
sekitar lima jam operasi berjalan akhirnya dokter keluar. semua keluarga yang menunggu bangun dari duduknya menghampiri sang dokter
"bagaimana istri saya dokter?" reza menghampiri dokter dan langsung menyercanya dengan pertanyaan karena rasa takutnya
"berjalan baik, mohon maaf anak anda tidak bisa kami selamatkan!" ucap dokter lemas
sebagai seorang calon ayah untuk anak pertamanya ini bagaikan petir menyambar disiang bolong. reza tak kuasa menahan badannya kakinya tergulai lemas
"pasien akan dipindahkan keruang perawatan, setelah sadar baru boleh dijenguk" ucap sang dokter pergi meninggalkan para penunggu pasien
"nak ayo bangun, kita harus kuat untuk menguatkan dinda!" mami ana dengan suara bergetar menahan kesedihan yang amat dalam
namun dirinya masih bersyukur anaknya masih dapat diselamatkan. jika tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini
"iya mi, terima kasih" reza menyambut uluran tangan mertuanya
"kita makamkan besok pagi saja setelah dinda sadar" lanjut reza lagi
"kami ikut saja bagaimana baiknya" ucap mami ana
"bik sebaiknya pulang saja siapakan baju ganti untuk dinda dan juga reza. bik wati bisa istirahat biar bajunya diantar supir saja" ucap mami ana lagi memberi perintah
__ADS_1
"baik bu" bik wati mengangguk mengerti perintah majikannya
papi tirta duduk terdiam tak bersuara, jantungnya masih bergedup sangat kencang dan juga sesak didadanya
hatinya perih terisris melihat anak tunggalnya mengalami hal yang menyakitkan
bukan karena marah pada menantunya juga bukan menyalahkan keadaan hanya saja papi tirta ikut merasakan apa yang dinda rasakan.
"pi,mi sebaiknya kalian pulang saja istirahat ini sudah malam, besok pagi datanglah lagi kemari jika dinda sdar nanti reza akan segera beri kabar" ucap reza meilhat mertuanya terlihat mengantuk juga lelah
"mami mau disini saja menunggu dinda!" mami ana tak mau meninggalkan anaknya yang sedang terbaring tak sadarkan diri saat ini
"benar kata reza mi, kita pulang dulu besok gantian reza yang istirahat" ajak papi tirta mulai bersuara
reza mengangguk paham, wajah kusamnya menahan amarah dan sedihnya sendiriĀ entah apa yang akan ia katakan pada istrinya jika dinda tahu calon buah hati keduanya telah tiada.
reza tak sanggup melihat kesedihan diwajah istrinya yang dapat dipastikan akan lebih sedih dari siapapun, dinda yang mengandung dan merasakan beratnya masa kehamilan pertama
kini belum sempat melihat wajahnya namun keduanya harus berpisah untuk selama lamanya
reza masuk kedalam ruang perawatan dinda yang sudah berpindah setelah operasi tadi. sudah dua jam sejak selesai operasi dinda msih juga belum sadarkan diri
__ADS_1
"sayang maafkan mas, mas salah! mas yang tak bisa menjagamu, maafkan mas sayang" reza menangis juga dihadapan istrinya, air matanya tak lagi dapat ia tahan
tangan dinda dalam genggamannya dikecup lembut beberapa kali untuk menghilangkan sesak di dadanya. hingga dini hari dinda remang remang mendengar suara tangisan dari samping tempat tidurnya
"mas, kenapa gelap sekali!" dinda mulai terbagun dari sisa obat bius ditubuhnya
"sayang kamu udah sadar! mas panggilkan dokter dulu" reza memencet tombol untuk memanggil perawat
"maaf pak bisa keluar sebentar biar saya periksa pasien dulu" ucap suster yang baru tiba
reza menuruti perintah perawat dan keluar ruangan kamar dinda, gugup masih menyelimuti hati reza bagaimana cara menjelaskannya pada sang istri. reza memutuskan mengabari mertuanya bahwa dinda sudah siuman
namun reza melarang keduanya datang karena watu sudah cukup malam. reza meminta besok pagi menenmani dinda dsan reza akan mengurus pemakaman calon bayinya
"istri anda baik baik saja pak, hanya butuh waktu untuk pemulihan sebaiknya cari waktu yang tepat untuk memberitahukan kabar yang kurang baik" saran suster kemudian meninggalkan reza
"sayang! kamu mau minum?" reza menyodorkan segelas air putih pada dinda
dinda menggelengkan kepalaanya yang masih terasa pusing. "mas kenapa perutku sakit" ucap dinda hendak membuka bajunya tapi dilarang oleh reza
"tenang ya sayang, kamu tiduran aja lagi biar ngga sakit! mas temani ya" reza naik keranjang tidur dinda yang cukup untuk berdua
__ADS_1
reza merengkuh tubuh istrinya memeluknya denga lembut agar tak menyakiti dinda, diusap usapnya kepala dinda dengan belaian sayang. dinda tertidur lagi meski masih merasakan sakit yang aneh pada tubuhnya