
sore hari dinda merasa sudah lebih enak badanya dan bangun dari tidurnya, tanganya tak lepas menggenggam tangan suaminya hingga terasa kebas tapi reza tak melepaskannya takut membangunkan istrinya
"sudah bangun tuan putri"reza mencium tangan dinda lembut
"mas kok ngga bangunin aku sih" ucap dinda ingat mami dan asisten rumah tangganya sedang sibuk
"kamu kan lagi sakit din, jadi mas biarkan kamu istirahat tadi mami sama papi juga dari sini liat kamu" ucap reza
orang tua dinda khawatir anaknya sakit tapi saat melihat dinda tidur lelap kekhawatiran itu hilang dan membiarkan reza menemaninya
"sekarang mandi ya biar segar" ajak reza pada dinda
"tapi gendong" ucap dinda dengan senyum manisnya
"baiklah tapi ngga gratis!" ucap reza mengdipkan sebelah matanya
reza mengankat tubuh mungil istrinya dan memberikan kode minta bayaran dengan menyodorkan bi*birnya. tanpa dipaksa dan rayuan dinda menyambut bi*bir suaminya
"dindaaaaa! upsss maaf" sepupu dinda yang bernama haikal masuk ke kamar dinda tanpa mengetuk pintu dulu disaat sang empunya sedang bermesraan
__ADS_1
"biarkan saja, dia juga sudah dewasa" ucap reza menenangkan istrinya
dinda dan reza turun kebawah menemui anggota keluarga yang sudah berdatangan
"hai tante, om!" dinda menyalami keluarga yang datang kerumahnya
"pengantin baru mah dikamar terus kerjanya ya!" ledek haikal
"awas ya kalau kamu udah nikah, malam pertamanya aku nggangguin sampai satu minggu" ucap dinda kesal
"mana bisa aku kan langsung keluar negeri" balas haikal
"sudah! ayo kita makan dulu baru lanjut ngobrol" ucap papi tirta sebagai anggota keluarga tertua yang hadir
para wanita seperti biasa membahas msalah kecantikan dan juga urusan berbelanja
"din kamu agak gemukan ngga sih, pasti bahagia ya punya suami kaya dan tampan" ledek tante dinda
"masa sih tante? perasaan dinda biasa aj. ya bahagialah pasti mami sama tante aja bahagia kan punya suami tajir dan tampan pada masanya!" jawab dinda bercanda
__ADS_1
hahahhaa semua pada tertawa hanya ada tiga wanita karena menantu tante dinda sednag tidak bisa ikut dan juga calon menantunya dari anak keduanya juga ada kesibukan.
"bener sayang. dulu aja ya mamimu tuh malu malu kucing saat kak tirta menyatakan cintanya" tante dinda adalah orang yang ceplas ceplos seperti dinda tapi juga tidak menyakiti hati orang lain
"sekarang enak kan mi!" ledek dinda mendapat sentilan manja dari sang mami
"kamu sudah besar bisa ngeledek mami sekarang hemm" mami ana pun tak mau kalah
ketiganya beralih kepembicaraan tentang pernikahan haikal anak bungsu dari pak candra, dinda menceritakan bagaimana keluarga jenita yang merupakan sahabat dari orang tua reza
meski sempat terjadi kesalah pahaman tapi dinda menyakinkan tantenya jika jenita dan keluarganya adalah orang yang baik
dinda berpamitan jika akan ikut dengan sang suami keluar kota untuk beberapa hari. suaminya ada urusan mendadak dalam proses pembangunan hotel barunya
awalnya mami ana tidak mengizinkan karena baru saja keduanya pulang tapi tante dinda memberikan masukan, jika sebaiknya dinda memang ikut dengan suami seperti yang mami dan tantenya lakukan. karena bibit pel*kor ada dimana-mana jadi tidak boleh lengah sedikitpun
lagi pula keduanya juga menikah jadi tak baik jika sudah berjauh-jauhan. akhirnya mami ana pun mengerti kini anaknya sudah menjadi milik dan tanggung jawab orang lain
mami ana hanya berpesan pada sang menantu untuk selalu berhati-hati karena kita tidak pernah tahu siapa musuh dan teman kita sesunggunya. sebagai seorang pengusaha tentu banyak pesaing yang kadang tak segan menggunakan cara licik dan diluar akal
__ADS_1
haiii para readers selamat membaca!!! kita lanjut besok lagi ya
see you