
"dinda, jangan lama-lama" reza tak sabar
"emmm, aku akan maafin mas kalau mas ajak aku jalan-jalan ke negara P" ucap dinda ragu
namun tidak dengan tanggapan reza yang langsung menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan permintaan istrinya
"tentu saja, mau berapa hari, bulan atau tahun?" ucap reza
"sungguh? ini bukan prank kan mas!" dinda memastikan
"iya sayang kita akan berangkat 2 hari lagi, mas akan urus perusahaan dady terlebih dahulu dan hanya butuh waktu satu hari besok, jadi kamu persiapkan saja dirimu" reza mendekati dinda dan memeluknya
rasanya reza amat bahagia karena istrinya tak marah yang berlarut-larut yang membuatnya tak nyaman dan tenang menjalani hidup.
saat dinda lengah reza hendak menci*ium istrinya tapi langsung ditahan oleh tangan dinda
"sebentar dulu! main nyosor aja masih ada satu sayarat lagi yang harus mas penuhi" mata dinda menatap tajam suaminya
"apalagi dinda ayo katakan pasti mas akan berikan yang istri mas mau, tapi jangan ngambek lagi ya! mas ngga sanggup kalau tidur tanpa kamu" rayu reza agar istrinya makin luluh
__ADS_1
"bisa aja gombal, emang sebelum nikah mas suka tidur sama siapa?" dinda mode jutek lagi
bukanya luluh dinda malah kesal pada suaminya yang mencoba merayunya
"ya udah apa syarat satu lagi" reza kali ini menjawab dengan wajah datarnya
"mas harus jujur semua tentang keluarga, perusahaan dan masalah apapun sama aku. kali ini masih aku maafin tapi kalau mas coba ngga jujur lagi jangan harap aku masih dismaping mas" dinda menegaskan
"iya sayang mas janji akan selalu jujur apapun itu, tapi kadang ada masalah yang tak perlu kamu tahu karena mas ngga mau kamu ikut dalam maslah" reza mengusap kepala istrinya dan membawanya dalam pelukannya
"mas hanya ingin buat kamu bahagia dinda, jadi mas hanya mau lihat senyummu bukan tangisan atau kesedihan" reza menangkup kedua pipi dinda dan mengecup keningnya
dinda terdiam dipelukan reza penuh kelembutan
"udah ya ngambeknya, kan semua sudah mas jelaskan lagian mas hanya cinta sama kamu dinda, kamu adalah orang yang paling berharga bagi mas saat ini"
"kok saat ini besok udah engga" dinda merusak momennya sendiri dengan ucapannya yang membuat reza melotot karena tak habis pikir dengan istrinya apapun yang dia ucapkan terasa saja salah ditelinga dinda
"maksud mas, kan nanti bisa punya baby jadi anak kita juga salah satu yang berharga juga bagi mas, udah ah mas mau mandi lama-lama gerah ngomong sama kamu" reza beranjak kekamar mandi meninggalkan dinda yang masih tak terima dengan ucapannya
__ADS_1
selesai dari kamar mandi reza melihat dinda mengenakan baju tidur yang membuat otaknya traveling. sudah beberapa hari keduanya tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri
dinda memainkan ponselnya seperti berbalas pesan dengan seseorang sambil senyum-senyum. tanpa sadar ada sepasang mata yang mengintainya dan hendak menerkamnya
"kamu mau godain mas din? atau ngasih kode!" reza mengeringkan rambutnya sambil melirik wajah dinda
"ngapain harus digoda, aku diem aja mas udah banyak maunya!" dinda membalikan ucapan suaminya
"hmmm, sepertinya kamu memang sudah memepersiapkannya" reza tersenyum penuh arti mendekati dinda duduk ditepi ranjang dengan masih memainkan pnselnya
reza mengambil ponsel dinda dan melihat dengan siapa istrinya chating terlihat asik.
"kenapa sih mas?" dinda mengambil lagi ponselnya
"siapa yang bikin istri mas senyum-senyum sendiri? hemm"
"maya mas, mas ingetkan temen yang dulu kepantai sama aku. dia sudah melahirkan dan tadi kirim foto anaknya" dinda menjelaskan pada reza agar tak dicurigai
"kalau gitu ayo kita susul" tanpa banyak kata reza menerkam istrinya yang belum siap dengan aksinya
__ADS_1