Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
cemburu


__ADS_3

"baru akur langsung bangun kesiangan re" ucap mami tania tanpa melihat kondisi


saat reza turun dari kamarnya dengan wajah kusut dan kelelahan


"mami" ucap pak farhan


dinda menahan malu tapi juga ingin tertawa membayangkan bagaimana kesalnya suaminya semalam. reza yang memiliki wajah datar seperti biasa saja tak ada yang terjadi


"kita bereskan hari ini dad" ucap reza datar dan tegas


kadang dinda heran reza seperti orang lain saat bersamanya dan juga saat berada dikantor


"iya re, sudah dady siapkan semuanya tinggal eksekusi hari ini" dady farhan yang paham dengan sifat anaknya


"besok nino pulang, jadi tanggung jawabmu sudah bisa dialihkan kembali ke adikmu" ucap pak farhan lagi


"benar mam, besok nino pulang? wah dinda jadi ada temen bercanda dong ngga sepi lagi " ucap dinda senang tak disadari lirikan dan tatapan suaminya seperti ingin membunuh lalat


"hati-hati din ada yang lagi kebakaran jenggot" kata mami tania


dinda tersenyum melihat ekpresi suaminya yang tak hanya datar pagi ini. selesai sarapan dinda mengantarkan reza sampai ke depan dimana mobilnya diparkirkan


"hati-hati mas" ucap dinda reza hanya mengangguk dan tak lupa mengecup keningnya meski kaku tapi setidaknya ada perubahan, reza sebelumnya tak pernah mau atau mungkin tak bisa menunjukan rasa sayangnya atau hal romantis didepan orang lain


dinda melambaikan tanganya sammpai mobil suaminya keluar dari gerbang rumah mertuanya


"mam, mungkin minggu ini dinda dan mas reza mau pergi keluar negeri, maaf ini mendadak tapi...." ucapan dinda terhenti

__ADS_1


"iya sayang ngga apa-apa, mami senang kalian disini tapi mami juga paham kalian butuh privasi dan juga kalian msih pengantin baru yang belum menikmati honeymoon tapi malah sibuk bekerja" mami tania memahami dengan keputusan anaknya


"mami ngga marah?" dinda ragu dengan pertanyaanya


"tentu saja mami marah, jika kalian tak segera berbulan madu mami akan merasa bersalah karena sudah merepotkan kalian. jadi jangan pikirkan apapun lakukan yang kalian inginkan selagi masih bisa" mami tania memeluk dinda


meski bukan menantu kandung tapi mami tania menganggap dinda seperti anaknya sendiri apalagi dinda adalah anak dari sahabatnya


"mami mau jemput nino kebandara kamu mau ikut?" mami tania menawari dinda


"bukannya besok mam" dinda bingung


"iya nino salah kasih informasi, dua jam lagi tiba dibandara kalau mau ikut kamu siap-siap mami juga" dinda menggangguk  dan menuju kamar nya untuk ganti baju


"mas aku sama mami jemput nino kebandara" dinda mengirimi pesan pada suaminya


"iya mas" jawab dinda setelah menggeser tombol hijau diponselnya


"hati-hati kalau pergi, jangan lirik-lirik lelaki lain dan jangan duduk deket nino" ucap reza diseberang


"mas itu adikmu loh, masa iya cemburu" dinda menertawakan sikap reza


"turuti atau tidak sama sekali" ancam reza


"iya sayang. ya udah aku siap-siap dulu ya ditunggu mami dibawah" dinda merayu reza


"hemmm" reza menutup panggilan telfonya

__ADS_1


dinda bersiap dan turun kebwah menemui maminya, perjalanan yang dibutuhkan dari bandara kerumah orang tua reza adalah sekitar tiga puluh menit


saat tiba dibandara nino masih belum terlihat dinda meminta izin untuk ketoilet karena merasa perutnya tidak nyaman.


"mami sendirian?" tanya nino menghampiri ibunya


"sama kakak iparmu, tapi sednag di toilet kita tunggu sebentar " ucap mami tania memeluk anak lelakinya


"hai nino" teriak dinda senang


dinda yang tak punya adim pun merasa memiliki seorang adik dengan adanya nino


"kakak ipar!" nino hendak memeluk dinda tapi ada tubuh tegap seseorang yang menabraknya


"aduh, bisa lihat ngga sih" nino memegangi kepalanya yang terbentur dada bidang seseorang


"kalau tidak!" suara yang sangat nino kenal


nino mendongakan kepalanya melihat wajah kakaknya yang sedang tidak baik-baik saja. nino akan memeluk tapi reza mengindar dan malah mendekati dinda


"mas kok ada disini?" dinda penasaran


"kalau ngga disini kamu mau peluk-pelukan sama anak itu" reza menunjuk adiknya seolah penggoda istrinya


"mas" dinda merasa tak enak


mami tania memberikan kode dinda menurut saja pada suaminya dan dinda menggangguk

__ADS_1


"ayo kita pulang!" reza menarik pelan tangan istrinya menuju parkiran mobilnya sedangkan mami tania dan nino dengan mobil yang lain kembali kerumah


__ADS_2