
"jangan macam-macam dengan dinda dan jangan lupa kasih makan yang enak!" pesan masuk di ponsel reza dari papi dinda
"akan saya pastikan dinda pulang dengan selamat dan perut isi, kenyang maksudnya" balas reza bercanda dengan pak tirta
reza telah mengundurkan diri namun seminggu kedapan msih akan mengurusi pekerjaanya sebagai asisten pak tirta dan juga meminta izin untuk mengajak dinda meninjau hotel miliknya di kota D.
makan siang reza menuruti keinginan dinda yang ingin makan ayam betutu. "kenyang sayang?" reza memandangi wajah cantik dinda yang sednag makan
dinda yang tak mau kalah terus digoda oleh reza, ia memasang wajah termanisnya menatap reza
"belum sayang! aku masih mau memakanmu puas! ucap dinda dengan wajah berubah sinis
"jangan menggodaku dinda! atau kau tau akibatnya" ancam reza yang gugup dipanggil sayang balik oleh dinda
dinda tersenyum melihat wajah merah reza dan menertawakanya
__ADS_1
"mukamu merah tuh!" tunjuk dinda pada wajah reza
"ini karena pedas saja makananya" elak reza dan keluar restoran untuk merokok
dinda mengejar reza dan dan duduk disampingnya menikmati hembusan angin pantai. rasanya sudah sangat lama dinda tak meraskan keindahan pantai dengan hati yang tenang
"kapan kita pulang?" tanya dinda membuat reza melirik tajam.
"baru saja sampai, apa kamu hanya ingin numpang makan saja disini" ucap reza merebahkan badanya dikursi panjang diarea pantai dengan payung besar sebagai pelindungnya dari sinar matahari
"mas sepertinya sering datang kesini ya, para pegawai disini sangat hormat padamu" tanya dinda mengamati setiap pegawai yang lewat menyapa reza dengan ramah
saat membuka matanya reza tak melihat dinda ada disampingnya. ia kaget dan melihat sekeliling ternyata dinda sedang duduk didekat laut yang tak jauh dari pandangan reza
reza mengikuti langkahnya mendekati dinda " apa kamu senang hari ini? apa kamu menyesal mengikutiku kesini? "pertanyaan bertubi-tubi dari reza yang mentap dinda dengan tatapan berbeda
__ADS_1
"tentu saja tidak! aku sangat senang disini, memangnya kenapa mas apa aku terlihat menyedihkan?" tanya ganti dinda pada reza.
keduanya duduk dipasir putih yang sangat luas sepanjang mata memandang .tangan reza menggengam tangan dengan erat seolah tak ingin melepaskanya lagi
"dinda apa aku boleh menyukaimu" ucapan reza berhasil membuat jantung dinda berdegup kencang
"hahahaha jangan bercanda mas! aku ngga akan baper" dinda terus mengelak ia belum siap menerima hati baru meski sekarang mungkin reza sudah mulai memasuki hatinya. ia tetap megelak itu hanya rasa nyaman saja
"baiklah jika kau anggap begitu" reza melepaskan tangan dinda dan melangkah kearah hotel kembali
"mas! tunggu aku" dinda mengejar reza dengan langkah panjangnya
menjelang malam hari reza yang awalnya tak akan menginap tapi dia belum mengajak dinda benar-benar berlibur hingga memutuskan untuk menambah hari berpergianya
reza menyiapkan makan malam romantis untuknya dan dinda di dekat pantai . reza mengajak dinda untuk meunju tempat yang telah disiapkan reza dibantu oleh para pegawainya. reza berniat mengungkapkan perasaanya saat ini pada dinda sebelum terlambat.
keduanya menikmati makan malam bersama dinda mengenakan dress yang dibelikan reza terlihat sangat anggun dan seamkin cantik. reza memberikan sebuah cincin pada dinda saat dinda belum menyelesaikan makan malamnya
__ADS_1
"dinda aku tak tau apa yang aku rasakan saat ini, tapi aku sangat takut kehilanganmu, nyaman saat bersamamu dan juga tidak rela jika ada pria lain didekatmu. aku tak bisa mengartikan ini terlalu cepat bahwa ini cinta. tapi yakinlah perasaanku tulus padamu, dan bisakah kita menjalani semua ini dari awal dan juga untuk saling mencintai satu sama lain" ucap reza menyerahkan cincin bertahtakan berlian yang simpel namun tetap mewah
"aku...aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku takut masa laluku terus menghantuiku mas. aku tak mau membuat orang lain kecewa" jawab dinda ragu namun mau