
"sayang mas nanti pulang telat ya! jangan lupa makan dan jangan pergi sendirian walau hanya kerumah mami oke!" reza tegas pada dinda
"iya mas ku sayang, sun dulu" ucap dinda manja
"jangan buat mas gagal ngantor din!" ucap reza yang gemas dengan sikap manja dinda akhir akhir ini
dinda dulunya sangat mandiri tegas dan jutek terutama saat bertemu reza. kini berbanding terbalik
jika kata orang mungkin yang dinamakan diratukan oleh orang yang tepat
"harus kerja dong mas, nanti anaknya sekolahnya gimana?" ucap dinda
"jauh banget din mikirin sekolahnya, masih mampu mas sekolahin anak dua puluh lagi juga!" jawab reza
dinda melotot terkejut "astaga mas satu aja belum lahir mau dua puluh! mas sih enak" kesal dinda
pagi hari dipenuhi dengan perdebatan dinda dan reza sebelum memulai aktifitas
"kita sama sama enak dinda! mau mas ingetin kalau kamu lupa" sahut reza tak terima dengan ucapan istrinya
"sudah ayo sarapan cacing diperutku sudah mau dangdutan nih" ucap dinda becanda
__ADS_1
reza tak menanggapi ucapan istrinya. seperti biasa reza akan menggendong dinda saat naik atau turun tangga ke kamar
baginya ini bukan beban tapi ungkapan terima kasih pada istrinya yang sedang mengandung buah hatu keduanya
"bik tolong singkirkan ini!" reza menunjuk seafood yang ada dinasi goreng
dind yang sejak hamil tak bisa mencium atau makan seafood perutnya terasa mual
"maaf pak bu, saya tidak tanya dulu!" ucap Bik wati takut
"lain kali...."ucapan reza terhenti dinda memegang tangan suaminya dan memberikan isyarat untuk tak melanjutkan ucapanya
"ngga apa apa bik, saya yang lupa kasih tahu. nanti akan saya buatkan daftar menu yang baru ya!" ucap dinda lembut
"iya bu saya minta maaf" bik wati takut dipecat
dinda mengangguk memaafkan dan meminta bik.wati membawa makananya kedapur
"kamu ngga apa apa sayang? kita kedokter ya!" reza khawatir pada dinda yang agak terlihat pucat
"aku baik baik aja mas! nanti juga sebentar lagi hilang mualnya. mas sarapan aja dion sudah menunggu didepan" ucap dinda
__ADS_1
reza sudah tak berselera melihat istrinya pucat. kalau saja rapatnya dapat diwakilkan pasti reza akan tetap berada disisi dinda
"mas berangkat ya sayang! langsung kabari mas kalau masih belum.sembuh nanti siang" pesam reza
"iya sayang" dinda mengecup pipi reza dan tersenyum merekah agar suaminya tak.khawatir dan mengganggu pekerjaannya
dinda masuk kembali kerumahnya setelah mengantarkan suaminya kemobil diarea parkiran rumahnya
sambil berjalan pagi dinda mengelilingi taman yang penuh bunga. yang ditanami oleh mami ana
sambil mengelus perut yang mulain terlihat buncit diusia kandungan dinda yang menginjak empat bulan
ada sepasang mata yang menatapnya tajam. terus memandang wajah cantik dinda dari kejauhan
meyakinkan diri apakah yang dilihatnya adalah orang yang dia kenal. atau mungkin hanya salah lihat saja
senyumanya sinis seolah tak senang dengan apa yang dia lihat. orang tersebut masih menatap dinda dengan rasa benci
"cari siapa pak?" tanya satpam dinda melihat ada yang memperhatikan rumah tuannya
"engga hanya sekilas lewat!" jawab orang tadi lalu pergi meninggalkan area sekitar rumah dinda
__ADS_1
meski pagarnya tinggi namun ada bagian yang bisa terlihat dari luar pagar
dinda yang tak sadar masih sibuk dengan menyiram bunga yang menjadi rutinitas paginya. dan tak mau diganggu oleh orang lain