
"mas mandi dulu aku tunggu dibawah ya buat makan malam" ucap dinda dan diangguki oleh reza
makan malam selesai seperti biasa dilanjutkan mengobrol santai diruang keluarga
"dad, mam dan kakakku besok nino mau keluar kota untuk urus bisnis dady yang tak diketahui oleh alex. disinikan sudah ada kak reza yang bantu dady jadi kita bagi tugas saja" ucap nino dengan pemikiran dewasanya biasanya ia hanya suka becanda dan tak serius soal urusan bisnis. nino mengandalkan kakak dan dadynya
"kenapa mendadak nak" mami tania tak tau kalau anak bungsunya akan pergi
"ini sudah direncanakanya mi, sepertinya ada seorang gadis yang membuatnya semangat untuk bekerja saat ini" jawab dady farhan
"tentu saja dad aku juga mau menikah seperti kak reza!" ucap nino mendapatkan lirikan dari kakaknya
"wah kita akan punya teman baru lagi mam, pasti seru!" ucap dinda senang jika adik iparnya punya istri
"benar sayang mami punya anak perempuan satu lagi, dan akan banyak cucu pasti akan ramai rumah mami" ucap mami tania
para lelaki sibuk membahas bisnis dan sang wanita sedang membahas tentang dunia perbelanjaan
semua kembali ke kamar masing-masing , juga reza dan dinda yang masuk ke kamarnya
"mas aku boleh bantu pekerjaanmu dikantor? aku akan bosan jika berdiam diri terus disini" ucap dinda pada suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya
"kenapa? apa kamu tak yakin mas bisa menghidupimu hmm?" tanya reza saat istrinya ingin bekerja
"ngga mas, aku ngga minta apa-apa hanya takut bosan saja menunggumu dirumah setiap hari" dinda mendekati reza yang duduk disofa
"tapi boleh juga! mas butuh sekretaris untuk atur jadwal mas masalah pekerjaan dihotel dan juga perusahaan dady. bukankah mas tak perlu membayar jika istri sendiri yang bekerja?" ucap reza menggoda dinda
"mana ada seperti itu! kerja ya harus dibayar mana ada yang gratisan" ucap dinda kesal
"ada nanti kamu akan tau!" reza mengajak dinda tidur dan menarik nya dalam pelukan hangat
dinda ingin memberontak tapi pelukan reza membuatnya nyaman, keduanya terlelap tanpa kegiatan lain layaknya pasangan suami istri lainya
**
pagi hari mendengar suara dering alarm diponselnya. membangunkanya dari mimpi indah dan pelukan hangat suaminya
dinda merenggangkan lengan reza perlahan agar tak bangun. ia mencuci muka dan turun kebawah membantu mertuanya menyiapkan sarapan
"sudah bangun sayang, hari ini kita hanya sarapan roti apa kamu mau yang lain?" tanya mami tania
"itu saja mam, dinda dan mas reza makan apa saja kok" jawab dinda sedang memanaskan air untuk membuat kopi suaminya
"sudah siap kamu kembali saja ke kamar siapkan keperluan suamimu, biar ini dilanjutkan bik darmi" ucap mami tania yang memang mempekerjakan beberapa orang dari negara asalnya
__ADS_1
"iya mam, dinda keatas dulu ya" dinda kembali ke kamar dan mendapati suaminya baru keluar dari kamar mandi
dinda terlihat malu melihat reza keluar dengan handuk saja dililitkan dipinggangnya. padahal sudah beberapa kali ia melihat itu
"kenapa diam saja disitu, tutup pintunya atau kau mau membagi tubuh indah suamimu pada orang lain!" ucap reza menuju ruang khusus untuk bajunya
"biar aku saja mas!" dinda mengejar suaminya untuk menyiapkan baju kerja reza
dinda menyiapkan keperluan reza untuk ia kenakan hari ini dikantor.
