
setealah selesai dengan acara pembukaan kafe dinda dan reza mengantarkan orang tua reza ke bandara untuk kembali ke luar negeri
"mami dinda pasti bakal kangen!" dinda memeluk mertua wanitanya yang begitu dekat bagaikan anak kandungnya sendiri
"mami jadi tak mau pulang kalau begini" mami tania mencium kedua pipi dinda dengan hangat
"kalian harus kunjungi kami juga segera!" lanjut mami tania
"segera mam" jawaba dinda cepat
"kami pergi dulu, jaga diri kalian!" pak farhan mengucapkan salam perpisahan pada anak dan menantunya
"iya dad, kalian juga harus sehat agar dapat bertemu cucu kalian nanti" ucap dinda spontan saja
semua melihat kearah dinda dengan rasa penasaran
dinda mengangguk yakin menjawab semua rasa penasaran dari mertua dan suaminya
"syukurlah! kami sangat senang dan akan kembali saat cucu kita teah lahir" mami tania makin tak mau berpisah dengan anak dan mantunya
reza begitu saja memeluk dinda, rasa bahagianya tak dapat dibayar dengan apapun saat ini
"kami berangkat dulu, jaga cucu kami dengan baik" pak farhan kembali berpamitan karena pesawat sudah akan berangkat
******
__ADS_1
sampai dirumah reza tak membiarkan dinda berjalan sendiri, turun dari mobil dinda digendong hingga masuk kedalam rumah yang ternyata sudah banyak tamu
"berasa pengantin baru terus ya din!" ucap haikal meledek dinda yang masih berada digendingan suaminya
"mas turunin!" ucap dinda malu
"tak usah malu mereka lebih berpengalaman!" jawab reza dengan nada datarnya
"ini kenapa ramai dirumah" tanya dinda bingung karena tadi pagi baru saja bertemu dikafe
bukan tak senang justru membuat dinda sangat bahagia mengumpulkan keluarganya yang sangat sibuk dan jarang untuk ada waktu berkumpul
"selsamat ya sayang, mami berharap yang terbaik untuk kalian" mami ana menangis haru
setelah hampir satu tahun setelah kejadian dinda harus kehilangan anaknya kini anaknya akan dianugrahkan kembali oleh yang maha kuasa
acara malam ini syukuran kecil kecilan atas nikmat yang diberikan oleh tuhan pada keduanya, bisnis baru dan juga berita bahagia untuk pasangan yang sedang menunggu garis dua
*****
keesokan harinya reza terasa sangat malas untuk bangun dari tidurnya. ia ingin selalu disamping istrinya dan tak mau bergeser sedikitpun
"mas ayo bangun, nanti telat kekantornya!" dinda menggiyangkan lengan suaminya
"akan mas pindah kantornya kerumah, mas ngga mau sedetikpun meninggalkanmu!" reza terbangun dari tirdurnya tapi ucapannya melantur bagaikan masih terlelap
__ADS_1
"hahahaha, ngga ksihan sama dion yang jomblo terus karena ulahmu hemm?" dinda menyadarkan suaminya
"justru itu pendapatan tambahan untuk dion yang segara melepas masa lajangnnya" jawab reza yakin
'benarkah? dengan lulu atau____" dinda menggantungkan ucapannya
tak sabar menunggu jawaban reza." tentu saja bukankah kamu yang sudah mendekatkan jodohnya" lanjut reza
dinda lompat kegirangan mendengar berita yang baik baginya
selain lulu sudah cukup diumur juga dion terlihat kesepian
"aku akan jadi sponsor pernikahannya!" janji dinda pada pasangan yang di dekatkan
"sayang!" reza mengingatkan
'maaf aku lupa!" dinda tersenyum kuda
"keputusan yang tepat mas merencakan pemindahan kantor" reza kembali mendekati dinda dan mengajaknya duduk
"mas aakan selalu menjagamu sayang, mas tak akan mengulangi kesalahan yang sama padamu dan calon anak kita" reza meneteskan air matanya terlintas bayangan bagaimana hancurnya hatinya dan juga dinda saat itu
"kita akan jaga bersama mas, tapi mas tak perlu begini aku hamil lama loh bukan cuma sebulan" ucap dinda
"mana ada hamil cepat dinda, mas juga tahu hamil itu lama" kesal reza dinda meragukan calon ayah
__ADS_1
"kok mas jadi sensitif banget sih, kan harusnya aku!" ucap dinda
"benarkah!" reza tak percaya dengan perubahan sikapnya