
dinda yang perlahan mulai melupakan yang terjadi. meski tak akan ada seorang ibu atau calon ibu yang melupakan anaknya
dinda mulai aktifitas paginya dengan melayani kebutuhan suaminya. satu minggu telah berlalu reza kini mulai aktif lagi bekerja
menemani sang istri disaat terpuruknya dan juga menyembuhkan luka yang dirasakannya lebih cepat karena dilakukan bersama
"mas bangun! ayo mandi baju sudah aku siapkan!" ucap dinda
"sebentar lagi sayang masih ngantuk!" reza enggan membuka matanya
rasa kantuk dan juga terlalu lama libur membuatnya enggan untuk beraktifitas lagi
"mau kantor dipindah dirumah?" ucap dinda asal
"ide cemerlang! mas akan rencanakan itu" ucap reza
"ngga usaha menghayal sudah ayo bangun, jangan sampai telat" dinda menarik tangan besar suaminya yang cukup berat hingga tubuhnya lah yang tertari reza
"auuu... sakit mas" teriak dinda
seketika reza bangun dan melihat perut istrinya dengan panik
"tapi boong!" dinda menjulurkan lidahnya pada suaminya
dengan cepat reza menarik tengkuk dinda, dan terjadilah pergulatan benda kenyal dipagi hari
"lain kali jangan memancing. mas masih harus puasa dinda!" ucap reza usai melepaskan bibir dinda
"dasar me*sum!"
reza beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. seperti ucapan reza yang tak mau terbantahkan jika dind tak boleh meninggalkan reza saat tidur atau turun dari tangga tanpa suaminya
__ADS_1
dinda telah menyiapkan baju dan juga perlengkapan lainnya untuk suaminya berangkat kerja
"ganteng banget suami aku!" dinda mendekat pada reza dan memeluknya
"mau minta apa hemm?" tanya reA curiga dengan sikap manis istrinya
"minta apa?" dinda pura pura polos
"kalau gitu mas yang minta!" jawab reza sambil mengenakan pakaiannya setelah dinda melepas pelukannya
"jangan aneh aneh ya! aku masih belum boleh" ucap dinda tegas
"belum boleh apa?" reza mendekatkan wajahnya pada dinda
"jangan mengharap berlebih!" bisik reza lagi
"ayo mandi. ikut mas ke kantor nanti akan ada beberapa penawaran properti untuk cafe yang kamu mau" ucap reza
"benarkah mas! aku siap siap dulu" dinda yang sudah lebih dulu mandi kini tinggal berganti pakaian yang lebih formal untuk datang ke kantor bersama suaminya
sebelumnya reza telah meminta izin pada mertuanya tentang keinginan dinda. meski keputusan dikembalikan lagi pada reza sebagau seorang suami.
tapi reza tetap meminta pendapat mertua yang sekaligus mantan atasannya
"ayo sayang!" ucap dinda semangat
"tunggu dulu! ganti sepatunya jangan yang terlalu tinggi" reza mengambilkan sepatu flat tanpa heels untuk dinda
"tapi aku jadi pendek kalau jalan sama mas" dinda tak terima
" mau cafe ngga?" tawar reza
__ADS_1
"oke!" jawab dinda terpaksa. tubuhnya yang kalah tinggi dengan suaminya membuatnya kurang percaya diri
"bik kami sarapan dikantor saja! inu makanan bagikan pada yang lain saja" ucap dinda yang ingin sarapan diluar
"kenapa sayang?" reza menjadi bingung tapi ditarik saja oleh dinda
hari ini dion tak datang menjemput reza dan dinda diantar oleh supir dirumahnya.
"mas mau sarapan bubur!" ucao dinda saat mobil mulai melaju keluar dari pekarangan rumahnya
"kita pesan online saja antar ke kantor!" ucap reza namun dind menggelengkan kepalanya
"mau bubur yang dekat kantor om candra" pinta dinda ragu
"putar arah pak!" reza segera menuruti keinginan sang istri
dinda tersenyum sangat lebar mendengar perintah reza pada supirnya. tegas dan berwibawa semua karyawan reza menilainya bosnya
berbeda saat sedang bersama istrinya
"saya datang terlambat, ada urusan urgent!" ucap reza saat menghubungi dion yang telah berada dikantor lebih dulu untuk menemui klien
dinda adalah yang terpenting bagi reza saat ini dan selamanya. apapun keinginan dinda akan menjadi prioritasnya diatas segalanya
masa kecil yang kurang mendapat perhatian dari orang tua dan orang lain membuat reza tumbuh menjadi sosok dingin. namun kehangatan dinda mampu mengubah reza menjadi pria bucin parah
"mas"
"hemm"
"i love you" bisik dinda agar tak terdengar oleh supir
__ADS_1
"i love you more" ucap reza datar dan kencang
membuat wajah dinda memerah dan sang supir terkejut namun tak dilihatkannya takut bosnya marah