"apa kau benar-benar ingin bekerja?" tanya reza menatap dinda saat selesai memakai bajunya
"jika dibolehkan!" ucap dinda datar
"nanti saja saat kita pulang ke negara kita, mas akan izinkan kamu bekerja tapi asal jangan melupakan tugasmu pada suami" ucap reza membuat dinda senang dan tanpa sadar memeluk suaminya
"apa kau menggodaku?" dinda tersadar dan melepaskan pelukannya tapi reza malah menariknya
cup, reza menyentuh bibir dinda sekilas. sangat sulit bagi reza menahan dirinya untuk tak menyentuh istrinya
"mas! aku belum mandi" ucap dinda
"kalau begitu mandilah mas tunggu!" ucap reza
"kau harus kerja mas!" dinda mulai kesal
reza hanya geleng-geleng kepala sampai kapan status perjakanya bertahan
"ahhh tunggu!" reza melihat kalender diponselnya senyum menyeringai muncul diwajah datarnya.
ya reza melihat kalender yang menunjukan dinda dan dirinya sudah satu minggu menikah. itu artinya dinda sudah bisa diajak menanggalkan statusnya
keduanya turun kebawah untuk sarapan dan reza berpamitan untuk ke kantor.
"hati-hati mas" ucap dinda seperti biasa reza hanya mengangguk saja
dinda dan mertuanya asik menonton film kesukaanya, sedang nino sudah berangkat pagi tadi keluar kota
"halo iya mas, aku dirumah sama mami kenapa?" tanya dinda saat mengangkat telfon dari reza
"kami persiapkan barang-barang kita, sore nanti pulang kerja kita akan pindah ke apartemen" ucap reza
"kenapa buru-buru mas?" tanya dinda
"tak apa, nanti saja mas jelaskan dan kita pamit setelah mas pulang oke!" ucap reza
__ADS_1
" iya mas" dinda menutup panggilan di ponselnya
"kenapa sayang!" mami tania khawatir
"ngga apa apa mam, mas reza hanya memberi kabar saja" dinda sedikit berbohong
keduanya merencakana makan siang bersama diluar agar tak bosan, dinda juga membeli beberapa barang yang tak sempat ia bawa sebelum pergi
saat makan siang disalah satu restoran di sebuah pusat perbelanjaan
"tante tania?" ucap seorang wanita yang cukup cantik
"jesika, kamu dengan siapa?" tanya tante tania ramah karena memang tak mengetahui masalah yang terjadi diperusahaan karena ulah ayah jesika
"sendiri tan, ini siapa?" jesika penasaran karena setau dia. reza tak memiliki adik perempuan
"kenalkan dia istri reza, namanya dinda" mami tania memperkenalkan menantunya
"dinda"
"jesika"
keduanya berjabat tangan dan dengan perasaan kesal jesika pamit untuk pergi. tapi tak menunjukan sikap kesalnya
"bagaimana sayang apa kamu suka?" mami tanya menanyakan makanan yang di pesan oleh dinda
"enak mam, mau coba?" dinda menyendokan makananya ke mulut mertuanya
seperti anak dan ibu keduanya sangat akrab meski baru sebentar bersama. ada dua pasang mata yang tak suka melihat tawa keduanya
"si*alan mereka mempermainkan ku!" jesika diam-diam masih mengintai keduanya
**
reza sudah pulang dari kantor dan mendapati istrinya tak ada dirumah. dinda lupa mengabarkan jika akan pergi dengan mami tania ponselnya tertinggal dikamar
"bik darmi mami sama dinda kemana?" tanya reza pada salah satu pekerjanya
"tadi mau makan siang diluar katanya den, mungkin sebentar lagi pulang" ucap bik darmi
"terima kasih bik" ucap reza melangkahkan kakinya menuju kamar. dilihatnya ponsel istrinya tergeletak dikasur
menunggu istrinya yang tak kunjung datang reza memutuskan mandi terlebih dulu
"mas maaf aku pergi sama mami dan lupa bilang" ucap dinda takut
__ADS_1
"ya sudah tak apa kali ini, jangan ulangi lagi membuat mas khawatir!" ucap reza