
pagi hari setelah sarapan para lelaki berangkat ke kantor dady farhan. papi tirta juga ikut untuk melihat perusahaan yang diceritakan oleh reza pada sang mertua sedang mengalami masalah.
awalnya reza tak mengatakan apapun tentang perusahaan dadynya namun papi tirta diberitahu oleh orang yang diminta untuk mencari informasi tentang reza.
dengan senang hati papi tirta berniat membantu perusahaan dady farhan yang diambang kebangkrutan perbuatan dari ayah jesika yang bernama alex.
"silahkan masuk pi" ajak reza mempersilahkan mertuanya masuk kedalam ruang kerjanya sedangkan dady farhan langsung masuk kedalam ruanganya agar tak dicurigai oleh mata-mata alex yang menyamar menjadi karyawan
reza sengaja tak memecat orang tersebut agar mudah untuk menyampaikan informasi palsu pada alex melalui anak buahnya.
"perusahaan sebesar ini bisa dengan mudah pindah ke tangan orang lain, pasti dengan cara yang tak benar" ucap papi tirta menganalisis keadaan yang terjadi
"begitulah pi, dan yang paling menyebalkan adalah alex memaksa dady untuk menikahkan saya dengan anaknya untuk bertukar dengan perusahaan ini" ucap reza mendapatkan sambutan wajah tak menyenangkan dari papi tirta
"apa maksudmu!"
"tenang pi, reza jelaskan semuanya! dinda tidak mengetahui ini dan saya hanya bercerita dengan papi agar tak menjadi kekhawatiran untuk dinda" reza mencoba menenangkan papi tirta
"langsung saja! jangan bertele-tele atau kamu sengaja mau mempermainkan dinda!" papi tirta sedikit menaikan nada bicaranya
reza menceritakan bagaimana liciknya keluarga jesika yang sebelumnya menjodohkan dengan reza dengan anaknya, akan tetapi anaknya berhianat dan malah menuduh reza yang memutuskan sepihak sampai dengan reza mengenal dinda dan segera menikahinya adalah cara reza untuk menghindar dari pernikahan dengan jesika yang terus memaksanya
papi tirta pun mulai mengerti dan akan membantu melindungi anaknya dari jarak jauh agar dinda tetap aman sementara reza menyelesaikan maslah perusahaan dadynya tanpa melibatkan dinda.
"papi percayakan dinda padamu, tapi jika satu titik saja kamu menyakitinya jangan harap kehidupanmu dan keluargamu akan baik-baik saja!" tegas papi tirta
__ADS_1
keduanya pun mulai menyusun siasat agar papi tirta berpura-pura menjadi investor dan akan membantu sang menantu agar segera kembali ke negara asal mereka
********
disisi lain para wanita berjalamn-jalan untuk mengahabiskan uang suami dengan berbelanja dan memanjakan diri di salon kecantikan
"mami, ayo berangkat nanti kesorean!" dinda memanggil kedua maminya yang lama berganti pakaian
"mami siap" ucap mami tania mengahmpiri menantunya dan juga mami ana yang datang dari belakang dinda
"let's go! kali ini dinda yang traktir!" ucap dinda
"ngga!" ucap mami ana dan tania bersahutan
"tenang mi, uang tabunganku masih banyak dari papi juga belum kepake sekarang punya suami nambah lagi pendapatannya" dinda tertawa geli saat ingat suaminya selelu mentranfer uang tanpa diminta padahal saat belanja dinda masih suka dibayarin oleh suaminya
"ngga papa ana, kita kuras uang anak-anak kita kali ini" ucap mami tania mengedipkan sebelah matanya memberikan kode
ketiganya setuju untuk dinda yang mentraktir makan, belanja dan juga berbagai treatment di salon agar wajah ketiganya makin mulus dan glowing
saat sampai di mall ketiganya memlih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum menguras tenaga untuk shoping dan juga nyalon.
"kalian cari tempat duduk dulu, dinda ke toilet sebentar ya mi, mam" izin dinda dan melangkah mencari arah ke toilet
saat selesai dengan kegiatanya dinda hendak keluar dari kamar mandi tapi pintunya terkunci
__ADS_1
"siapa diluar, tolong bukakan pintu!( dalam bahasa asing)"
"tolong! buka kan pintu" dinda mulai ketakutan tiba2 lampu pun mati dan terdengar suara wanita
"hai wanita tak tau diri!" ucap seorang wanita yang berbahasa sama dengan dinda
"siapa diluar, tolong buka pintunya" lampu menyala namun pintu masih belum bisa dibuka
"jangan senang dulu! aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku! " suara wanita itu menghilang dan pintu dapat dibuka
saat dinda keluar sudah tak ada siapa pun dan hanya ada beberapa wanita yang akan masuk ke toilet
"apa maksud orang tadi, apa dia mengenaliku atau hanya salah orang" dinda terus bergumam dan tak tau jika orang yang mengancamnya sedang melihatnya dari kejauhan dengan senyum semiriknya
dinda tak mau ambil pusing karena tak meras punya maslah dengan siapapun, terlebih disini dia baru dan belum mengenal banyak orang. dinda kembali kedua maminya dan tak mamikirkan hal yang baru saja terjadi ketiganya makan siang dan melanjutkan kegiatan lain hingga waktu menjelang malam waktu setempat
"hai sayang" reza tiba di mall dan mengecup pipi dinda didepan orang tua dan mertuanya
"mas bikin kaget aja, kok tau kita disini" dinda memukul lengan suaminya yang membuatnya terkejut dan juga malu karena reza tiba-tiba menciumnya
"mas dapat informasi dari kartu kerdit tadi" ucap reza melirik sekilas pada dinda
"hehhehe,, ngga apa-apa kan?" tanya dinda ragu
"tentu saja!" reza tersenyum menjawab istrinya "dinda pulang sama saya aja mam, mi. ditempat parkir sudah ada sopir yang menjemput mami" ucap reza yang masih ingin mengajak dinda pergi kesuatu tempat
__ADS_1