
reza selesai dengan pekerjaanya lalu kembali ke kamar hotel miliknya. membuka pintu kamar dan melihat sekelilingnya tak nampak dinda dimanapun.
"dinda!"
"dinda kamu dimana?"
"dinda" sampai panggilan ketiga tak ada sahutan reza panik setengah mati. saat akan menghubungi seseorang tiba-tiba dinda muncul dibalik balkon kamar milik reza
"panik ya?" dinda tertawa lepas melihat wajah merah reza karena panik
"ngga lucu din, kalau kamu beneran hilang bisa dibu*nuh aku sama papimu" reza kesal dikerjai oleh dinda
"maaf deh! habis lama banget aku tungguin ngga balik-balik. aku pikir aku ditinggal pulang sendirian disini" ucap dinda
"ya sudah ayo pulang, pekerjaanku sudah selesai!" reza mengemasi beberapa barangnya yang berada dihotel tersebut
"oke" jawab dinda singkat
keduanya menegndarai mobil menuju kota asalnya yaitu kota J dimana keduanya tinggal. dinda mendengarkan musik sambil sesekali bernyanyi rasanya menjadi canggung saat dirinya berdua saja dengan reza saat ini
"dinda, jika aku pergi jauh apa kau akan merindukanku?" tanya reza tanpa basa basi
__ADS_1
"maksudnya?" dinda bingung dengan pertanyaan reza
"tidak usah dijawab kalau begitu" reza urung mengungkapkan perasaannya pada dinda. bahkan dirinya belum begitu yakin dengan yang ia rasakan saat ini
"dasar aneh, tanya tapi ngga butuh jawaban" dinda mengoceh sendiri dan kembali mendengarkan lagu kesukaanya
dalam waktu kurang lebih dua jam keduanya sampai di kediaman mewah milik dinda, beberapa penjaga membukakan pintu gerbang yang amat tinggi
"mas reza ngga turun dulu?" tanya dinda
"tentu saja saya harus laporan dengan papimu, jika anaknya masih utuh tak kurang apapun!" ucap reza mengambil beberapa berkas yang ada dijog mobil bagian belakang
"emangnya bibirmu hilang dimana? atau dibawa kucing hemm" reza makin menggoda dinda. keduanya turun dari mobil dan masuk kedalam rumah dinda
"sore mi, pi" dinda lebih dulu masuk dan menyapa orang tuanya. lalu ia berpamitan untuk ke kamarnya karena lelah
"sore pak, bu" ucap reza pada kedua bosnya
"sore" jawab mami ana singkat
"ikut saya keruang kerja!" ucap pak tirta mengajak reza masuk keruangan biasa untuknya bekerja jika dirumah
__ADS_1
"duduklah, apa yang kau bawa?" tanya pak tirta
reza kemudian duduk dan memberikan beberapa dokumen laporan dan juga sebuah amplop coklat berisi surat pengunduran diri reza
"apa ini? kenapa mendadak!" pak tirta membuka surat dari reza dan tak menyangka asisten terbaiknya akan berhenti menemaninya
"maaf pak sebelumnya ada masalah keluarga saya yang harus saya selesaikan dan itu butuh waktu lama, saya tidak mau fokus saya terbagi dan tidak maksimal dalam bekerja" jawab reza
"apa saya boleh tau masalahnya .mungkin saya bisa bantu dan juga kamu tak perlu resign. kamu boleh cuti selama maksimal satu bulan" ucap pak tirta menegosiasi
"terima kasih pak, suatu kehornatan bagi saya sudah bisa bekerja untuk pak tirta. namun masalah ini sulit untuk dimengerti dan saya pun tak tau harus bercerita seperti apa" jawab reza
"kamu mau mengurus hotelmu?" tanya pak tirta menyelidiki
reza tersenyum karena akhirnya bosnya tau bahkan ia sudah sangat rapat menyimpan rahasia ini. "kalau itu bukan hotel saya pak, saya hanya membantu mengelola saja dan maaf jika saya tidak jujur. tapi saya tidak ada niat buruk dengan perusahaan bapak" ucap reza
"kamu terlalu merendah za, saya kagum denganmu meski kau ternyata anak orang berada tapi mau bekerja dengan orang lain agar membuatmu bangga" puji pak tirta
"hubungi saya jika kau ingin kembali atau butuh bantuan, kapan kamu mulai berhenti kerja?"
"saya rasa minggu depan pak, saya akan ke luar negeri untuk mengurus masalah orang tua saya yang menetap disana, tapi sebelumnya saya akan selesaikan pekerjaan saya dulu disini" reza dengan keputusab bulatnya akan berhenti bekerja diperusahaan papi dinda
__ADS_1