
" maafkan aku jika orang tuaky melakukan itu semua, aku tak tahu apapun!" ucap dinda menjelaskan
dinda juga tak menyangka jika papinya berbuat sejauh itu. tapi dinda yakin pasti ada alasan lain karena dinda tahu papinya bukan orang setega itu
namun dinda juga merasa bersalah atas apa yang menimpa varo setelah keduanya berpisah. dinda tak tahu orang yang dulu ia cintai mengalami hal yang sangat buruk
"maaf dan uangmu juga tak akan mampu mengembalikan segalanya" varo melembutkan ucapannya
"lalu apa yang harus ku lakukan untuk menebus semuanya!" dinda mencoba bernegosiasi
"jangan lakukan apapun, tetap diam disini bersamaku dan kita akan mati bersama disini tanpa ada seorang pun yang tahu" ucap varo dengan tatapan tajam
"jangan lakukan ini varo, ayo kita pulang bersama tempat ini tak baik untuk kita berdua. aku akan menurut!" rayu dinda
"tak ada tempat yang lebih baik saat ini selain bersamamu, kita akan mengulang indahnya masa kita dulu dan ada satu hal yang terlewatkan!" varo menggantung ucapannya
"dulu belum sempat ku menyentuhmu, hahahaa" varo tertawa bahagia
keingiannya dari awal ingin membuat dinda menyerah dan meberikan segalanya pada varo sampai dengan kehormatannya
"varo kisah kita sudah lama ayo kita lupakan dan mulai hidup baru! kita aksn menjadi teman oke!" dinda merasa varo bukan sepenuhnya dirinya
cukup lama keduanya berhubungan hingga dinda tahu persis sifat varo
"lupakan! mudah sekali mulutmu ini berucap" varo menekan mulut dinda dengan kedua tangannya dengan keras
"emmmm.. emmm" dinda kesakita justru membuat varo senang
gubrak
suara pintu ditendang
reza melihat istri disentuh pria lain membuat amarahnya meningkat
"lepaskan tangan kotormu itu!" reza berjalan mendekat
varo yang memegang benda tajam langsung mengarahkan pada leher dinda
"massss" dinda ketakutan
"tenang sayang!" reza berusaha mengalihkan fokus varo
anak buah reza sudah mengepung tempat dimana dinda disekap selama dua hari
"diam ditempat atau aku goreskan ini dikulit mulusnya" varo makin memancing kemarahan reza dengan menyentuh bibir dinda
__ADS_1
"letakan senjatamu! jangan sentuh istriku!" reza memeberikan kode pada anak buahnya yang dari belakang varo diam diam mendekat
tanpa varo sadari karena fokusnya pada reza
tangan varo ditendang dari belakang oleh anak buah reza yang telat terlatih
senjata tajamnya terlempar beserta varo yang tersungkur
dengang cepat reza berlari melepaskankan ikatan tangan dinda yang sudah membengkak merah akibat tali yang mengikatnya kencang
"sayang maafkan mas lama menemukanmu! reza mengusap air mata dinda merasakan adanya bekas tangan yang memerah dipipi mulus istrinya
seketika reza membalik badan dan menendang varo sekuat tenaga
"mas jangan, ayo kita pergi saja aku takut!" dinda tak ingin suaminya terkana masalah
dan rasa takutnya yang sudah ia tahan dua hari ini. kini dia bisa melampiaskan semuanya
"kita kemobil, papi tirta ada diluar" ucap reza menggendong dinda
"sisakan untukku!" ucap reza sebelum pergi
"dinda!" papi tirta keluar dari mobil dan memeluk anaknya
"hati hati!" papi tirta menuruti ucapan menantunya
dia tahu bagaimana rasanya orang yang paling dincintainya disakiti orang lain
reza mengangguk
"mas kita pukang bersama!" dinda mengajak reza
reza kembal dan memeluk dinda " sebentar lagi kamu pulang dulu sama papi, tunggu mas dirumah oke" reza mengecup kening dinda cukup lama
"mas" dinda tak reza berpisah lagi dari suaminya
"dinda turuti suamimu! ini berbahaya ayo kita pulang" papi tirta membujuk dinda
reza mengangguk menyetujui ucapan mertuanya
sekali lagi dinda memeluk reza sebelum pergi
dinda beserta papi dan anak buahnya kembali kerumahnya. tak lagi berada di vila keluarga yang lain pun dalam perjalanab pulang
reza kembali masuk kedalam dimana orang yang ingin diha*bisi dengan tangannya sendiri saat ini
__ADS_1
"bos!"
"lepaskan ikatannya!" reza mendekati varo yang masih dalam keadaan baik
"kau mau ku mulai dari mana? tangan yang sudah berani menyentuh istriku atau ot*ak yang tidak terpakai hingga berani menyakiti kekuarga atmaja!" teriak reza
"hahaha, sebelum kau dia adalah ja*langku" ucap varo dengan berani
tendangan reza mengenai perut varo yang rak bisa mengelak
tanpa basi basi lagi reza melayangkan tinjuannya pada wajah varo berkali kali hingga varo tersungkur lemas
"kau punya berapa nyawa hah!" lagi lagi reza menbogemkan tinjunya
darah diwajah varo bercucuran
saat hendak menginjak tangan varo tiba tiba
"mas sudah! cukup mas" suara dinda dalam tangisnya menghampiri reza
reza menoleh melihat dinda menghampirinya
reza yang tak fokus karena panggilan dinda. varo bangun dan menusukan benda tajam pada perut reza
"mass awas!" dinda berteriak namun terlambat
"aaaww" reza kesakitan
para anak buah yang tadinya diluar kini masuk kedalam dan mengamankan varo
menarik paksa dan membawanya ke mobil untuk diserahkan pada pihak berwajib
"masss!!!!!" dinda melihat darah diperut suaminya
seorang pria bertubuh tegap membatu reza berjalan hingga kemobil
"cari rumah skit terdekat ayo cepat!!!!" dinda berteriak
"mas, bertahan mas jangan tinggalkan aku mas" dinda menangis
"saaayang jangan menangis!" reza mengeluarkan satu kalimat sebelum tak sadarkan diri
"mass maafkan aku mas, bertahanlah.. ayo tambah kecepatannya!" dinda yang khawatir dan panik
hingga beberapa lama waktu perjalanan dinda melihat ada sebuah klinik
__ADS_1