
reza masuk kedalam kamar melihat sang istri yang malu ketahuan adik iparnya
"kenapa ngga keluar aja, malu sama nino hmm?" reza malah menggoda istrinya
jika dilihat dinda nampak seperti orang yang baru saja melewati malam pengantinya bersama reza
nampak beberapa tanda merah bekas siapa lagi kalau bukan ulah dari reza, dinda yang mengenakan dress selutut dengan kerah baju model sabrina membuat tanda itu nampak jelas dikulit putihnya
dinda yang belum menyadari itu masih santai saja dan hendak keluar tapi tanganya ditahan oleh reza
"coba deh liat kecermin dulu, jangan lupa ditutupi" reza menahan senyumnya karena ulahnya tadi yang tak tahan melihat kulit mulus istrinya membuat tato yang akan membuat dinda malu
"mas!!!!" dinda kesal melihat tubuhnya bagian lehee dan dadanya seperti polkadot
"mas ini apa-apaan sih, kan aku malu mas pake baju begini lagi" ucap dinda menhampiri suaminya yang dengan wajah datar seolah tak terjadi apapun
"kenapa sayang!" reza tak melihat istrinya saat ini wajahnya sudah merah padam antara malu dan marah
"coba lihat ini aku harus gimana?" dinda duduk disofa lemas memikirkan suami mesumnya
"duduk dulu sarapan mas sudah pesankan baju sebentar lagi sampai, lagian itu DP sebelum kita berangkat bulan madu" ucap reza matanya masih fokus pada laptopnya
__ADS_1
dinda pasrah mau membantah pun pasti akan kalah dengan sumainya, membuka kotak bekal berisi nasi goreng dan juga beberapa lauk dinda sengaja memamerkan pada reza tanpa menawari
"hemmm enak banget" dinda melirik suaminya yang masih sibuk
reza yang mendengar suara istrinya melirik dan melihat apa yang dimakan oleh dinda, reza beranjak dan mengahampiri istrinya duduk
"kayaknya enak din, mas suapin dong!" ucap reza menelan ludah saat mencium aroma nasi goreng buatan dinda
"mau?" dinda menawari
reza menganggukan kepalanya
"enak aja!" dinda meledek suaminya dan menyembunyikan makanannya seperti anak kecil yang tak mau mainannya dipinjammorang lain
"ambil aja kalau bisa!" dinda tak mau kalah
"jangan salahkan mas kalau begitu" reza menarik tangan mungil istrinya dengan sekali tarik kotak bekalnya dapat digapainya
diletakan kotak makan itu dimeja dan kini istrinya yang menjadi sasaranya
"kamu lebih suka dipaksa ya!" mata reza tak dapat berbohong saat ini ia sangat tergoda oleh tubuh istrinya tapi sejenak dia sdar istrinya sedang tak bisa disentuh
__ADS_1
"aaaarrrrggghhh" akhirnya reza yang frustasi sendiri karena niat menggoda malah dirinya yang terpancing sendiri
"ayo suapin!" reza memerintah dinda tanpa melihat wajahnya karena takut khilaf
dinda kali ini menurut menyuapi suaminya dengan nasi goreng buatanya tadi pagi, dinda menyadari suaminya saat ini tak baik-baik saja jadi dinda tak mau mengganggunya
"enak mas?" tanya dinda mengalihkan pembicaraan dan suasana
"enaklah pasti buatan bibik kan!" reza tahu itu buatan dinda tapi hanya ingin meledeknya
"ohh jadi kalau enak buatan bibik, kalau aku yang masak ngga enak gitu!" dinda menyendokan nasi menggunung dan menyelipkan cabe didalamnya
ia menyuapkan pada suaminya dan melihat reaksi suaminya
"kok pedes banget sayang" reza kepedasan karena kejahilan istrinya
"hahahaha, gimana enak rasa cabe" reza menyambar air minum didepannya
"emmmm" dinda kaget suaminya kepedasan malah menyambar bibir istrinya dan mel*matnya dengan ganas
"gimana enak ikut meraskan pedas, dasar istri jahil" ucap reza saat melepaskan bibir dinda
__ADS_1
"dasar suami mesum, sudah sana kerja lagi biar aku yang habisin uangnya" dinda mendorong tubuh reza agar fokus kerja