
hari ini tepat empat bulan usia kandungan dinda, dan jadwalnya siang nanti dinda akan chek bulanan untuk calon sang buah hati
"mas kalau sibuo dinda pergi sendiri aja ngga apa apa kok!" ucap dinda yang melihat suaminya sedang banyak pekerjaan
dimeja kerjanya tumpukan berkas hingga menutupi reza
"tidak ada kata sibuk untuk kamu dan anak kita! jam berapa kita berangkat? atau dokternya saja yang suruh datang!" ide reza agar dinda tak perlu repot pergi kerumah sakit
"mas jangan mulai deh!" dinda kesal kalau suaminya merepotkan orang lain hanya karena punya banyak uang
"iya sayang maaf, mas siap siap dulu ya kamu tunggu dulu disini!" reza meninggalkan pekerjaanya dan bersiap untuk mengantar dinda
sudah empat bulan pula lamanya reza pindah kantor dirumah. terasa berbeda dan cukup sulit tapi dilakukannya dengan senang hati
**
"siang dokter!" sapa dinda ramah saat antreannya sudah waktunya dinda yang bertemu dokter
"siang ibu dinda silahkan duduk! pak reza apakabar?" ucap dokter yang sangat mengenal baik ayah dinda
"kami baik dokter terima kasih!" jawab dinda dan reza pun mengangguk tersenyum pada dokter
__ADS_1
membenarkan apa yang diucapkan dinda
"ini sudah masuk trisemester kedua ya bu, mari saya periksa" dokter mengajak dinda keruang periksanya
"baik dokter!" dinda menurut mengikuti dokter dari belakang
dengan pelan dinda naik ke tempat pemeriksaan
"mas coba lihat deh!" dinda memanggil reza untuk melihat calon buah hati keduanya yang terlihat mulai membesar seiring usia yang bertambah
selesai pemeriksaan "apa ada keluhan bu?" tanya dokter
"sampai saat ini syukurnya tidak ada dokter, bagaimana perkembangannya?" dinda sedikit trauma dengan kehamilannya yang pertama
"lalu dok, apakah tidak apa apa jika..
..kami melakukannya?" pertanyaan dari reza yang penasaran
hampir empat bulan ini reza tak mau melakukannya meski dinda bilang tak masalah. reza takut membuat dinda lelah dan mengganggu janin yang dikandung
"ohh itu tidak masalah pak selama tidak ada keluhan apapun dari sang ibu. justru akan semakin bagus saat kehamilan tua nanti pak!" ucap dokter yang sepertinya tau kekhawatiran dinda
__ADS_1
dinda sebenarnya malu dengan pertanyaan reza. namun agar tak menjadi perdebatan dinda membiarkan reza menanyakannya
"baik dokter terima kasih penjelasannya! selamat siang dok" ucap reza berpamitan setelah semua pertanyaan dan keraguan telah disampaikan
yang ia tahan sendiri selama ini, bukan hal yang mudah melawan rasa inginnya pada sang istri yang sekarang terlihat lebih mengg*da saat hamil karena tubuhnya makin berisi
tiba dirumah dinda duduk disofa menyalakan tv. "bik wati tolong ambilkan air putih dingin ya bi" perintah dinda pada asisten rumah tangganya
reza juga ikut duduk disamping istrinya "sayang berarti boleh ya nanti malam!" ucap reza ragu
"sekarang juga boleh mas!" ucap dinda asal tak tau jika singa disampingnya sudah siap menerkam
"jangan menggoda mas dinda!" kesal reza yang mendengar ucapan istrinya bak ajakan yang menggiurkan
"lah mas denger sendiri kan apa kata dokter!" dinda mengingatkan
tak menunggu lama reza mengangkat tubuh dinda membawanya ke kamar dengan segera
dengan pelan membaringkan dinda diranjang besar miliknya. memulai sesuatu yang sudah terpendam lama
disiang yang panas terik diluar, tak kalah panas dikamar dinda dan reza
__ADS_1
pendingin ruangan pun tak mampu memadamkan hasr*at keduanya
reza tergeletak lemas dan akhirnya puasanya dibuka dengan sangat manis