
"kita mau kemana sayang?" tanya dinda yang asing dengan jalan yang dilewatinya kali ini
"pindah lokasi!" jawab reza singkat
dinda tak terlalu menghiraukan perkataan suaminya dalam pikirnya mungkin pindah tempat rapat atau akan mengunjungi hotel milik reza yang lain
dinda menyalakan lagu pada mobil reza lagu yang bernuansa romantis, dengan suara pelan namun masih terdengar oleh reza dinda menyanyikan lagu mengikuti suara penyanyinya
sambil memainkan game yang ada pada ponselnya karena tak mau mengganggu konsentrasi suaminya mengemudi.
"kok berhenti mas?" tanya dinda bingung dimana keberadaanya sekarang
"mau cemilan? disini enak enak" tawar reza pada dinda
"dengan senang hati!" dinda segera keluar mengikuti reza dan menggandeng lengannya
"ambil yang banyak yang kamu suka! mas tunggu disana" tunjuk reza pada kursi tuunggu
dinda mengacungkan jempolnya pada reza lalu meraih keranjang belanjaan. tak samapai satu jam dinda telah selesa dengan perburuan snack yang tak semua tempat menyediakan itu
"sudah sayang" tanya reza melihat keranjang istrinya penuh makanan membantu membawanya pada kasir dan mengeluarkan kartu saktinya
__ADS_1
"mas uang belanja aku utuh kalau begini terus" ucap dinda didengar oleh salah satu pegawai tempatnya belanja
"simpan saja, buat jajan beginian ngga akan buat suamimu bangkrut!" reza menyentil kening dinda
"auuu" dinda mengaduh kesakitan
reza mengambil plastik berisi makanan dan membawanya pada tangan sebelah kiri lalu tangan sebelahnya lagi digunakan untuk menggandeng tangan istrinya
dinda merasa sangat bahagia diperlakukan sangat istimewa oleh suaminnya, kaasih sayang orang tuanya dulu tak jauh berbeda dengan yang didapatkan kini
"makasih sayang, cup!" dinda mengecup pipi reza sekilas
rezaa yang terkejut dan juga senang istrinya sudah berekspresi lagi kini. " tunggu sebentar lagi sayang, sudah ngga sabar ya!" ledek reza
dalam perjalanan berikutnya dinda yang terlelap sangat pulas hingga sampai pada tempat yang dituju oleh keduanya
"sayang ayo bangun, sayang" reza dengan pelan membangunkan dinda yang masih pulas
tak sabar reza pun mengangkat tubuh dinda dan membawanya kesebuah rumah yang asri dengan banyak pepohonan disekitarnya, rumah yang jauh dari keramaian kota dan polusi
"selamat sore pak. silahkan masuk villanya sudah kami bersihkan" ucap mang udin penjaga vila milik reza
__ADS_1
"terimakasih mang, tolong bukakan pintunya" reza membawa masuk dinda dan membaringkanya pada sbuah ranjang
reza meminta bantuan mang udin dan istrinya untuk mengambil barang dimobil dan membawanya masuk kedalam vila
"mang ini buat jajan anak mang udin, semua yang saya minta sudah disiapkan?" tanya reza meninggalkan dinda dalam kamar untuk mempersiapkan sesuatu yang indah untuk dinda
"sudah semua pak, kami akan datang lagi besok pagi. kalau butuh sesuatu panggil saya saja pak" ucap manga udin
"iya mang" jawab reza singkat
waktu yang sudah semakin sore membuat udara makin dingin, dilihatnya dinda makin pulas dengan menarik selimut tebal yang ada dikamar itu
"sayang ngga mau bangun nih, sudah malam ayo makan malam dulu" reza menekatkan wajahnya mengecup kening dinda
"kita dimana mas? kok bukan seperti hotel" dinda melihat sekeliling kamar dari arah luar terlihat pemandangan pegunungan indah yang terlihat dari jendela kaca yang terbuka lebar
"wow, indah banget!" dinda dengan cepat beranjak dari ranjang untuk melihat apa yang baru saja ia lihat
reza mengekori dinda yang keluar kamarnya menuju balkon, "sudah malam ayo masuk besok pagi pemandanganya akan jauh lebih indah dari sini" ucap reza menuntun tangan dinda yang masih enggan untuk masuk
"kita divila ms, kenapa ngga bilang kan harusnya bawa baju tebal" dinda menyesali tak tau tujuannya tadi
__ADS_1
"banyak dilemari, ayo makan dulu isi tenaga sebelum terkuras" ajak reza sambil mengedipkan matanya