Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
ingin melihatnya


__ADS_3

dua hari berlalu dinda dirumah sakit hari ini saatnya dinda untuk pulang, lukanya sudah mengering dan juga perubhan sikap dinda sudah mulai terlihat


sudah mau berbicara meskipun hanya sepatah dua patah kata " kita pulang ya sayang, kita akan mulai semuanya dari awal. mas juga sangat sedih tapi kita tak boleh meragukan rencana tuhan" ucap reza


dinda hanya mengangguk setelah bersiap lalu menunggu suaminya berkemas, hari ini dinda terlihat segar dari biasanya


"mas aku ingin melihat kuburannya" ucap dinda beserta dengan tetesan air mata yang jatuh dari matanya


"iya, tapi janji jangan membuatnya sedih melihatmu menangis!" ucap reza


"iya mas aku janji, aku ingin melihatnya mas" dinda memeluk suaminya menumpahkan seluruh curahan kesedihannya yang baru bisa dia luapkan


reza lega istrinya sudah dapat berekspresi lagi " tumpahkan sayang, luapkan semua kesedihan dan air matamu mas akan selalu ada untukmu, maafkan mas atas kejadian ini!"


"jangan menyalahkan diri mas, ini juga akibat kesalahanku" keduanya membersihakan sisa air mata lalu bergegas  kelokasi pemakaman anak keduanya


meski belum berbentuk wajah dan manusia seutuhnya, namun selayaknya diperlakukan dengan baik sesuai keyakinanya masing masing


****


" nak maafkan mama, mama ceroboh dan menyebabkanmu begini" ucap dinda tiba dipusara sang anak

__ADS_1


reza mengusap pundak istrinya agar tak larut dalam kesedihan.


"kamu sudah berjanji sayang" reza mengingatkan


"nak, mama pulang dulu. mama yakin kamu lebih bahagia sekarang" ucap dinda menaburkan bunga kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang kerumah yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan


**


mami ana tak ikut menjemput karena mempersiapkan kamar untuk dinda yang sementara tidur dilantai bawah agar tak naik turun tangga atas permintaan reza


tiba dirumah yang sangat ia rindukan, meski masih terasa nyeri melihat tangga yang menyebabkannya terjautuh tapi dinda berusaha melawanya


baginya orang yang ada disampingnya saat ini adalah orang yang sangat menyanyanginya. dinda tak mau membuatnya bersedih


dinda berlari memeluk sang mami dan papinya yang berada berdampingan


"dinda!" semua berteriak bergantian melihat orang yang baru beberapa hari dioperasi berlarian bak anak kecil


"maaf!" ucap dinda dengan senyum seringai kudanya


"mami dinda kangen, papi tumben ngga galak sama dinda" ucap dinda sebisa mungkin memecahkan ketegangan dirumahnya

__ADS_1


soal hatinya jangan ditanya lagi bahkan matanya pun tak dapat berbohongg jika hatinya masih tak baik baik saja


"sudah tua masih mau kena omel!" ucap papi tirta mode galak


dinda tertawa kencang seakan hilang semua beban dihidupnya. dia harus memulainya lagi dan tak boleh menyerah


"ayo kita makan dulu, kalian pasti lapar" ajak mami ana


reza mengambil piring yang dipegang dinda mengisinya dengan nasi dan lauk dan menyodorkan sendok berisi makanan pada dinda


"makan yang banyak biar rumah ramai lagi" ucap reza meledek istrinya


"emang dinda burung apa" kesal dinda


"mana ada burung secantik kamu!" ucap reza menyuapi lagi dinda


"ehemmm!" papi tirta berdehem namun keduanya seakan tak menghiraunkan orang lain disekitarnya


"biarkan saja pi, kaya ngga pernah muda aja!" kesal mami ana menggangu romantisme anak dan menantunya


"kalian istirahat saja, kami mau pulang dulu papi harus kekantor" ucap papi tirta berpamitan pada anak dan menantunya

__ADS_1


"terima kasih pi" ucap reza bersyukur mertuanya tak menyalahkannya dan bersikap bijak dalam rumah tangga anaknya


"apapun untuk kalian, asal kalian bahagia!" ucap papi tirta mengusap punggung reza


__ADS_2