
dua jam perjalanan dilalui reza dan dion untuk sampai ditempat meeting bersama klien untuk proyek baru. reza datang tepat waktu menuju tempat yang telah dipesan oleh kliennya
dion membaca prososal kerjasama dan memberikan pada reza saat sudah yakin jika tidak ada yang salah atau tidak sesuai. reza hanya membaca sekilas karena selain percaya dengan dion reza sudah dapat menyimpulkan suatu prosposal dengan mudah dari pengalamannya
"kami menunggu keputusan pak reza untuk bekerjasama dengan perusahaan saya" ucap direktur perusahaan yang menginginkan kerjasama dengan perusahaan reza
"kami akan kabarkan segera setelah menyesuaikan dengan proyek yang akan kami kerjakan" ucap reza tegas
"terima kasih pak atas waktunya" keduanya berjabat tangan tanda pertemuan sudah berakhir
"kita langsung pulang atau kelokasi proyek pak?" tanya dion
"sebentar! " reza meminta dion untuk mengecilkan suaranya
"halo iya pi, ada apa pi?" reza mendapat panggilan telfon dari snag mertua
"ada pekerjaan apa sampai sekertaris papi diminta kerumah oleh dinda?" tanya pak tirta
"kapan pi?" reza tak mengetahui
"nanti sore, papi hanya penasaran saja apa dinda mulai bekerja lagi?" tanya pak tirta khawatir
"tidak pi, dinda hanya cukup tanda tangan saja semua sudah reza kerjakan dan juga asisten dinda keyla" jawab reza yang apa adanya
__ADS_1
"reza sedang diluar kota pi, nanti reza akan tanyakan pada dinda" lanjut reza lagi
"baiklah, tidak masalah papi hanya takut dinda kelelahan saja saat ini kandunganya masih terlalu muda" penjelasan pak tirta agar menantunya tak tersinggung
"iya pi, terima kasih atas perhatian dari papi" keduanya membahas pekerjaan sebentar kemudian memutuskan panggilan telfonnya
reza dan dion meninjau proyek yang akan segera berjalan, memeriksa segala kemungkinan yang dapat menimbulkan masalah untuk pembangunannya
sementara ditempat lain dinda sibuk memilih menu makanan untuk tamunya, tak lupa dinda mengundang jenita yang menjadi kekasih sepupunya yaitu haikal
jenita mengiyakan akan datang kerumah dinda karena sendirian diapartemennya juga membosankan. jenita menceritakan pada ayahnya jika dirinya diperlakukan bagai keluarga dan banyak mendapatkan kasih sayang
hati ayahnya terenyuh dengan keluarga yang pernah ia sakiti namun tetap memperlakukan anaknya dengan sangat baik
sore hari sekitar jam lima lulu datang kerumah dinda setelah meminta alamat rumah barunya pada mami ana, lulu yang sudah lama menjadi pegawai pak tirta juga dekat dengan mami ana yang memang tak pernah memandang rendah pegawainya
hal itulah yang membuat lulu menjaga dirinya agar tak mengecewakan keluarga bosnya
"selamat sore benarkah ini rumah ibu dinda atmaja?" tanya lulu saat dibukakan pintu oleh bik wati
"benar bu! silahkan masuk" ajak bik wati "saya panggilkan bu dinda dulu"
lulu berjalan meunuju ruang tamu dinda, rumah mewah dengan ruangan luas yang tak kalah besar dengan rumah milik bosnya. lulu dulu sempat ingin mendekati reza namun ternyata adalah jodoh dari anak bosnya
__ADS_1
namun lulu tak menyesalinya dirinya juga sekarang menjadi orang yang berkecukupan karena bekarja diperusahaan pak tirta
"hai.. bu lulu apa kabar?" dinda menyambut hangat keduanya duduk dan mengobrol beberapa hal sebelum jenita dan suaminya datang
"ada yang bisa saya bantu bu?" tanya lulu yang tadi ditelfon dinda meminta bantuannya
"nanti saja! tunggu sebentar kita makan malam bersama" dinda membantu menyiapkan makan malam begitupun dengan lulu yang tak enak dan ikut berpartisipasi
tak lama reza pulang bersama dengan dion sesuai keinginan istrinya, entah apa yang akan dilakukan istrinya reza tak tahu
"sayang!" reza melihat dinda sibuk merasa kesal
"iya mas cuma sedikit saja kok" dinda tahu alasan suaminya menatapnya
"ahh iya saya lupa ada yang perlu dibeli, lulu bisakah tolong saya belikan sesuatu?" tanya dinda
"bisa bu!" lulu dengan tulus mau membantu dinda
"kalau begitu dion tolong antarkan lulu kesupermarket ya ada yang saya butuhkan!" dion mengangguk tak menaruh curiga apapun
sedangkan reza mulai mengerti alurnya
"mas mandi dulu nanti kita makan malam bersama!" ucap dinda
__ADS_1
reza menggandeng tangan istrinya seperti ingin menyebrang jalan mengajaknya kekamar dan meminta penjelelasan