Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Ngambek


__ADS_3

dinda menunggu suaminya merayunya tapi sampai matanya mengantuk reza tak kunjung datang ke kamar. dinda keluar lagi dari kamarnya melihat diluar sudah pada sepi namun kemana suaminya berada


"ibu butuh sesuatu?" tanya bik narti yang sedang membereskan bekas gelas minuman diruang keluarga


"ngga bik mau ambil minum saja, bapak kemana ya bik?" tanya dinda melihat sekeliling sudah tak ada orang dan lampu pun sudah dimatikan


"bapak bersama mas haikal dan pak dion bu, ada ditaman belakang" jawab bik narti yang baru saja diminta membuatkan kopi untuk para lelaki sedang papi tirta beserta omnya dan juga para istri sudah pulang


dinda meletakakan gelasnya tak jadi mengambil minum mencari keberadaan suaminya.


"kalian mau tidur disana?" reza dan dua lainya terkejut mendengar suara dinda


"sayang kok belum tidur?" reza malah balik bertanya tanpa rasa bersalah


"iya nungguin orang yang ngga peka!" jawab dinda jutek


"kak galak amat sih nanti anaknya takut loh" ucap haikal asal


"jangan sembarangan bicara sama istri bos" bisik dion


pasalnya reza paling takut kalau istrinya marah dan mendiamkan reza. dunianya bagaikan terpecah belah


"diam kalian!" reza sudah gusar


"ayo mas antar kekamar" reza memegang tangan dinda mengajaknya kekamar


"aku masih kesal ya mas, jadi jangan senang dulu!" dinda menggerutu


reza tersenyum dengan tingkah istrinya yang katanya masih marah tapi minta diantar kekamar

__ADS_1


sampainya dikamar reza menggendong tubuh dinda dan membaringkan diranjang. "mas turun sebentar ya . pamit sama mereka dulu" reza tak mendengarkan jawaban dinda langsung keluar


merasa tak enak masih ada tamu akhirnya reza mengundurkan diri dari perkumpulan para jomblo


"bigbos sepertinya sedang sensitif, kalian para jomblo lanjutkan saja ya ngobrolnya saya mau menemin istri tidur dulu" ucap reza yang tak kaku seperti biasanya


reza berlalu meninggalkan taman belakang menyusul sang istri, tapi naas nasibnya malam ini pintu kamar sudah terkunci dari dalam dinda makin kesal saat suaminya keluar lagi setelah mengantarnya


"sayang buka pintunya dong, mas kan mau tidur juga nanti anak kita kangen loh sama papanya" ucap reza pelan takut terdengar orang lain


berulang kali pintu diketuk dinda masih tak bergeming untuk membukakan pintu untuk reza, hampir satu jam reza mengetuk pintu dan memanggil dinda tetap saja pintu masih tak dibukanya mungkin dinda sudah tertidur


reza pun memutuskan untuk tidur dikamar sebelahnya yang masih kosong namun sudah ada perabot dan juga ranjangnya


menghela nafas panjang mau kesal tapi memang salahnya. rasanya malam akan semakin panjang terbiasa tidur dengan memeluk istrinya kini guling menjadi teman tidurnya malam ini


esok harinya dinda bangun dan berolahraga kecil dengan berjalan jalan dari area taman belakang ke taman depan. sambil menikmati udara pagi yang segar dan juga bunga bunga yang bermekaran


mami ana adalah pecinta bunga dan yang mengatur taman rumah dinda dibanu oleh mami ana yang tahu kesukaan anaknya


"pagi kak!" haikal yang sedang duduk santai bersama dion yang masih belum pulang


"hemmm" jawab dinda singkat


"kak reza belum bangun bu?" ucap dion


"kalau dirumah ngga usah formal" jawab dinda tak menjawab pertanyaan diion tapi malah protes dengan panggilannya


yang ditanyakan datang dengan muka kusut "sayang kok ngga bangunin mas?" reza menghampiri istrinya mengecup kening yang menjadi rutinitaas harianya setiap bangun pagi

__ADS_1


"ehemm" haikal berdehem


"iri aja kalian nikah makanya sana!" ejek reza seolah penuh kemenangan


"mau sarapan apa din?" tanya reza mengelus puncak kepala istrinya


tanpa menjawab pertanyaan reza dinda berlalu menuju dapur setelah olahraganya selesai


saat dinda sudah tidak ada haikal dan dion tertawa gantian mengejek reza


"makanya dion buru buru menikah!" goda haikal pada reza


reza melempar bantal kursi yang ada ditaman" sia*lan kalian mengejekku" reza masuk mengejar istrinya


menemukan dinda membuat jus untuknya dan suaminya dan meletakan dimeja makan, meski sedang marah dinda tak melupakan kewajibannya


"bik lanjutkan ya" dinda meminta bik wati menata makanan untuk sarapan orang dirumah


dinda diam seribu bahasa pada reza meunju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. reza mengekori saja dibelakang mungkin akan dipanggil saat dinda membutuhkan sesuatu. nyatanya tidak sama sekali


selesai mandi dinda yang hanya mengenakan handuk dibatas dadanya seolah tidak ada orang dikamarnya


"kamu mau memancing mas ya din?" reza tetap tak mendapatkan respon dari dinda


"sayang maafin mas dong, mas kan ngga enak ada tamu din" reza memegang tangan istrinya


"dinda permata reza, maafkanlah suami tampanmu ini" reza menatap dinda


masih tak mau bicara dinda pura pura tak mendengar perkataan suaminya

__ADS_1


__ADS_2