
reza menjelaskan semuanya pada dinda dan juga tentang perusahaan yang sedang bermasalah, dinda mendengarkan namun tak mau berkomentar dan mengeluarkan sepatah kata pun. dinda masuk kedalam kamar yang lain yang ada diapartemen reza.
dinda mengeurung diri ia tak tau apa yang harus dia perbuat, rasa cinta yang mulai tumbuh pada hatinya kini harus hancur lagi-lagi oleh orang ketiga.
"kenapa harus terjadi lagi, kenapa harus padaku lagi" dinda menagis dan mengeluarkan suaranya dalam tangisnya
reza mendengarkan isak tangis istrinya merasa sesak dan berslah mengapa tak jujur saja dari awal.
reza menyalahkan dirinya yang menganggap jesika tak akan berani menyentuh istrinya, nyatanya dirinya gagal melindungi dinda seperti yang dijanjikannya pada sang mertua
ia pun menangis dan sangat marah pada jesika, ingin sekali menghabisinya sekarang juga karena membuat orang yang paling ia cintai saat ini sangat terluka
reza mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mencari tahu siapa saja yang melewati atau mencurigakan didepan apartemennya.
sementara itu dinda yang kelelahan menangis sudah tak bersuara dalam kamar ketiduran dilantai sambil memeluk lututnya
__ADS_1
"dinda
din
sayang, tolong bukakan pintu mas din, mas mohon dengarkan dan percaya sama mas"
reza mencari kunci cadangan dan membuka pintu kamar dinda
"astaga dinda" reza berteriak meilhat dinda terkulai lemas dilantai reza mengangkat tubuh dinda dibawanya kerumah sakit
setelah dinda mendapatkan perawatan orang tua reza datang, akhirnya reza bercerita pda orang tuanya apa yang terjadi pada dinda dan yang sudah dilakukan jesika, mami tania juga menceritakan jika sebelumnya dinda dan jesika pernah bertemu dan jesika tau jika dinda istri dari reza
reza makin prustasi dengan apa yang didengarnya, kenapa maminya tak bercerita lebih awal
dokter memanggil suami dari pasien karena dinda mulai siuman dan sadarkan diri, saat dinda melihat reza ia memalingkan wajahnya tak mau menatap suaminya. rasa sakitnya masih melekat pada ingatan dan matanya saat melihat reza.
__ADS_1
tangisnya kembali pecah "tolong tinggalkan aku sendiri!" dinda membelakangi reza agar tangisnya tak terlihat dinda tak mau terlihat lemah
"sayang, ini mami" mami tania mendekati dinda dan memelukanya, menenangkan dinda dengan mengusap-usap punggungnya. sementara dady farhan mengajak reza untuk bicara diluar
"mami, dindaa" ucapan dinda tak bisa dilanjutkan
"sudah sayang, mami ada disini kamu tenang ya kita selesaikan ini semua baik-baik. mami yakin ada yang sengaja membuat kalian ingin terpisah. tenangkan dulu hatimu mami akan selalu ada buat kamu" mami tania mengecup wajah dinda dan ikut merasakan rasa sakit yang dialami dinda
dinda mulai tenang melepas pelukannya pada sang mertua "terima ksih mam, dinda harus bagaimana sekarang?"
"jangan lakukan apapun saat hati tak tenang, ambil keputusan saat hati sudah dingin apapun keputusanmu mami akan dukung, tapi untuk sekarang paling penting adalah jaga kesehatan dan juga tetap berfikir positif" mami tania menasehati dinda agar tak menyesal kemudian hari karena salah mengambil keputusan
"iya mam, dinda tak mau ketemu suami dinda sekarang bisakah dinda ikut mami pulang, besok dinda fikirkan untuk selanjutnya" pinta dinda
"tentu saja sayang, apapun buat anak mami akan mami lakukan" mami tania mengurus administrasi agar dinda bisa pulang dan dinda diizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik
__ADS_1
tiba dikediaman orang tua reza, reza masih mencari tahu bagaimana bisa jesika tau tempat tinggalnya dan juga bisa masuk kerumahnya.