
"mami lucu ya sayang! pasti tingkahmu menurun dari mami" ucap reza pada istrinya
"entahlah!" dinda malas menjawab pertanyaan dari reza tentu saja dinda mirip ibunya, karena dia anaknya kadang dinda juga heran kenapa suami pintarnya itu kadang juga aneh
"kau masih marah dengan mas?" tanya reza lagi
"tidaaakkk! ayo sekarang kita berangkat" dinda kewalahan membawa kopernya
"tunggu din, kita mau kemana dengan koper sebanyak ini. bawa seperlunya saja sisanya kita beli disana saja. ini seperti akan pindahan rumah saja" reza terkejut dengan bawaan istrinya
"kenapa baru bilang mas, aku kan sudah bersusah payah menyusunnya" dinda melemas
"ya sudah minta tolong bik ani buat bantu ya, yang perlu saja dibawa mas bantu juga" ucap reza lembut sepertinya istrinya sedang sensitif karena tamu bulanannya. jadi reza mamahami
"papi mami kami pamit ya" ucap reza dan dinda bergantian
__ADS_1
mami ana merasa sedih karena baru kali ini akan ditinggalkan dinda anak tunggalnya yang cukup jauh dan kemungkinan lama. rasanya baru kemarin dinda lahir tapi sekarang sudah menjadi milik orang
papi tirta mengerti kesedihan istrinya ia pun sama tapi tak mungkin baginya menetesakan air matanya, papi tirta mengusap pinggung istrinya dan mengantarkan kedua anaknya kehalaman depan rumahnya
lambaian tangan keduanya menakhiri pertemuan kali ini, entah kapan keduanya akan kembali karena reza akan mengurusi perusahaan dadynya untuk sementara waktu sebelum honeymoon bersama dinda
"udah mi jangan sedih harusnya mami bahagia, bukankah dulu mami yang paling ingin dinda menikah?" ucap papi tirta lembut
"iya pi ayo kita masuk" ajak mami ana pada suaminya
reza mempercayakan hotel peninggalan ibunya yang dulu belum memiliki cabang. tapi dua tahun belakangan ini setelah dikelola oleh reza menjadi memiliki cabang hampir disetiap kota. meski menjadi asisten dari papi dinda tapi reza masih bisa membagi waktunya agar hotel tetap berjalan
dinda dan reza menaiki pesawat menuju negara P. sekitar 18 jam waktu yang ditempuh untuk sampai ke negara tersebut.
18 jam berlalu jam lima sore keduanya terbang dan sekitar jam sembilan pagi waktu setempat keduanya sampai. reza dan dinda dijemput oleh supir yang disiapkan oleh dadynya yang merupakan salah satu pengusaha property yang cukup sukses. namun karena kelalaianya kini perusahaanya hampir diambang kebangkrutan
__ADS_1
"selamat pagi tuan" ucap driver dalam bahasa negara tersebut dan membukakan pintu untuk reza dan dinda
"selamat pagi" jawab reza dengan bahasa yang sama. cukup lama reza tinggal dinegara tersebut jadi tak sulit baginya untuk berkomunikasi. sedangkan dinda mengerti dengan apa yang dikatakan namun tak mahir dalam bahasa tersebut. ia kuliah dan tinggal di negara yang berbeda saat itu
tak berapa lama keduanya sampai disebuah rumah mewah milik keluarga reza, dan disambut oleh orang tua serta adiknya yang memang menunggu pasangan pengantin baru itu datang
"hai mami, dady dan nino" ucap dinda bergantian menyapa anggota keluarga barunya
mami tania langsung memeluk menantu yang baru saja tiba, dengan senyum mengembang sambutan bagi keduanya
"bagaimana perjalanan kalian?" tanya dady farhan pada reza
"lancar dad" keduanya berpelukan singkat dan saat nino hendak memeluk dinda, reza sudah menarik bajunya dan menjauhkan dari badan dinda
"kak!" kesal nino yang hanya akan menyapa kakak iparnya tapi nampaknya reza makin menjadi posesif. istrinya tak boleh disentuh laki-laki lain selain dirinya
__ADS_1
"dia milikku!" ucap reza membuat orang yang ada disana terkejut. ucapan macam apa itu tentu semua orang tau dinda miliknya. sepertinya manusia es muka tembok sudah jadi bucin saat ini