Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Menyusun Rencana


__ADS_3

semalam reza dan dinda tak diizinkan untuk tinggal diapartemen yang sudah disiapkan reza. reza tak mau membuat dinda tertekan karena tinggal dengan orang tuanya dan memutuskan akan tinggal diapartemen selama tinggal di negara P.


pagi ini reza sudah bersiap dengan pakaian rapihnya yang terlihat semakin tampan dan mempesona. reza sudah mengatakan pada istrinya jika tujuan ke negara ini bukanlah hanya untuk honeymoon tapi juga membantu perusahaan keluarganya


"din, kamu beneran tak masalah tinggal disini?" tanya reza tak yakin meninggalkan dinda sendiri meski ada mami tania dirumahnya


"iya mas, kita pindah ke apartemennya nanti saja kalau sudah tak sibuk. lagian disini lebih ramai aku tak kesepian" jawab dinda meyakinkan suaminya agar tak khawatir


"baiklah, mas usahakan hari ini akan pulang cepat. jangan lupa makan dan kabarin mas setiap saat hmm!" ucap reza


"siap komandan" ucap dinda menggandeng reza turun kelantai bawah untuk ikut sarapan


"pagi dad, mam" ucap reza datar


"pagi itu senyum dong re, masak pengantin baru mukanya begitu" ledek mami tania dan reza hanya melirik saja baginya ini membuatnya makin kesal. sampai saat ini pun dia masih menyandang status perjaka


"kami berangkat dulu mam" pamit dady farhan pada istrinya saat selesai sarapan. reza pun mengikuti dadynya untuk berangkat ke kantor


dinda ikut mengantarkan suaminya yang bekerja untuk pertama kalinya. "hati-hati mas!" dinda berharapa ada adegan romantis seperti yang dilakukan orang tuanya setiap hari. tapi nyatanya reza hanya mengangguk dan berlalu begitu saja


dasar manusia es kambuh lagi batin dinda kesal dan kembali ke dalam rumah


"mam biar dinda bantu" ucap dinda menghampiri mertuanya yang sedang sibuk membereskan bekas makan tadi pagi


"terima kasih sayang" mami tania mengusap punggung dinda


dinda membalasnya dengan senyuman manisnya. keduanya selesai dengan aktivitas membersihkan dapurnya dan duduk bersama diruang tv


"gimana sayang rasanya nikah sama reza?" tanya mami tania ambigu


"hmmm belum juga satu minggu mam, tapi dinda senang karena tambah banyak keluarga dinda" jawab dinda tulus


"bagaimana kabar mami ana, apa kamu sudah menghubunginya?" tanya mami ana lagi

__ADS_1


"sudah kemarin mam, mereka sehat dirumah hanya kesepian saja katanya" dinda tersenyum sedih saat ingat orang tuanya yang sekarang jauh


"sudah jangan sedih kami disini juga orang tuamu, tak lama lagi pasti mami ana datang kesini" mami ana menenangkan dinda


"iya mam" dinda beruntung punya mertua yang menyayanginya seperti orang tua kandungnya


keduanya mengobrol hingga tak terasa waktu sudah siang, dinda berpamitan untuk ke kamar ada pekerjaan yang akan diselesaikan


sementara ditempat lain reza mulai memeriksa laporan demi laporan dan beberapa dokumen perusahaan dadynya.


"dad kenapa laporanya seperti ini, sejak kapan laporan ini juga harus diketahui oleh perusahaan ayahnya jesika?" tanya reza penasaran


"sejak malam itu. dan mulai hari iti juga seluruh aktivitas dan juga semua laporan harus diserahkan juga pada perusahaan ayah jesika. dady tak bisa memutuskan atau melakukan apapun tanpa sepengetahuan ayah jesika" penjelasan dady farhan


"si*al!" reza sedang memikirkan cara agar lepas dari jerat perusahaan ayah jesika


reza tak mau dinda sampai tahu jika jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah perusahaan adalah menikahi jesika. reza yakin ada cara lain agar tak mempertaruhkan rumah tangganya untuk urusan bisnis


