
reza menind*h tubuh dinda saat ini keduanya saling menatap dengan bi*bir keduanya saling bertautan. dinda yang belum siap pun menik*mati apa yang dilakukan oleh reza
rasa rindu yang beberapa hari ini dirasakan keduanya karena kesalah pahaman kini seperti meluap dan ingin segera dituntaskan.
"i love you" ucap reza ditelinga dinda
merinding sekujur tubuh yang kini dinda rasakan karena ulah suaminya, namun dia tetap diam dan mengikuti apa yang suaminya inginkan
rasa marah dan kesla kini sirna karena kebenaran terungkap dan bukti keduanya saling mencintai membuat dinda melupakan apa yang terjadi sebelumnya
tangan dan bi*bir reza tak berhenti bergerilia membuat sang istri menginginkannya\, suara des*h*n dinds terdengar merdu ditelinga reza\, suara yang beberapa hari ini sangat ingin dia dengar
keduanya kini sudah siap dengan pertempuran ranjang yang mengg*irahkan. saat reza akan melakukan kekegiatan inti tiba-tiba
"bentar mas, kok rasanya ada yang aneh" dinda mendorong tubuh reza yang tanpa sehelai benang pun menepel ditubuhnya saat ini, ia berlari kekamar mandi untuk memeriksa sesuatu dan benar saja
"mas...mas!" dinda berteriak
"ada apa sayang. buka pintunya kenapa?" reza panik mendengar suara teriakan dinda dari dalam
tak lama kemudian suara pintu terbuka muncullah kepala dinda dengan perasaan tak enak
"mas aku, tolong ambilkan pemb*lut dilemari" dinda menunduk merasa bersalah karena suaminya sudah sangat menginginkannya tapi kini apalah daya memang sudah kodratnya wanita
__ADS_1
"maaf!" ucap dinda
"tunggu sebentar" reza memakai celana pendeknya dan mencari apa yang diminta oleh istrinya
setelah menemukan barang yang dicari reza segera memberikanya pada dinda yang masih menunggu dikamar mandi
dinda keluar kamar mandi dan memakai bajunya, mendekati reza yang sedang menggunakan ponselnya untuk menghubungi seseorang
"mas, maaf ya" ucap dinda saat reza selesai dengan ponselnya
"ngga apa sayang, belum rezekinya mas. harus puasa lagi padahal baru mau buka" reza menyentil kening istrinya yang merasa tak enak
"au sakit mas"
dinda merasa bahagia bisa bersama dengan reza yang menghormatinya dan juga menyayanginya. senyum bahagia menjelang tidur lelap keduanya
****
"pagi mam, dad" sapa dinda pada mertuannya
"pagi sayang" ucap kedua mertuanya bergantian
"reza mana din?" tanya pak farhan
__ADS_1
"masih tidur tadi dad" ucap dinda sembari membatu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan
"mam, dinda mau buat jus buat mas reza, mami mau?" dinda menawari terlebih dahulu karena mertuanya terbiasa sarapan dengan susu
"tidak sayang, terima kasih" mami tania menyahuti dinda
dinda sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya dan kembali kekamar untuk membangunkan suaminya
"mas ayo bangun dady sudah nungguin tuh dibawah" dinda menggoyangkan tangan reza
"bentar sayang, masih ngantuk'" reza menarik tangan dinda dan membawanya dalam pelukannya
"ohh si*al" reza beranjak berlari kekamar mandi
"mas kamu kenapa?" dinda yang khawatir mengahampiri reza yang tiba-tiba masuk kamar mandi
"mas!" dinda menggedor pintu kamar mandinya
"kamu turun dulu sayang, mas mau menuntaskan dulu" ucap reza tersengal
pagi hari yang membuatnya harus bersolo karir dikamar mandi, kesal tentu saja itu yang dirasakan reza karena semalam tak tertuntaskan jadi paginya dia begitu sensitif saat istrinya mendekatinya
"dasar mesum!" dinda keluar kamarnya dan kembali ke meja makan
__ADS_1
"mas reza akan segera menyusul" ucap dinda karena mertunya menatap seperti ingin bertanya