
"mas siapa aja yang mau diundang?" tanya dinda yang sedang membantu membuat daftar udangan
"ini mas sudah tulis, nanti kasih saja ke dion agar dicetak diundanganya" jawab reza
"oke, aku tambahin maya ya mas" dinda juga mengundang teman satu kantornya dulu
"hemmm" jawab reza dengan deheman
waktu sudah malam keduanya menyelesaikan pekerjaanya dan beranjak tidur.
dinda selalu minta gendong saat keluar dan masuk kamar
memeluk reza dan mengalungkan kakinya dipinggang. dengan senang hati reza mengabulkan keinginan istrinya
meski terliat cuek dan datar tapi perlakuan reza selalu membuat hati dinda meleleh
"ganti baju dulu din!" ucap reza yang terbiasa mandi sebelum tidur
"gantiin dong mas" sikap manja dinda membuat reza senang tapi juga takut
sekuat tenaga menahan keinginanya tapi dinda seolah selalu memancing
"mas ambilkan bajunya ya, kamu mau pakai yang mana" jawab reza
membuka lemari memberikan baju daster motif batik yang agak panjang agar reza tetap aman
"engga mau yang itu! biar aku ambil sendiri" dinda tak suka dengan pilihan suaminya
dinda memilih baju berbahan satin tipis dengan atasan terbuka dan juga celana pendek diatas lutut
tanpa rasa bersalah melewati suaminya yang sedang menatapnya lekat
__ADS_1
seakan slavina tak dapat ditelannya lagi. reza tak sempat berkonsultasi masalah hubungan suami istri pada dokter
apakah diizinkan atau tidak kini dirinya gusar sendiri.
"mas, ayo tidur! mau berdiri saja disana" ajak dinda yang sudah mulai mengantuk
"iya sayang, mas ambil minum dulu ya!" reza menghindari istrinya
"hmmm" dinda yang sudah memejamkan matanya hanya menjawab sekenanya
"astaga boleh tidak sih, kenapa aku ngga bisa tahan" gumam reza keluar dari kamarnya
karena tak bisa tidur reza memutuskan membuat secangkir kopi dan menyesap beberapa batang ro*kok di balkon rumahnya
idenya muncul ia mencoba mencari jawaban di internet
senyumnya mengembang ternyata itu diperbolehkan selama kehamilan asal tak ada gejala apapun pada ibu hamil
dinda yang terlelap lebih dulu membuat reza prustasi. tapi masih ia tahan
reza pun ikut berbaring disamping istrinya. tengah malam dinda merubah posisi tidurnya menghadap suaminya dengan belahan da*da yang nampak jelas
karena dinda terbiasa tidur tanpa B*ra yang menempel dibadannya
benda kenyal yang berisi menyentuh tubuh reza yang membuatnya terbangun
matanya hendak keluar melihat sang istri yang begitu mengg*da imannya saat ini
andai saja dinda tak sedang hamil. pasti akan langsung diajaknya perang
kini reza hanya mengusap kepalanya tak tahu apa yang harus dia lakukan
__ADS_1
demi kenyamanan pikirannya reza keluar kamar dan mencoba mengalihkan pikirannya pada tu*buh se*xy istrinya
menyalakan tv dan mulai merebahkan tubuhnya disofa panjang
waktu masih menunjukan dini hari rasa kantuk pun masih menyelimutinya
reza terlelap kembali di sofa diruang tv hingga pagi menjelang. suara ketukan pintu membangunkanya dari mimpi tidurnya
"selamat pagi pak kami dari yayasan asisten rumah tangga, benar ini rumah bu dinda?" tanya salah satu wanita paruh baya
"pagi! iya benar silahkan masuk saya panggil istri saya dulu" ucap reza sambil menguap
dinda yang terbangun tak melihat suaminya segera turun dan mencarinya
"sayang! hati hati" ucap reza mengingatkan istrinya yang suka lupa jika dirinya tengah mengandung
"iya mas lupa" ucap dinda
reza menghampiri istrinya dan menuntunya menemui calon asistenya yang berjumlah dua orang
"ini yang akan bantu kita semua keputusan ada padamu" reza menyerahkan sepenuhnya pada dinda
dinda memulai dengan perkenalan dan beberapa pertanyaan. setelahnya keduanya yang bernama bik narti dan bik wati
ditunjukan kamar dan juga berkeliling rumahnya
satu pesan dari reza jika kamarnya bersama sang istri tak boleh dimasuki siapapun kecuali orang tuanya
kedua asistenya pun mengerti dan banyak majikan yang melakukan hal tersebut
dinda menyuruhnya beristirahat dan akan mulai bekerja sore nanti
__ADS_1
"semoga betah ya disini, saya kembali ke kamar dulu!" ucap dinda