"iya dady juga melakukan itu, tapi ada satu hal yang dady ketahui tentang kelemahan alex" ucap dady farhan yang selama ini tak tinggal diam


"maksudnya?" reza tak paham


"dady sudah menyelidiki bahwa jesika itu bukan anak kandung dari alex dan istrinya. dia diangkat anak oleh alex karena sebelumnya dia tak memiliki anak. tapi tak lama dia mengurus jesika anaknya yang juga perempuan lahir. dia tinggal bersama neneknya di negara I" ucap pak farhan dan reza pun mengerti


keduanya mulai menyusun rencana agar mudah untuk mengalahkan lawannya yang juga menggunakan cara licik. sebenarnya alex tak membutuhkan perusahaan dady farhan yang juga dulu adalah teman baiknya karena perusahaan alex juga lumayan besar. tapi karena hasutan dari jesika membuat alex murka saat reza memilih pergi dari negara itu daripada menikahi jesika


tak terasa waktu sudah sore dan waktunya keduanya untuk pulang kerumah. reza tak mau meninggalkam dinda terlalu lama tanpanya dan tadi seharian hanya sempat menghubunginya sekali saja


"reza pulang duluam dad, dady jangan terlalu lelah" reza berpamitan pada dadynya dan menuju ruang parkir untuk pulang kerumah


"mam dinda dimana?" tanya reza saat sudah tiba dirumah orang tuanya yang menepuh waktu sekitar enam puluh menit dari kantor ke rumah


"udah nikah yang dicari langsung istrinya, tadi pamit sama mami mau mandi habis bantuin mami masak buat nanti malam" ucap mami tania yang sibuk dengan acara tv nya

__ADS_1


"reza keatas dulu mam" reza berlalu ke kamar mencari istrinya


"mas sudah pulang?" tanya dinda saat reza masuk ke kamar keduanya. dinda baru selesai mandi dan akan turun ke bawah menemani mertuanya


"sudah, kau mau kemana?" tanya reza mendekati istrinya


"mau nemenin mami tania, sama tunggu mas pulang" ucap dinda jujur


"kalau begitu temani saja suami mu disini, mas lelah hari ini" ucap reza pura-pura memegang bahunya


"mandilah dulu nanti aku pijit" ucap dinda lembut


"kenapa?" reza heran


"apanya?" tanya dinda


"kenapa aneh sekali mendengar suara lembutmu, mas pikir kau hanya bisa mengomel dan jutek saja" goda reza duduk disofa dekat ranjang dikamarnya


"isss kau membuatku kesal saja! ya udah mending aku temani mami nonton film. daripada disini bikin darting" dinda mengomel dan hendak pergi keluar kamar tapi tanganya dihentikan oleh reza


"ini baru dinda yang mas kenal" reza menarik tangan dinda dan memeluknya. rasa lelah dan pusing gilang saat meraskan hangatnya tubuh sang istri


"jadi mas lebih senang aku marah-marah, nanti aku cepat tua dan kamu mau cari istri muda gitu!" dinda masih saja mengomel meski tubuhnya diam dan menikmati pelukan reza


"sepertinya idemu bisa aku pikirkan!" reza menggoda dinda


"apa!" ucap dinda terkejut dengan ucapan suaminya. dinda mendorong tubuh reza dengan kuat karena kesal tak bisakah sehari saja suaminya bersikap tak mengesalkan


"hahahaha" reza tertawa menggelegar dan menyentil kening dinda "makanya jangan suka mikir yang macam-macam, punya satu istri aja belum disentuh" ucap reza berlalu ke kamar mandi


dinda terkejut dengan ucapan suaminya yang tau arahnya kemana, dinda berusaha menetralkan pikiran yang mulai traveling


astaga kenapa pikiranku begini batin dinda dan memukul kepalanya

__ADS_1


__ADS_2