
"sampai, ayo turun!" ajak reza membantu dinda melepaskan seatbelt lalu keduanya keluar mobil dan berjalan beriringan menuju restoran yang telah dipesan dion, sesuai dengan ucapan reza yang meminta waktu satu jam kini tepat tiba ditempat
"ehemm!" deheman reza membuyarkan klient yang memandang wajah cantik dinda
"silahkan duduk pak" ucap pak hadi yang sebenarnya teman kuliah reza dulu
"tidak usah terlalu formal, kenalkan ini istri saya" reza memperkenalkan dinda pada teman sekaligus kliennya
sudah banyak proyek reza yang ditangangi oleh hadi, selain sudah mengenal orangnya perusahaanya juga sudah sangat terpercaya
"saya hadi" ucap pak hadi mengulurkan tangannya
"ngga usah pakai salaman!" ucap reza tegas melarang siapapun menyentuh istrinya
"dasar posesif" ledek hadi
"mana proposalnya?" tanpa basa basi reza menanyakan pekerjaan
"santai dulu lah makan siang dulu, tadi ngga sempet sarapan" ucap hadi
"kami sudah pesan pak, ini daftar menunya bapak dan ibu mau pesan apa?" tanya dion yang sduah tiba lebih dulu
"ini sayang" reza menyerahkan menu makannya pada dinda yang lebih tau apa kesukaanya
ucapan reza membuat hadi ternganga " ini reza yang saya kenal dulu kan!" hadi sampai terheran heran
selain posesif kini teman yang diketahuinya tak pernah berpacaran dan juga sangat dingain pada lawan jenis. kini bak pria bucin ditangan dinda
__ADS_1
"sudah sana makan, jangan ganggu orang!" reza tak sadar perbuatanya membuat orang lain slah fokus
"mas" ucap dinda mengingatkan jika suaminya teak perlu berekspresi separah itu
" tenang saja bu, saya sudah biasa menghadapi dia" tunjuk hadi pada reza
**
"siang bu" ucap lulu yang baru datang dari toilet
"kamu baru datang atau?" tanya dinda
"sama saya bu" jawab dion cepat takit bosnya keburu marah suasana hatinya sedang tak baik hari ini
setelah makan siang rapatpun dimulai reza mulai membaca proposal yang diajukan oleh hadi mewakili perusahaanya. untu proses renovasi kafe yang diingikan oleh dinda
"mas yang ini" ucap dinda
seketika reza berhenti memeriksa dokumen dan diserahkan pada dion dan lulu keduanya adalaha asisten handal sudah pasti paham dengan berbagai macam perjanjian kontrak
"yang mana din" reza penasaran
"ini aku suka, tapi boleh ngga ditambahin dari ide aku mas" tanya dinda
"tentu saja! pilih saja dan katakan pada pak hadi. hemm tidak kamu bisa bahas dengan lulu biar selanjutnya dion dan lulu yang mengurus semua ini kamu tinggal pantau saja, oke!" ucap rez tak mau dibantah
"kalau begitu besok kami kabari lagi pak hadi, untuk memutuskan kami bekerja sama dengan perusahaan bapak atau tidak" ucap dion mewakilkan reza
__ADS_1
reza mengangguk menyetujui ucapan dion yang tau apa yang diingkan reza saat ini
"kalau begitu saya tunggu kabar baiknya pak, saya permisi dulu" ucap pak hadi
"jangan klayapan terus inget udah tua" jawab reza yang justru sangat santai
diacungi jempol oleh hadi yang sudah beranjak dari kursinya dan meninggalkan reza beserta istri dan asistenya
"mas kan udah bilang mau yang ini" ucap dinda kesal
"iya sayang tapi kita perlu diskusikan juga dengan yang lain. sekarang kita lihat gedung yang mau kamu pilih dulu" ajak reza
"oke" ucap dinda
"batalkan semua rapat hari ini dan besok" ucap reza memerintah lalu berjalan menggandeng istrinya menuju parkiran mobil tanpa rasa bersalah
"astaga bos!" teriak dion kesal namun reza sudah menjauh
"tenang kak nanti aku bantuin" ucap lulu yang sudah tak terlalu canggung
"benarkah? kamu ngga ada kesibukan hari ini!" tegas dion bak dayung disambut
"aku sudah jadi pengangguran sejak hari ini kak, hehe" ucap lulu
"tenang saja, aku yakin bu dinda tidak main main untuk bisnis ini" dion menyemangati
keduanya menuju parkiran mobil, lulu mengikuti dion kembali kekantor sesuai dengan ucapannya tadi akan membantu dion dalam pekerjaan
__ADS_1
dengan senang hati dion yang sejak awal memang sudah menaruh hati pada lulu kini dinda yang mendekatkan keduanya