
reza yang penasaran dengan apa yang ingin dilakukan istrinya
"sayang ini ada apa kok tiba tiba ramai begini?" reza bertanya pada dinda sambil membuka baju kerjanya
"yang aku bilang kemarin mas, aku mau deketin lulu sama dion. keduanya orang baik kalau mereka jodoh kan enak juga kita" jawab dinda dengan penuh keyakinan
"enak apanya?" reza masih tak mengerti
"ya pokoknya mereka serasi. lagian kasihan maa dion sudah berumur tapi belum juga punya pendamping" ucap dindq
"ya sudah terserah kamu saja. yang penting jangan mendahului atau memaksa orang lain apalagi ini masalah hati" pesan reza pada dinda
reza tak mau istrinya repot mengurusi orang lain meski itu saudaranya dan juga urusan hati orang terkadang memang sulit untuk dipahami
"oke sayang, ayo mas mandi aku udah laper" ucap dinda mengelus perutnya yang mulai terlihat sedikit buncit
reza berjalan menghampiri istrinya berlutut didepan dinda dan mengecup perutnya
"anak papa lapar juga? tunggu sebentar papa mandi dulu ya!" reza berbicara sendiri dengan perut dinda
rasanya aneh bagi dinda tapi inilah keajaiban yang tuhan berikan. ada mahluk lain yang hidup dan tumbuh dalam perutnya
"tunggu sebentar ya sayang" reza beranjak mengecup pipi dinda dan membasuh badanya dikamar mandi
dinda mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. ia pun berdiri membuka lemari dan menyiapkan baju untuk reza
dinda bersyukur dimasa awal kehamilanya tidak banyak mengalami kendala dan juga nyidam yang berlebih
soal makanan pun dinda tak banyak yang dihindari hanya beberapa saja yang membuatnya tidak ingin melihat atau memakannya
"mas ganteng banget pake baju itu" ucap dinda makin terpesona dengan ketampanan suaminya terlebih saat ini reza mengenakan kaos kasual berwarna hitam yang memang sangat cocok dengan badannya
"jadi selama ini istri mas baru menyadari punya susmi setampan ini hmmm?" goda reza
__ADS_1
"ralat deh! dibilang gitu langsung sombong" ucap dinda meledek
"tidak ada kata ralat sudah ayo katanya lapar tadi" ajak reza
"gendong!"tangan Dinda diukurkan pada suaminya
"oke!" reza mengangkat tubuh dinda dan digendong ala koala menggantung didepan
saat turun kelantai bawah semua mata tertuju pada kedua pasangan romantis itu
bukan karena ketampanan atau kecantikan keduanya. tapi tingkah reza yang membuat orang lupa jika dirinya bekerja dikantor sangat tegas galak bahkan tak segan dengan orang yang membantahnya
"mas malu semua orang lihatin kita" dinda ingin turun tapi dicegah reza
"biarkan saja!" reza dengan percaya dirinya tetap menggendong dinda dan menghampiri para tamu
dinda diturunkan disofa yang sudah ada beberapa orang yang datang kini merekalah yang pura pura tidak melihat apapun. padahal dalam hatinya menjerit terutama para wanita yang tentunya ingin mendapatkan perlakuan manis dan romantis dari pasangannya
"dengan haikal kak, tapi balik lagi mau meeting sama klien dulu dekat sini" jawab jeni
"ohh oke! santai saja ya" ucap dinda pada jenita yang masi terlihat kaku
"iya kak makasih"
"dion mana lu?" tanya dinda pada lulu tang tadi diminta membelikan barang dengan dion
"tadi bilang mau mandi bu soalnya ketumpahan kuah" ucap lulu
dinda mengangguk paham
"bu makan malam sudah siap!" ucap bik wati
"iya bik terima kasih" jawab dinda
__ADS_1
"ayo semua kita makan, jangan sungkan" dinda mengajak tamunya makan malam
lulu agak canggung tadi disuruh kerja tapi malah dijamu mewah
"mas mau makan sama apa?" tanya dinda
"apa aja din" ucap reza datar dinda mengangguk
"ayo dion sini duduk sebelah lulu, nanti haikal cemburu kalau duduk sebelah jenita" perintah dinda
dion pun mengikuti arahan dinda
makan malam hening tanpa suara. setelahnya obrolan pun dimulai dinda meminta lulu agar mengajari dinda membuat kue
orang tua lulu punya toko kue yang menjadi langganan dinda. itupun hanya alasan untuk menjodohkanya dengan dion
reza pun diam saja hanya mengawasi istrinya agar tak bertindak terlalu jauh
saat ini haikal datang menjemput kekasihnya karena waktu sudah malam
"lu diantar supir saja jangan naik taxi bahaya!" ucap dinda
"ngga usah bu, saya biasa pulang sendiri. terima kasih bu makan malamnya. kalau bu dinda butuh sesuatu bisa hubungi saya lagi" ucap lulu
"rumahmu arah mana?" dinda mengeraskan suaranya agar dion dan reza mendengarnya
lulu memberitahukan arah rumahnya. "dion tolong antarkan lulu pulang ya! pak pardi sudah pulang" ucap dinda yang mrmang benar adanya hari ini supir dinda diberikan cuti dadakan
"iya kak, tunggu sebentar tanggung kerjaan dikit lagi!" dion tak curiga pun mengiyakan saja sedang reza hanya tersenyum sinis pada istrinya
"terus aja kerja! " sindir dinda seketika dion langsung menutup laptopnya dan berpamitan pada bosnya
pasalnya istri bosnya lebih berbahaya dari pada bosnya sendiri
__ADS_1