
seminggu berlalu orang tua dinda berpamitan untuk pulang kenegara I, papi tirta sudah memerintahkan orang kepercayaanya untuk membantu reza dalam perusahaan dan juga melindungi dinda karena tahu siapa lawan yang sedang dihadapi sekarang,
alex punya treck record sebagai orang yang tak segan melakukan hal kriminal untuk mendapatkan apa yang dia mau
"dinda jaga diri baik-baik ya, layani suamimu dengan benar dan jangan manja serta jangan boros-boros" nasehat mami ana pada anak perempuanya
"iya mi, dinda tahu kenapa mami buru-buru sih kan dinda masih kangen" ucap dinda memeluk mami ana
"baru juga dikasih tahu jangan manja, kalau manja sama suamimu sana" mami ana menimpali kembali
rasa haru dan tangis melepas kepergian orang tuanya, reza memeluknya dan mengusap-usap puncak kepala dinda dengan lembut untuk menenangkan. tak lupa sang besan pun turut mengantarkan besannya ke bandara
setelah orang tua dinda tak terlihat lagi reza dan orang tuanya pulang kerumahnya masing-masing. reza kembali tinggal diapartemennya dan berpisah dengan orang tuanya dibandara
"mas kita ngga kerumah mami lagi?" tanya dinda saat suaminya fokus menyetir
"kamu ngga suka kita tinggal berdua aja" bukan menjawab reza malah balik bertanya
"kebiasaan deh ditanya malah balik nanya, ya suka lah siapa yang ngga suka berduaan sama suaminya" dinda terus menyerocos tanpa taua suaminya sedang menahan senyum dan menambah kecepatan pada mobilnya agar cepat sampai diapartemennya
tiba diapartemen keduanya duduk disofa ruang tamu "mas mau minum sesuatu?" dinda menawarkan
"mas mau kopi aja din, mas mandi dulu ya gerah" reza masuk kedalam kamarnya dan melakukan ritual mandi sorenya
dinda membuatkan kopi dan menunggu suaminya keluar dari kamar, yang ditunggu tiba dengan wajah segar reza keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan baju atasan hanya mengenakan celana pendek saja yang membuat dinda sedikit terbengong
__ADS_1
"hey, dinda kamu kenapa liatnya begitu? hayo mikirin apa!" reza mendekati dinda dan tidur dipangkuannya
"mikir apa?" dinda pura-pura tak tahu " kenapa tak pakai baju, mau pamer ?" dinda mencibikan bibirnya
"hahahaha,,, mau pamer apa? sama siapa?" reza bangun dari tidurnya dan mencium pipi istrinya yang membuatnya gemas
"sana mandi biar segar, kita pesan saja makan malemnya. simpan tenaganya buat nanti malam" reza menaikan kedua alisnya seolah memberikan kode pada sang istri
dinda tak menghiraukan suaminya berlalu pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. beberapa saat dinda keluar kamar dan dimeja makan sudah ada makanan yang dipesan oleh reza saat dinda dikamar
"beli makan apa mas?" dinda mengampiri reza dimaja makan dan menyiapkan piring serta minum untuk makan bersama. dibuka kantong berisi makanan pizza dan juga burger untuk makan malam keduanya
selesai makan dinda membereskan makanan dan sisa makan tadi, sementara reza mendapatkan telfon dari asistenya yang mengurus hotel miliknya.
beberapa jam reza sibuk diruang kerjanya dengan beberapa file yang perlu ditanda tangani oleh reza, serta mengurus beberapa file dari perusahaan dadynya.
dinda mau mendekati kursi reza tapi dihalangi oleh reza karena saat ini reza sedang mengadakan rapat bersama beberapa staffnya. dinda yang tak tau sudah mode jutek dan mau marah tapi ucapanya terjeda
"kita lanjutkan besok pagi. hari ini cukup sekian!" reza menutup laptopnya dan menarik tangan dinda yang sudah mau pergi meninggalkan ruang kerja reza
"mau kemana hemmmm" reza menarik dinda duduk diapangkuannya masih dengan mode juteknya dinda menuruti permintaan suaminya
"ada apa sayang, kenapa cemberut mau minta ja*tah ya?" reza mencium tengkuk dinda membuatnya geli
"mas ihh geli" dinda beranjak dari pangkuan suaminya keluar ruang kerja reza
__ADS_1
reza menutup semua file yang dikerjakan oleh reza dan mengejar istrinya yang membuatnya hilang fokus.
reza masuk kekamar keduanya melihat dinda berselimut seluruh badannya
reza mendekati ranjang dan memeluk dinda yang berselimut seluruh badan, "mas, ngapain?" dinda dri luar kamar membawa air
reza kaget dan beranjak dari ranjangnya "kamu dari mana din, terus ini siapa?" reza membuka selimut dan kaget siapa yang ada didalamnya
"kenapa kamu ada disini!" reza geram mendapati orang lain selain istrinya tidur dikamarnya
"re, kamu lupa kamu kan yang nyuruh aku datang kesini, kalau ngga mana mungkin aku bisa masuk" ucap jesika keluar dari selimut dengan baju minim membuat dinda menjatuhkan gelas yang ada ditangannya
rasa sesak didadanya membuatnya tak mampu untuk bersuara dan menahan air matanya, apa yang dia lihat saat ini sperti mimpi tak nyata ada dihadapannya saat ini
"keluar kjamu dari sini! reza menarik paksa tangan jesika dan melemparkannya keluar kamar
jesika tak terima dan terus meracau yang membuat hati dinda makin sakit
"sayang dengarkan mas dulu" reza mendekati dinda saat jesika sudah berada diluar apartemen keduanya
"jangan sentuh aku mas, tolong jelaskan apa maksud semua ini!" dinda tak mampu lagi berkata-kata hatinya hancur seakan trauma dan kejadian yang menimpanya beberapa tahun lalu bagai terulang lagi dan membuatnya tak tau harus bagaimana
"dengarkan dulu sayang" reza berusaha memeluk dinda yang etrus menolaknya
"dinda mas ngga tau kenapa dia ada disini, kamu bisa cek ponsel mas tidak ada apapun disana" reza menjelaskan dan dinda tanpa kata duduk dengan memeluk kedua lututnya terus meneteskan air matanya
__ADS_1
"dia memang masalaluku tapi kami sudah tak ada hubungan apapun saat ini, bahkan mas tak pernah menemuinya din" reza prustasi menghadapi siatuasi saat ini dinda tak mau mendengarkan dan disentuh olehnya namun juga tak bersuara sepatah kata pun