
“bu dinda sudah waktunya untuk pulang, apa ibu akan lembur?” ucap asisten
dinda yang mengetuk dan masuk kedalam ruangan dinda
“hemmm iya sebentar lagi saya akan pulang, oh iya apa kamu yang menaruh makanan
di mejaku tadi?” dinda penasaran dengan siapa yang membawakanya makanan
“iya bu, tadi bu dinda sedang sibuk sampai saya datang ibu tidak tahu” ucap
asisten dinda dan kembali keruanganya untuk bersiap-siap pulang
Dinda keluar ruanganya dan mencari keberadaan reza yang biasa
mengantarkanya pulang, namun hari ini bukan reza yang mengantar dinda pulang
melainkan supir maminya. Dan reza sudah tak terlihat batang hidungnya
“pak reza kemana bu lulu?” tanya dinda pada sekretaris papinya
“tadi pergi bersama pak tirta bu, apakah ibu dinda tidak tahu?” tanya lulu
“ahh iya itu saya lupa mengecek ponsel” ucap dinda dinda kembali
keruanganya dan menemukanya ada pesan masuk dari reza
“maaf saya ada urusan lain jadi tidak bisa mengantarkan pulang” isi pesa
singkat dari reza membuat dinda kecewa
__ADS_1
“iyaa” balasan singkat dari dinda untuk reza
Saat ini reza dan atasanya yaitu pak tirta sedang menuju sebuah lahan yang
rencananya akan dibuat kantor cabang untuk perusahaanya. Reza yang sudah dipercaya
oleh pak tirta dalam urusan properti berdasarkan pengalaman kerja reza di
perusahaan dadynya yang juga bergerak dibidang yang sama. Namun reza tak
memberitahu jika perusahaan tersebut milik orang tuanya
Reza membuka pesan masuk di ponselnya pesan dari dinda yang ia
tunggu-tunggu entah kenapa itu menjadi hal menarik baginya saat ini. Jawaban singkat dari dinda tak membuat reza
merasa senang dan diapun memilih menyingkir dari obrolan para pekerja. Pak tirta
memantaunya
“halo kenapa?” dinda mengangkat panggilan telfon dari reza dengan mode jutek
“galak amat non” ucap reza yang kangen mendengar suara dinda mengomel
“iya emang galak, masalahnya apa dengan pak reza?” dinda masih saja kesal
pasalnya dia tak diantar reza pulang
“ngga apa-apa saya suka!” ucap reza dan blusss wajah dinda saat ini terasa
__ADS_1
panas dan memerah. Dinda terdiam tak bisa berkata apapun
“halo non dinda masih dengar saya?” tanya reza memastikan
“iya saya tidak tuli jadi masih mendengarkan” ucap dinda gugup setelah
sekian lamanya dinda tak meraskan getaran yang berbeda dihatinya saat ada
lelaki yang menggombal padanya
“mulai hari ini saya tidak bisa antar jemput non dinda lagi” ucap reza mau
memberitahukan jika beberapa hari kedepan reza harus berada diluar kota untuk pembuatan
kantor cabang perusahaanya
“ya sudah ngga masalah. Udah ya pak reza sya mau pulang!” dinda menutup
panggilan telfonya. Tanpa bertanya kenapa dinda merasa kesal dengan reza.
Kenapa juga aku harus kesal,
kan pak reza memang bukan supir aku. Tapi mengapa aku harus kecewa dengan
keadaan ini. Dinda terus berfikir tapi tak menemukan alasan
untuk perasaanya sekarang
beberapa hari tanpa diantar jemput oleh reza membuat dinda merasa ada yang hilang dihatinya. karena hari ini adalah hari libur dinda berencana mengajak haikal sepupunya untuk pergi malam mingguan bersama keduanya sama-sama belum memiliki pasangan.
__ADS_1
setelah berjanjian keduanya akan berangkat pergi menonton bisokop dan dinda akan mengajak maya teman dari kantor omnya dulu, yang disukai oleh haikal.