat ini baik reza maupun dinda merasakan getaran dihatinya
tanpa kata kata reza mendekatinya dinda wajah keduanya semakin menepiskan jarak keduanya
bibir reza mengecup kening istrinya lalu turun ke kedua pipinya dan bibir tebal milik dinda, sentuhan yang lembut dan menuntut bagi keduanya untuk melakukan yang lebih
reza melu*mat bibir dinda dengan semakin dalam, tanganya pun tak tinggal diam ikut mencari sesuatu yang ada dibalik kaos tipis yang dinda kenakan.
rasa yang sudah tertahan begitu lama dan menyiksa reza kini ia tumpahkan. dinda mulai merasakan keni*km*tan buaian suaminya. yang selama ini tak pernah ia rasakan sebelumnya
reza membuka bajunya dan membuang kesegala arah membuat dinda semakin memamas, udara yang dingin tak menjadikan kamar keduanya membeku justru sebaliknya
"apakah sudah bisa?" tanya reza dengan suara paraunya yang sudah sangat berga*rah
dinda mengangguk menandakan ia sudah selesai dengan tamu bulanannya. ada rasa takut dihatinya yang nampak terlihat dari wajahnya
"tenang lah ini juga pertama kalinya bagi mas, kita akan lakukan perlahan!" ucapan reza membuat dinda sedikit lega dan tenang keduanya akan melakukan yang pertama
dinda mengangguk lagi dan tak menunggu lama reza melepaskan juga kaos yang dikenakan dinda. menyisakan tangtop yang masih menutupi pakaian da*lamnya
reza memulai lagi menautkan bibirnya, tangannya kini mulai aktif menyentuk benda kenyal milik dinda yang sudah sangat menggodanya, tak terlalu besar tapi pas menurut ukuran reza
dinda mulai meracau merasakan sentuhan dan rem*san tangan besar reza.
"ahhh" suara des*han dinda mulai terdengar begitu merdu ditelinga reza
ting tong! ting tong!
suara bel berbunyi, awalnya reza tak peduli namun suara itu terus menggangu dan dinda menyuruh reza untuk melihatnya
__ADS_1
reza menyahut baju dan memakainya kembali dengan wajah kesalnya. siapa yang berani menggangu aktivitas yang sangat ia nantikan