
"pagi mami pagi papi" dinda masuk kedalam rumahnya yang terasa sangat lama ia tinggalkan padahal baru dua hari saja
"pagi pi, mi" ucap reza mengikuti dinda masuk
"pagi anak-anak mami sudah pulang, kenapa cepat sekali?" pertanyaan macam apa yang dilontarkan oleh mami ana
"mami ini bicara apa? anak pulang kok nyambutnya begitu" ucap papi tirta yang baru kali ini seperti membela dinda, dinda merasa senang dan memeluk papinya
"ayo za ikut papi kehalaman belakang" ajak pak tirta membuat dinda mencibikan bibirnya
"ternyata ngga berubah ya papi" kesal dinda
"sudah sayang ayo bersiap mami bantu, bukankah kalian akan berangkat sebentar lagi?" ucap mami ana
"iya mi, sekitar jam satu kita akan berangkat" ucap dinda naik kekamarnya dan diikuti sang mami
mami ana mengecek leher anaknya memutar menyibakan rambut panjang dinda seperti mencari sesuatu
"ada apa sih mi?" dinda yang bingung dengan sikap aneh ibunya
"kenapa tak ada bekasnya sama sekali, apa reza sepolos itu?" mami ana masih mengamati dinda dengan penuh curiga
__ADS_1
"maksud mami apa sih dinda ngga ngerti" ucap dinda makin penasaran
"kalian bisa kan?" pertanyaan aneh yang makin membuat dinda kesal
"mami ini kalau bicara yang jelaa dong mi, dinda ngga ngerti apa yang mami katakan" dinda kesal
"semalam kalian sudah unboxing kan, sudah buat cucu buat mami?" kali ini pertanyaan mami ana membuat dinda menganga
"mami!" dinda memukul lengan maminya dengan keras
"apa sayang mami kan hanya bertanya mungkin saja kalian sama sama polos jadi tidak tahu caranya!" mami ana yang biasa lembut pun ikut menaikan nada suaranya
"maaf ya sayang mami terlalu bersemangat, jadi semalam berapa ronde kok jalanmu biasa saja!" lagi lagi mami ana penasaran
"dinda sama suami dinda ngga ngapa-ngapain mi! sudahlah jangan bahas itu lagi" dinda kembali mengemas baju yang akan dia bawa keluar negeri
"apa! kalian ini masih normal kan?" mami ana menatap curiga. mana ada sepasang pengantin baru dan dalam kamar yang sama tapi tak melakukan apapun
"mami kenapa sih, hari ini ngegas terus. dinda sedang datang bulan mi jadi kami hanya tidur saja semalam" jawab dinda tegas membuat mami anak lega. pasalnya mami ana takut karena anaknya sudah lama jomblo takut berbelok
"ohh seperti itu! mami lega sekarang. mami pikir kalian ada yang berbelok" ucap mami ana
__ADS_1
dinda tak menjawab lagi karena baginya hari ini maminya terasa sangat menyebalkan. maklum lah dinda anak tunggal dan kedua orang tua dinda sudah lama menginginkan seorang cucu
tak lama ada yang mengetuk pintu dan munculah sosok suami dinda yang masuk kedalam kamar dinda. baru pertama kali bagi reza masuk kedalam kamar istrinya itu
"nak sudah ngobrolnya dengan papi?" tanya mami ana
"sudah mi, reza mau membantu dinda berkemas barang" ucap reza tak melihat jika sudah ada lima koper penuh dengan berbagai macam isi didalamnya
"ini sudah seleasai mas, kenapa terlalu cepat kau datang!" sindir dinda
mami ana keluar dan membiarkan sepasang pengantin baru itu berduaan
"ohh istri mas ngambek ya? maaf ya din mas telat bantunya" ucap reza memeluk dinda dari belakang. wajah dinda kini bersemu merah
"mami ngapain disini?" tanya papi tirta yang sedang melewati kamar anaknya dan melihat istrinya sedang berada disamping pintu kamar dinda
dengan cepat dinda membuka pintu kamarnya dan melihat papi dan maminya berada didepan pintu
"kalian ngapain disini?" tanya dinda menatap mami dan papinya
"ahh mami lupa tadi mau bilang apa sama kalian, nanti saja jika mami ingat" mami ana segera melangkah kakinya menjauh dari tempat kejadian perkara karena merasa malu
__ADS_1