
"sayang mau jalan jalan atau liburan, hmm?" tanya reza pada dinda yang sedang melamun dipinggir kolam ikan
"engga mas! aku mau istirahat saja dirumah" jawab dinda
"mau makan sesuatu?" reza mendekati istrinya dan mengusap punggung dinda dengan lembut
dinda hanya menggelengkan kepalanya tanda tak menginginkan makanan yang ditawarkan oleh suaminya
"masuk yuk, udah sore nanti masuk angin diluar terus" reza mengajak dinda dan menggenggam tangannya
"iya mas" dinda menurut saja apa kata suaminya
kesedihannya memang sudah berakhir tapi ingatannya masih menyimpan jelas hal yang baru saja ia alami
kini reza mengajak dinda masuk kedalam kamar keduanya yang kini terletak dibawah agar dind tak merasa sakit saat naik tangga.
"kita sementata tidur disini ya sayang, sampai luka diperutmu sembuh dan tidak nyeri lagi" ucap reza
"atau tetap diatas tapi tanpa ada mas atau izin mas kamu ngga boleh naik atau turun tangga" reza menatap wajah pucat dinda
"sampai liftnya selesai dibuat" lanjut reza lagi
"tapi aku ngga apa apa mas!" dinda membantah
"kalau kamu membantah akan ada hukumannya!" ucap reza tegas
"kok mas jahat!" dinda sudah ingin menangis
"hukumannya harus bilang i love you 100x. paham!" ucap reza
dinda mencibikan bibirnya kesal pada suaminya " maunya kamu!" dinda mode jutek
__ADS_1
reza justru tersenyum senang. ia tahu luka dihati istrinya belum sembuh tapi setidaknya reza bisa membuat dinda seperti biasa lagi meski hanya sesaat
"kalau maunya kamu?" reza menggoda dinda ingin melihat istrinya mengomel atau marah padanya
hal itu yang membuat dinda semakin menggemaskan bagi reza
"aku mau kerja lagi!" dinda mencoba bernegosiasi
"terus mas dirumah gitu?" jawab reza dengan tatapan sulit diartikan
"ya engga, aku mau punya kesibukan" ucap dinda lagi
"oke! kamu kan sudah jadi wakil papi dikantor meskipun yang kerja asistenmu. sekarang mas kasih pekerjaan yang bayaranyya sangat mahal tak dapat terhitung uang" ucao reza ambigu
reza menunggu reaksi dinda dengan kalimat yang diucapkannya
"kerja apa?"
"sama aja itu mah!" dinda tak setuju
"terus maunya kerja apa sayang, mau les masak? musik atau cara menyenangkan suami?" ucap reza asal
dinda yang kesal meninggalkan reza dikamar sendiri. dinda takut suaminya tak bisa mengontrol sedangkan keduanya harus berpuasa duli untuk beberapa waktu
"sayang!" reza yang ditinggalkan dinda beranjak dari duduk dan mengejar istrinya yang sedang menonton film
"ya udah kamu mau apa? tapi jangan capek!" ucap reza menawarkan lagi
"beneran! aku mau punya cafe kecil" pinta dinda
"boleh" reza menjeda ucapannya
__ADS_1
"tapi hanya sebagai pemilik. sisanya dikerjakan oleh karyawan kamu hanya mengawasi aja!"syarat dari reza untuk istrinya
"oke! tiap hari aku ke kafe setelah supir mengantar mas kekantor. dan aku pulang sebelum mas pulang" janji dinda
reza mengangguk setuju dengan ucapan dinda. kadang juga reza merasa kasihan meninggalkan istrinya dirumah sendirian
mungkin inilah cara agar istrinya bisa melupakan kejadian sebelumnya.
"hore! makasih sayang" dinda berteriak senang meloncat memeluk suaminya
"dinda kamu habis oprasi!" yang dipeluk bukannya senang jadi marah karena khawatir
dinda tahu suaminya tak marah yang sesungguhnya namun karena sangat mencintainya
"hehe maaf aku lupa!" jawabnya dengan senyum kuda
"emang udah ngga sakit sayang?" reza memeriksa perut istrinya bekas luka jahitan
"engga mas, kan sekarang udah canggih agak nyeri sedikit" dinda menunjukan dengan jarinya
reza gemas menciumi seluruh wajah istrinya. tanpa memandang orang sekitarnya
dunia milik berdua saja baginya
dinda tidur dipangkuan suaminya yang sedang mengecek pekerjaan.
tiba tiba teringat "mas dion sama lulu gimana?" tanya dinda penasaran
"apanya yang gimana dinda!" reza heran istrinya masih saja inget ide perjodohannya
"pokoknya kita harus buat mereka serinh bersama, biar jodoh urusan tuhan tidak ada salahnya berusaha!" dinda tersenyum senang dengan pemikirannya sendiri
__ADS_1
reza menggelengkan kepalanya namun tak menyahuti ucapan istrinya yang mulai mengoceh merdu bak burung love bird bagi reza