
"dinda" ucap ayu yang keluar dari kamarnya dengan berbalut selimut tanpa pakaian apapun menutupi badannya
dinda semakin sesak dirasakan di dadanya dan tak bisa berkata-kata. hanya air matanya yang terus menetes dan dia berlari keluar kamar itu tanpa menghiraukan apapun
"bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan" ayu terduduk lemas dia menyesali perbuatanya pada sahabatnya sendiri
"sudahlah ini bukan hanya salahmu, pakai bajumu dan kita segera jelaskan pada dinda" ajak varo yang lebih dulu berganti pakaian dan mendatangi kamar dinda. namun sialnya dinda sudah tak berada dikamarnya
"kamana dia! aarghhh" teriak varo dikamar dinda. dia menghubungi dinda namun ponselnya tidak aktif. varo keluar dan terus mencari dinda ia tak melihat mobilnya terparkir akhirnya varo pun berkeliling mencari dinda disepanjang jalan
dinda mengendarai mobilnya menuju sebuah jembatan yang tak jauh dari apartemenya berada, ia turun dari mobil dan hendak memanjat jembatan namun ada orang yang menariknya.
"apa kamu sudah gila!" ucap seseorang dalam bahasa asing
__ADS_1
"maaf. maafkan saya" dinda menjawabnya juga dengan bahasa tersebut ia tersadar dan terkulai lemas. betapa bodohnya ia melakukan ini semua
"ada yang bisa saya bantu nona" ucap orang yang menolongnya tadi
"tidak pak, terima kasih sudah menolong saya" jawab dinda dan kembali kemobilnya mencari hotel terdekat untuk menginap karena waktu hampir larut
dinda terus terbayang dimana varo dan ayu keluar dari tempat yang sama dan dalam keadaan yang membuat siapa pun pasti akan berfikir yang tidak bailk.
"kenapa varo, kenapa harus ayu" dinda mengoceh sendiri di dalam kamar hotel yang ia pesan baru saja
ponsel maya yang kembali dia aktifkan karena takut orang tuannya menghubungi dan khawatir. ia mengabarkan jika sudah sampai sore tadi dan besok akan bekerja jadi mulai akan sibuk. orang tuanya pun lega
puluhan panggilan dan juga pesan dari ayu dan juga varo tak ia hiraukan. ia hanya membukanya dan dalam tangisnya ia tertawa dengan alasan keduanya menghianatinya
__ADS_1
ayu beralasan karena ia iri pada dinda yang mendapatkan semuanya dengan mudah sedangkan dirinya hanya akan menjadi bayang-bayang dinda saja.
varo menjelaskan jika ini salah dinda yang tak mau memberikan apa yang varo inginkan, jadi ia memaksa ayu untuk memberikan yang ia butuhkan. jadi semua ini salah dinda
rasa sesak dan tangisnya mengiringi malam harinya yang panjang. dinda membuat keputusan untuk resign dari pekerjaanya yang ia geliti selama hampir tiga tahun ini. baginya ia disini untuk varo lalu untuk apalagi ia harus disini saat ini
dinda tak memberitahukan pada orang tuanya alasan ia resign dan putus dengan varo. dinda kembali begitu saja setelah belum lama kepulanganya untuk liburan sebelumnya.
orang tua dinda justru sangat senang karena anaknya kembali dan akan menetap bersama orang tuanya. papi dinda yang sebelumnya sudah tau maksud varo mendekati anaknya, namun ia abaikan karena anaknya terlihat sangat bahagia bersama varo. namun sekarang papi tirta justru merasa lega
"dinda kamu boleh ceritakan maslahmu pada mami, jangan dipendam sendiri itu akan terasa sakit" ucap mami ana yang mengetahui anaknya dalam maslah namun menutupinya
"dinda baik-baik saja mi, dan hanya butuh waktu untuk melupakan kenangan yang dinda lewati disana" ucap dinda menahan tangisnya ia tak mau membuat orang tuanya sedih
__ADS_1
"baiklah jika belum mau cerita sekarang, kapan pun mami siap mendengarkan" mami ana keluar kamar anaknya dan menutup pintunya