
"dinda kita bikin kue aja gimana biar ngga bosan?" ajak mami tania
"ya udah deh, dari pada bosan! bahan bahan sudah apa belum nia?" tanya mami ana
"belum an kita beli bersama sambil jalan jalan bagaimana?" ajak mami tania
"setuju!" teriak dinda dengan semangat
ketiganya pergi ke swalayan terdekat dari vila yang ditinggalinya.
"apa aja yang perlu kita beli mam?" dinda bertanya pada mertuanya karena mami ana tidak pintar dalam urusan memasak begitu juga dengan dinda
berbeda dengan sang mertua yang pandai dalam hal perdapuran
"reza paling suka puding coklat sayang, kamu belajar buat ya?" saran mami tania
"iya sayang, kamu masih muda belajar masak jangan kaya mami" ucap mami ana menasehati
"mami ngga bisa masak karena sibuk dikantor kan dulu!" ucap dinda tak mau maminya merasa berkecil hati
"benar ana kamu pandai dalam mendapatkan cuan" ucap mami tania menambahkan
ketiganya tertawa dengan ucapan mami tania
setelah membeli beberapa bahan akhirnya memutuskan pulang, dengan diantar oleh salah seorang supir pribadi
ditengah perjalanan dinda melihat ada toko yang menjual tanaman yng menarik penglihatan dinda
"pak berhenti dulu!" ucap dinda mendadak
"kenapa din?" tanya mami ana
__ADS_1
"pak putar balik, dinda mau lihat tanaman yang disana" jawab dinda
"putar pak, nanti bisa dimutasi kerjanya kalau ratunya ngga dituruti" ledek mami ana
dinda melirik tajam pada maminya yang menggodanya
lalu dinda keluar mobil dan langsung masuk toko yang menjual bermacam macam tanaman dari mulai buah sampai dengan bunga
"sejak kapan anak mami.suka tanaman?" tanya mami ana
mami tani a juga ikut sibuk memilih bunga yang cocok untuk rumah keluarga pak farhan yang dulu tempat tinggal sebelum keluar negeri
"mami bagusan mana untuk dibalkon kamar dinda?" tanya dinda pada kedua maminya
dinda memegang pohon bunga mawar dan juga bunga laverder meminta pendapat
"kalau mami kurang suka bunga yang banyak bunganya" ucap mami ana yang suka dengan tanaman bunga seperti aglonema yang tak banyak bunganya
"tapi menurut mami bagusan mawar untuk dikamar" lanjut mami ana
"oke!" ucap dinda
dind mengambil beberapa pohon bunga beda warna, setelahnya membayar dikasir
sambil menunggu maminya dinda melihat sekelilingnya ada penjual makanan ringan, dinda menghamipiri dan memesan beberapa bungkus untuk orang orng divila dan akan kembali ke mobilnya
"dinda!" suara bas terdengar tak asing dipendengaran dinda
"maaf saya duluan" dind meninggalkan seorang lelaki yang menyapanya tadi
tangan dinda ditahan namun dinda berusaha melepaskannya, karena kesal pria itupun menarik paksa dinda dan membekap mulutnya
__ADS_1
dibawanya dinda masuk kedalam mobil lelaki tadi, dinda akan berteriak namun tak bisa tangannya pun digenggam kuat
didalam mobil dinda menggedor pintu kaca namun tak ada yang melihat karena kacanya tak terlihat dari arah luar
"lepaskan! apa maumu?" tanya dinda berteriak
rasa takutnya kini mulai muncul akan dibawa kemana dia dan bagaimana memberitahu pada keluarganya sedangkan ponselnya ditas yang ada didalam mobil
"diam saja nanti kamu akan tahu!" ucap lelaki tadi
"berhentikan saya sekarang atau saya lompat" ancam dinda
"silahkan jika kamu mau membusuk dan tak diketahui keluargamu"
dinda yang kesal menarik stir mobil kekanan dan menghantam pembatas jalan
"si*alan" plak suara tamparan mendarat dipipi mulus dinda hingga meninggalkan bekas
"kamu jangan macam macam, nyawamu bisa melayang jika suami dan orang tuaku tahu" dinda tak putus asa
"aku tidak peduli, asalkan bisa merasakan keni*matan tub*h mu sebelum itu terjadi" ucap varo
ya dia adalah mantan dinda yang masih menyimpan dendan pada dinda.
dan entah mengapa tak takdir mempertemukan keduanya ditempat yang tak tepat
plak kini dinda yang menampar varo membuat emosinya makin memanas, mobil yang melaju kencang membuat dinda ketakutan dn berteriak
entah dibawa kemana dinda sekarang bahkan dia tak tahu daerah sekitar situ
"varo tolong lepaskan saya, antara kita sudaj selesai lama dan tak ada masalah apapun" ucap dinda memohon
__ADS_1
"kamu pikir saya terima begitu saja setelah kau putuskan dan papimu menghancurkan bisnis orang tuaku, dan kau tahu semua itu salahmu. jadi kau dan keluargamu harus tanggung akibatnya!" suara varo sambil berteriak kencang
"ayo turun!" mobil berhenti pada sebuah rumah yang terlihat sepi dan kosong