
"mas sudah !" dinda memukul dada reza saat keduanya melepaskan pagutannya
"kenapa, apa ada yang marah padaku!" reza takut dinda sudah memiliki pasangan karena kini hatinya mulai terisi oleh dinda
"tentu saja! kau akan dibunuh papiku saat tau anaknya berkali-kali kau cium paksa" dinda mengucapkannya dengan ragu
"kamu merasa terpaksa?" tanya reza
"ahhh ngga tau lah. sudah sana ke kamarmu aku lelah mau tidur" usir dinda pada reza
"tunggu dulu, ini kamarku jika kau mau tidur terpisah maka kau yang pindh kesebelah" reza menujuk pintu keluar
"menyebalkan! tidak peka pada wanita, manusia es wajah tembok" teriak dinda saat keluar dari kamar reza. sedangkan reza hanya tersenyum dengan tingkah dinda
" berikan laporan bulan ini ke kamarku sekarang!" ucap reza menghubungi seseorang melalui panggilan telfonya
"ini pak, tamu restoran dan hotel kita bulan ini meningkat pak, terlebih akan dibangunya kantor cabang dari perusahaan ternama" ucap asisten reza dikota B
"baiklah segera kembali dan kerjakan tugasmu dengan baik. saya akan kembali satu bulan lagi" ucap reza pada dion orang baru saja menyampaikan laporan
"iya pak, saya permisi" dion keluar dari kamar reza
__ADS_1
reza sejenak memikirkan bagaimana keadaan orang tuanya sekarang. ia mulai bimbang untuk kembali keluar negeri. namun pikiran itu tergantikan dengan dinda. reza keluar kamarnya dan mengetuk pintu kamar dinda
"dinda kamu sudah tidur, din buka pintunya!" reza berteriak ruanganya hanya ada tiga kamar yang salah satunya kamar reza. dan itu hanya diperuntukan bagi orang penting saja kecuali kamar reza
suara pintu kamar dibuka, dinda terlihat sangat kusut dan pipinya lembab
"kamu menangis lagi?" tanya reza menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya
reza menggendong dindadan kembali masuk kekamarnya. dengan wajah kesal ia menatap dinda dan memberanikan diri menanyakan apa masalah dinda sebenarnya.
"kamu mau cerita atau aku telfon papimu sekarang jika kau menagis tanpa sebab!" ancam reza yang tak tahan melihat air mata dinda terus menetes
"aku tak tau! kenapa ini masih begitu sakit, padahal sudah bertahun-tahun dan aku sudah melupakanya" ucap dinda makin keras menangis dan reza merengkuh tubuh kecil dinda
"bukan mas reza, tapi rendang" dinda makin mengenggelamkan wajahnya pada dada reza
"rendang?" reza tak mengerti ada apa dengan makanan yang banyak digemari banya orang itu
dinda pun sambil menangis menceritakan bagaimana kisah cintanya dulu, bahkan sedikit membuat reza tak nyaman karena dinda begitu mencintai kekasihnya dulu. setelah menceritakan semua dinda menjadi sedikit lega karena reza terus mendengarkan dan mengusap punggungnya.
dinda tertidur dipelukan reza setelah lelah menangis dan bercerita. reza menatapnya dengan kelembutan tak menyangka wanita seperti dinda juga masa lalu buruk yang terus menghantui seperti yang reza juga rasakan.
__ADS_1
reza mengangkat dinda dan menidurkanya diranjang, sedangkan ia mengambil selimut dan tidur disofa yang tak jauh dari ranjang dimana dinda tertidur
pagi hari dinda nampak segar dan menggeliat. ia baru sadar berada disebuah kamar yang bukan miliknya. ia mengingat lagi dan baru ingat semalam dia.
"aaaaaaa" dinda menutup matanya melihat reza tidur tanpa mengenakan atasan dan hanya memakai celana pendek selutut
"mas reza kenapa tidur disini juga, pakai bajunya dasar tak tau malu!" ucap dinda
"diamlah kepalaku pusing mendengarmu pagi-pagi berteriak. kau yang membuat bajuku basah dan kau juga yang tidur dikamarku jadi bukan salahku" reza kembali melanjutkan tidurnya yang saat ini masih sangat pagi untuk bangun
dinda mengecek bajunya masih utuh dan juga tak ada tanda merah diseprai tempatnya tidur.
"syukurlah aman" ucap dinda mendapatkan tatapan dari reza
"apanya yang aman?" tanya reza membuat dinda terkejut
"astaga kenapa membuatku selalu jantungan" ucap dinda memegang dadanya
tanpa malu reza menuju kamar mandi dan melalukan ritual mandi pagi setelahnya memakai kemeja karena masih ada yang harus ia kerjakan sebelum cuti untuk mengusrusi perusahaan dadynya diluar negeri
"mas reza mau kemana sudah rapih?" tanya dinda
__ADS_1
"aku harus ke proyek lagi sebentar ada laopran yang perlu ku buat sebelum" reza menggantungkan ucapanya "kamu disini saja dulu kalau mau sarapan pesan saja tidak usah keluar kamar
"aku tak akan lama" ucap reza lagi dan menyambar kunci mobilnya lalu keluar kamar hotel menuju proyek pembangunan kantor cabang baru