
"bu silahkan kalau mau mengecek kondisi bagian dalam rumahnya" ucap dion saat dinda sedang berbincang dengan salah satu pekerja yang berkonsultasi dengan dinda untuk masalah warna cat rumah
"sebentar saya selesaikan ini dulu" jawab dinda dan melanjutkan diskusinya
warna yang dipilih dinda adalah hijau mint, selain warna hijau yang terlihat sejuk dinda juga menyukai warna itu
dinda berjanji akan membuat rumah ini menjadi hasil karya terbaik sesuai impianya
karena dinda tahu reza sudah memiliki apartemen yang selama ini ia tinggali. dan juga rumah almarhum ibunya yang sangat besar hanya ditinggali oleh dion yang masih sepupu dari reza
juga beberapa asisten rumah tangganya
"pak warna yang ini lebih cocok untuk luar nanti yang dalam saya cek dulu untuk warna catnya" ucap dinda pada tukang yang bekerja
"baik bu"
dinda mengikuti langkash dion sedang reza masih sibuk menerima panggilan dari dady nya yang mengabarkan perkembangan perusahaan beberapa hari ini
pak alex berkunjung sebagai sahabat dan juga memulai kembali silaturahmi yang sudah diputuskan olehnya
awalnya reza tak setuju dengan dadynya karena bisa saja itu hanya tipuan pak alex saja
tapi pak farhan sudah mempersiapkan segala kemungkinan jika alex sampai berani berbuat curang lagu padanya
__ADS_1
reza mengakhiri panggilan telfonya pada sang ayah dan mencari keberadaan istrinya
"sayang...dinda kamu dimana!" teriak reza saat tak melihat istrinya yang tadi masih berada tak jauh dari dirinya
"aku disini mas!" jawab dinda kencang berada dibalkon rumahnya bak putri kerjaan dengan pesona kecantikan alami
"hati hati sayang, tunggu disana mas akan naik" ucap reza melangkahkan kakinya kelantai atas dimana dinda berada
"mas coba lihat deh kamarnya luas banget pasti ini kamar utamanya kan, kaya kamar mami dan papi" dinda menunjukam pada reza dengan antusias
"iya" singkat jawaban dari reza takut keceplosan sekarang dirinya merasa tak tega
sudah ingin sekali.mengatakan ini milikmu dinda
setelah berkeliling dan mencatat apa saja yang dibutuhkan dan juga mempertimbangkan barang yang cocok untuk.mengisi rumah tersebut
sementara reza bisa sambil memantau pekerjaanya. semua keputusan dinda menjadi keputusannya juga jadi apapun yang diinginkan istrinya akan dikabulkan
"hari ini cukup kita pulang dulu. besok lanjut lagi" ajak reza
"dion kamu bisa kembali kekantor lusa saya akan mulai bekerja lagi jadi laporkan setiap perkembanga yang terjadi" ucap reza sebelum pergi meninggalkan rumahnya
"ayo!" reza menggandeng tangan dinda mengajaknya mengendari motor yang tadi keduanya gunakan
__ADS_1
"mas mau makan rujak" tiba tiba dinda merasa lidahnya ingin mengecap asam pedas rujaknya
"kita pulang dulu, ambil mobil baru cari yang kamu mau" ucap reza namun mendapat penolakan dari istrinya
"engga! aku maunya keliling pake motor aja" rengek dinda bak anak kecil
"jauh sayang, ini panas!" ucap reza
"ya udah kalau ngga mau aku pergi sendiri" ucap dinda saat sudah tiba dirumah orang tuanya
dinda hendak mengambil motor dan ingin pergi sendiri
"tunggu! ya sudah mas antar" reza merasa aneh dinda yang biasa menurut kini membantah ucapan suaminya
keduanya keliling komplek tak ada penjual rujak disana. reza melajukan motornya lebih jauh keluar dari area perumahannya
"dimana biasa ada tukang rujak din?" sudah lama berkeliling belum bertemu juga dengan keinginan istrinya
"ya ngga tau kok tanya saya" ucap dinda jutek
"kaya pernah dengar kata-kata itu mas, tapi dimana ya?" ucap reza
"itu mas!" tunjuk dinda pada tukang jualan kaki lima dan diantaranya adalah tukang rujak
__ADS_1
"iya akhirnya ketemu juga. tapi kita makan dirumah ya! kamu belum makan jadi jangan makan yang pedas dan asam" pesan reza pada dinda
"oke!" wajah juteknya mulai mencair mendapatkan yang diinginkan