
"sayang!" reza memanggil dan mencari keberadaan dinda
janjinya untuk pulang saat jam makan siang telah ia tepati
pekerjaan yang begitu menumpuk ia kerjakan dengan sangat cepat dibangtu oleh dion yang selalu menemaninya
tak lupa reza menyiapkan kejutan untuk sang istri yang telah lama dinantikan
"iya mas ada apa kok seneng banget kayaknya!" dinda penasaran dengan raut wajah suaminya yang sangat bersemangat
"siapkan baju terbaik untuk besok, kafenya sudah siap dibuka!" ucap reza tak sabar memberitahukan kejutan yang akan dihadiahkan untuk istrinya
"benarkah mas! benarkah besok pembukaannya" dinda berteriak melompat pada tubuh suaminya
"auu!" reza yang tak siap dan lukanya yang belum terlalu kering membuatnya mengaaduh sakit
"maaf mas maaf" dinda merasa bersalah pada reza karena rasa bahagianya membuatnya kesakitan
"ngga sayang, mas baik baik saja hanya kaget saja tadi" reza beralasan
"aku pesan baju di temanku boleh?" tanya dinda yang memiliki teman seorang designer baju yang cukup lumayan
dinda sering memesan baju bahkan disaat mendadak untuk acara
tubuh dinda yang bak model dapat dengan mudah menddapatkan baju dengan design terbaik
__ADS_1
"tentu saja dinda, apa yang tak berikan padamu hemmmm?" reza menarik istrinya agar duduk disamping reza
"mas lapar sayang, tapi ingin disuapi" lanjut reza seolah anak bungsu yang sedang bermanja pada sang ibu
"oke sayang!" dinda dengan cepat mewujudkan keinginan suaminya
*******
pagi hari reza dan dinda bersiap untuk datang ke pembukaan kafe yang reza siapkan atas permintaan istrinya.
dengan semangat dan tak mau membuang waktu dinda ingin cepat tiba dikafe miliknya
"ayo mas nanti terlambat!" ajak dinda tak sabar
"sabar dinda, kamu mau mas tak pakai baju diacara nanti"
" ya sudah ayo berangkat!" reza selesai dengan persiapan
keduannya menaiki mobil bersama karena dion diminta menjemput lulu agar dapat tiba tepat waktu
"hai semua!" dinda menyapa orang tua keluarga dan juga mertuanya yang hari ini akan menjadi hari terakhirnya. mami tania, pak farhan dan juga nino akan terbang kembali keluar negeri setealh acara pembukaan kafe milik menantunya
keduanya tersenyum lebar menyambut tamu dan para keluarga yang hadir
__ADS_1
"hai sayang, cantik sekali!' mami tania mendekati dinda hendak memluk tapi reza tak melepaskan pegangan tangganya
"suaminya posesif banget ya ana" mami tania mengadu pada sang besan
dinda tertawa mendengar gerutuan mertua dan ibunya
"mari kita berfoto sebelum acaranya dimulai" dinda mengajak semua anggota keluarga berfoto bersama
tak lama berselang acara akan dimulai
dion dan lulu telah menyiapkan dengan sangat meriah meski sederhana saja, dinda tak mau yang terlalu mewah dan mencolok
"satu, dua, tiga" suara seorang pemandu acara memulai menghitung waktu untuk memotong pita sebagai tanda peresmian dan pembukaan kafe
"selamat ya dinda, reza" ucapan selamat gantian diucapkan oleh keluarga dan para tamu yang hadir
dinda sangat bahagia dibalik kesedihannya selalu ada hikmah yang akan datang dan kebahagiannya yang menyertainya
"makasih sayang!" dinda menangis terharu rasa bahagianya dengan keinginannya yang dikabukan oleh suaminya
dinda dapat membantu orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik
"iya sayang, malu dilihat orang dinda!" reza senang tapi juga kurang nyaman melihat istrinya jadi bahan perhatian
"emang aku jelek apa malu maluin" ucap dinda kesal
__ADS_1
"justru karena kamu terlalu cantik, mas tak mau berbagi dengan yang lain" bisik reza agar mood istrinya kembali baik lagi