
"terima kasih atas jamuan makan malamnya pak tirta ,bu ana" ucap pak farhan setelah mereka selesai dengan makan malamnya
"iya pak kami juga terima kasih atas kunjungannya, kami sangat berbahagia" ucap pak tirta
"bagaimana jika kita mengobrol lebih santai dulu, mari ke taman belakang saja agar lebih santai" ajak pak tirta pada pak farhan dan nino
mami ana dan mami tania masih setia diruang tv, menceritakan masa lalunya yang sempat akrab karena mami ana adalah mantan dari kakak mami tania
sedangkan reza tentu saja dia terus ingin bersama dengan calon istrinya. dinda mengajaknya ke lantai dua dimana ada balkon yang cukup luas dan beberapa kursi disana
"apa kau senang?" pertanyaan macam apa yang dilontarkan reza karena masih gugup
"jangan bertanya yang sudah tau jawabanya, apa kau tak bisa lihat gigiku hampir kering karena terus tersenyum!" jawab dinda
"benarkan biat kulihat" reza mendekati dinda dan seperti biasa bibir dinda yang sedikit tebal menjadi terlihat lebih se*xy dan membuat candu bagi reza untuk terus saja menyentuhnya
reza mengecup bibir dinda sekilas dan melalukan hal yang sama beberapa kali. dinda hanya diam saja menikmati
__ADS_1
"mas sudah nanti ada yang lihat" ucap dinda mendorong reza
"tadi katanya kering jadi aku basahi" ucap reza dan memeluk dinda dengan erat
"terima kasih sudah menerimaku, meski kau tak tau banyak tentangku" reza mengatakanya dengan masih memeluk dinda
"tentu saja jika bukan aku siapa lagi yang mau denganmu!" ucap dinda membuat reza merenggangkan pelukannya dan menatap dinda tajam
"hahahaa"dinda tertawa geli
"mas bolehkah aku memesan baju untuk akad nikahnya ditemanku, maya?" ucap dinda
"tentu saja boleh, besok mas akan antar!" reza mengganti panggilan dengan kata mas saat ini yang terlihat manis meski bukan seperti reza yang biasanya
"mas kita dilarang bertemu dulu, jangan melanggar ucapan orang tua" ucap dinda
"hmm baiklah tapi kau harus diantar supir tidak boleh bawa mobil sendiri" ucap reza
__ADS_1
waktu sudah malam dan reza berpamitan untuk pulang, keduanya dilarang bertemu dan video call untuk mencegah hal tak diinginkan terjadi. ponsel dinda disita oleh mami ana sedangkan reza tidak karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan melalui ponselnya
*
hari ini dinda datang ke butik milik temannya yang bernama maya. dengan diantar supir dinda mengatakan pada temannya jika minta dibuatkan kebaya untuk acara pernikahan. meski waktunya tinggal sebentar lagi tapi maya menyanggupi untuk membuatkan baju yang diinginkan dinda
pulang dari butik maya, dinda sudaj janjian dengan calon mertuanya untuk memanjakan diri disalon kecantikan langganan mami ana, keduanya akan melakukan perawatan dari berbagai macam. awalnya mami ana juga akan ikut namun suaminya minta ditemani untuk rapat diluar kota
"bagaimana sayang, apa lebih segar tubuhmu?" tanya mami tania setelah keduanya selesai dengan rangkain perawatan
"iya mam, terima kasih ya" ucap dinda sopan
"jangan berterima kasih, mami senang akhirnya punya anak perempuan yang bisa diajak belanja dan kesalon bersama" ucap mami tania
"mami antar pulang ya sekalian mau ketemu mamimu, untuk menanyakan persiapan acara kalian" ajak mami tania pada calon mantunya. baginya meski reza anak tiri tapi tak mengurangi rasa kasih sayangnya pada reza dan menganggap dinda juga anaknya
tiba dirumah dinda mami ana menyambut calon besan sekaligus teman lamanya, sedang dinda pamit untuk ke kamar cukup lelah dengan kegiatan hari ini. karena dilarang menggunakan ponsel dinda membuka laptopnya untuk menonton film favoritnya yaitu drakor hehehe
__ADS_1