Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
nyaman


__ADS_3

"sudah sana masuk ini sudah malam, jangan lupakan janjimu membuatku bahagia besok!" ucap dinda mau menutup pintu kamarnya ditahan oleh reza


"tunggu sebentar, ada yang belum selesai" reza masuk ke dalam kamar dinda membuatnya takut.


"ada apa lagi besok kan masih bisa dibicarakan sekarang keluarlah atau ada yang akan menggerebek kamar ini" ucap dinda mendorong sekuat tenanga tubuh reza


"sebentar saja din" reza berbalik arah badannya dan dengan cepat mengecup kening dinda. dinda hendak protes tapi kalah cepat dengan bi*bir reza yang sudah melahap benda kenyal milik dinda. lu*matan bibir reza membuat dinda terbuai dan tanpa sadar mengalungkan tanganya ke leher milik reza


keduanya terus berjalan mundur hingga jatuh di ranjang yang masih ada sisa bunganya.


pagutan keduanya masih berlanjut hingga reza melepaskannya karena kehabisan nafasnya


saling menatap dan kembali menautkan kedua benda kenyal milik reza dan dinda, rasa nik*mat yang tak pernah dirasakannya membuat keduanya tak henti-hentinya melakukan kegiatanya. hingga ada benda lain yang ikut bangun saat keduanya saling menyatukan bi*birnya.

__ADS_1


"ahh si*al" reza melepaskan bibirnya dari dinda dan keluar kamar dinda. ia kembali kekamarnya untuk melepaskan yang harusnya dituntaskan


dinda yang ketakutan segera menyusul reza ke kamarnya, cukup lama dinda menunggu akhirnya pintu dibuka juga


"ngapain disini, ayo kembali kekamarmu dan tidurlah!" reza mengusir dinda takut tak bisa mengendalikan has*ratnya lagi


"aku takut mas" ucap dinda pada reza pasalnya kamar keduanya merupakan tempat privat yang yang hanya menyediakan dua kamar saja


"bukankah kau terbiasa tidur sendiri?" tanya reza namun dinda tak menunggu lama dia langsung masuk ke dalam kamar reza. menata guling dibagian tengah dengan berjajar membelah ranjang besar


"aku mau tidur disini dan karena aku kasihan denganmu jadi tak ku biarkan mas tidur dilantai. tapi ingat jangan melewati batas ini" ancam dinda


"papi dan anak tukang ancam, jangan salahkan aku jika keluar dari sini kau akan menjadi ibu!" ucap reza menutup pintu kamar dan merebahkan tubuhnya disamping dinda

__ADS_1


dinda sudah terlelap karena rasa lelah kan kantuknya. reza memandang dinda sejenak apakah ini terlalu buru-buru. apakah benar yang dia lakukan sekarang, bagaimana jika dia tak bisa membahagiakan dinda.


semua pertanyaan berada dipikiran reza sekarang. namun ia menepisnya ia pastikan akan berusaha untuk selalu ada disamping dinda dan akan membahagiakannya


kecupan manis dikening dan bibir dinda menjadi penutup malamnya kali ini. reza mengangkat kepala dinda dan meletakan lenganya sebagai bantal tidur dinda


bantal dan guling yang berada ditengah dibuangnya ke arah dinda agar pagi hari terlihat dinda lah yang membuangnya. licik bukan?


reza merebahkan tubuhnya mendekatakan tubuh dinda dalam dekapannya. rasa nyaman dan hangat membuatnya ikut terlelap menyusul dinda kealam mimpi


suara alarm ponsel dinda berbunyi menunjukan jam enam pagi. dinda mengerjapkan matanya menatap wajah yang ada dihadapanya itu. meski sejenak ia terkejut namun dinda merasa sangat nyaman sekarang


lengan besar sebagai bantal dan juga dada bidang yang mendekapnya penuh kasih sayang. "astaga mas bangun! ayo bangun kenapa bantalnya bisa hilang"

__ADS_1


dinda baru sadar mereka barulah bertunangan belum menikah. meski tak rela melepaskanta tapi dinda tak mau sampai terjadi yang lebih buruk lagi


__ADS_2