Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Syok


__ADS_3

******


"pagi sayang" mami ana mendapati anaknya masih tertidur pulas didalam dekapan menantunya


senyumnya tersirat dalam kesedihan lalu ia keluar dan menunggu keduanya bangun dikursi tunggu depan kamar rawat dinda


reza terbangun mendengar suara pintu tertutup dilihatnya sekeliling tidak ada orang yang ada didalam ruangan. lalu beranjak kekamar mandi sebelum dinda terbangun. disofa yang ada dalam ruangan itu terdapat sebuah tas yang didalamnya berisi baju untuk berganti reza


ia mengambilnya lalu menggantinya dikamar mandi. "ini apa mas!" dinda yang telah bangun melihat perutnya terdapat jahitan berteriak hingga suaranya terdengar dari luar


reza membuang handuknya begitu saja lalu menghampiri istrinya yang histeris. 'sayang tenang dulu mas akan jelaskan semuany. kamu tenang ya" reza memeluk istrinya erat agar tak makin kuat berteriak


"ada apa ini!" mami ana masuk kedalam ruangan rawat dinda dengan khawatir


"ada apa sayang" mami ana kini memeluk anaknya sambil menangis "tolong tenanglah mami ada disini untukmu" mami ana mengusap punggung anaknya


"selamat pagi bu, pak. ada yang perlu kami sampaikan" ucap dokter mengajak reza untuk datang keruangannya


"aku ikut!" ucap dinda

__ADS_1


"kamu tunggu si...." ucapan reza terputus


"engga! aku harus tahu semuanya" dinda bersikeras dokter pun mengizinkan karena kondisi dinda yang sudah cukup pulih


reza membawa dinda dengan kursi roda menuju ruangan dokter bersamanya. sementara mami ana menunggu diruangan dinda dan papi tirta sedang mengurus pemakaman untuk calon cucunya yang belum sempat ia lihat wajahnya


"setelah kami analisis, ternyata calon bayi dalam kandungan ibu dinda memang tidak berkembang" ucap dokter memberikan penjelasan


"maksud dokter?" dinda tak paham masih belum mengetahui jika calon anak dinda sudah tak berada dirahimnya lagi sekarang


"jadi keputusan untuk menggugurkannya adalah yang terbaik, jika tidak dilakukan makan akan membahayakan bagi bayi dan ibunnya sendiri tentunya" ucap dokter lagi


"kita dengarkan dokter dulu sayang, atau kamu mau keluar bersama mami?" reza menennagkan dinda


dinda yang masih bingung dengan kedaanya saat ini ingin terus mendapat penjelasan dokter hingga dirinya mengerti. kini tak ada lagi calon buah hatinya didalam tubuhnya


suara teriakan yang tadi keras kini suaranya entah hilang kemana, tangisnya pun tak lagi mengeluarkan air mata


"sabaiknya ibu istirahat dulu, kami tahu ibu sangat bersedih namun anak adalah titipan jika yang menitipkan belum berkehendak, maka siapapun tak dapat mencegahnya. semoga ibu dan bapak segera diberikan kepercayaan kembali" ucap dokter yang seakan mengerti dengan kaeadaan dinda

__ADS_1


"terima kasih dokter" reza mendorong kursi roda yang diduduki dinda menuju ruang rawatnya lagi


syok , tentu saja rasa sakit yang ada dibadan dinda tak sebanding dengan sakit kehilangan calon anak yang didambakannya


mami ana akan bertanya tapi reza memberikan kode untuk tidak berkata apapun saat ini. perasaan dindalah yang jadi prioritas reza saat ini meski hatinya pun tak kalah pedih.


dinda dibaringkan lagi keranjang tidurnya dengan wajah yang sulit diartikan, muliutnya bungkam  tak bersuara tubuhnya lemas bagai tak bertulang


inilah yang paling ditakutkan reza, hatinya akan runtuh melihat istri tercintanya mengalami sakit yang paling dalam


"sayang!" reza memanggil dinda tak ada sahutan


mami ana pun mendekati anaknya yang diam bak patung. "sayang, jangan begini lihat mami nak, mami disini" ucap mami ana panik


"reza panggilkan dokter dulu mi" reza berlari memanggil dokter


dokter memeriksa keadaan dinda tak ada yang terluka pada tubuhnya, namun dapat dipastikan mental dinda saat ini sedang tidak baik baik saja


"sebaiknya jangan pulang dulu, tunggu dua atau tiga hari lagi agar kami mudah memantau pasien" ucap dokter yang baru saja memeriksa dinda

__ADS_1


__ADS_2