
dinda menggelengkan kepalanya karena tak kuasa untuk bicara
"bukan mas!" jawan dinda lalu memeluk suaminya dengan deraian air mata
rasanya baru kemarin dia sangat bahagia karena mendapatkan suatu anugrah yang paling indah tapi hari ini dinda masih meyakinkan diri
rumah yang memang menjadi impiananya sejak awal. meski sempat sedikit kecewa saat tahu rumah itu milik orang lain
semua berbanding terbalik bagaikan mimpi dalam tidur dinda
"sudah sayang jangan terus menangis kasihan anak kita lihat mamanya menangis!" reza merenggangkan pelukan pada istrinta dan mengusap air mata yang masih ada dalam pipinya
"kalau ngga suka kita beli rumah baru yanh sesuai keinginan kamu, atau masih mau dirumah mami mas ngga masalah tapi jangan nangis lagi ya" reza menatap wajah istrinya
dinda menggangguk karena masih belum bisa mengatakan apapun
"dinda suka banget mas ini kejutan yang bertubi tubi bagi dinda" ucap dinda setelah merasa sedikit tenang
"dinda cinta sama mas" ucap dinda lagi
reza tersenyum sangat lebar mendengar ucapan keramat dari sang istri
tak disadari keduanya ada orang lai yang sedang berada disana juga mengamati apa yang dilakukan keduanya
"mas nanti kita beritahu mami tania dan mami ana. mereka akan segera jadi oma" ucap dinda mengelus perutnya yang masih rata
__ADS_1
"apa!" suara kencang mengejutkan dinda dan reza
"mami! papi" ucap reza dan dinda bergantian
"dinda kamu hamil sayang!" mami ana mendekat dan memeluk dinda dengan erat
tangisan kembali pecah rasanya baru kemarin dia melahirkan dinda sekarang dinda sudah akan menjadi calon ibu
"sayang benarkah itu!"tanya papi tirta
reza pun mengangguk menandakan ucapan papinya benar
sebelumnya reza mengabari jika keduanya akan tiba pagi dan langsung menuju rumah baru. untuk memberikan kejutan pada sang istri
kali ini semua bahagia tangisan yang tercipta adalah rasa haru bukannya kesedihan
"iya mi nanti setelah kami pindah dirumah ini" jawab reza
"kenapa papi dan mami ngga kasih tau dinda kalau ini rumah buat dinda. harusnya dinda beli isi rumah dengan yang jauh lebih mahal lagi!" ucap dinda
"kalau kamu tahu bukan surprise namanya dinda!" jawab reza
dinda mencibikan bibirnya kesal tapi juga senanh rumah impiannya kini adalah miliknya. dia sangat bersyukur mendapatkan suami yang selalu tahu apa keiingannya tanpa dinda ucapkan
"dinda mau lihat dapur dan kamarnya!" dinda hendak berlari tangannya ditarik reza
__ADS_1
"sayang! pelan pelan" reza mengingatkan
"ups lupa" dinda menyeringai
bersama orang tua dan suaminya dinda berkeliling rumah. dapur akan menjadi tempat favoritnya menurutnya semua desain yang dinda inginkan tertata rapih pada tempatnya
"makasih mas" dinda mengecup pipi suaminya tanpa malu
"kalian sudah berintahu mami tania?" tanya mami ana
"belum mi, nanti setelah kami beristirahat" jawab reza
"baiklah. sebaiknya berita bail segera diberitahukan pasti mereka juga sangat bahagia" mami ana mengingatkan
"besok akan ada dua orang yang bantu dirumah ini. kalau untuk urusan kebun sebaiknya pak ujang saja cukup nanti mami yang akan bantu" saran mami ana
"iya mi, terima kasih " ucap reza
mami ana memang senang dengan kegiatan berkebun jadi baginya semakin luas lahannya akan membuatnya semakin bahagia
bukan karena tak mampu menambah asisten lagi. sedangkan reza juga bersyukur memiliki mertua yang sayang dan juga support untuk hal apapun
"kalian istirahat dulu nanti sore mami kesini lagi kita makan malam bersama" ucap mami ana
semuanya setuju dan reza mengajak dinda untuk ke kamar utamanya
__ADS_1
kamar utama dinda dan reza