
"Ya!" Robert mengangguk.
"Ah, jadi sekarang kau membutuhkan bantuan dari orang yang membosankan ini?" sindir Nathan.
"Ya, aku tidak tau selain membosankan ternyata kau juga sangat mudah tersinggung." ujar Robert acuh tak acuh.
"Berhentilah mengataiku, Mr. Anderson. Ini mulai membuatku sedikit kesal sekarang."
Robert menaikkan bahunya santai, "Aku hanya mencoba mengatakan sesuatu yang jujur."
"Lupakan saja!" Nathan mengibaskan sebelah tangannya, "Bantuan apa yang kau inginkan?"
Robert terkekeh kecil, lalu menatap Nathan dengan tatapan serius. "Jadi begini, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Oh, baiklah?" Nathan menatap Robert dengan ekspresi penasaran dan bertanya-tanya di wajahnya. Ia mendorong kacamatanya lebih dekat ke pangkal hidungnya, menunggu dengan sabar hingga Robert menjelaskan apa permintaan yang akan di katakan kepadanya.
"Jadi, selama aku pergi ke Jepang, putriku akan tetap tinggal di sini, di rumahku selama beberapa hari ke depan. Dan... dia sendirian." Robert memberi tahu Nathan.
Pria muda itu sontak mengerutkan keningnya. Ia langsung mengetahui ke mana arah pembicaraan dari lelaki paruh baya di hadapannya ini. Seringaian kemudian terbentuk di wajah Nathan saat dia mengambil sebuah kotak dari dalam laci di meja kerjanya dan membuka kotak itu yang ternyata berisi senjata lain lagi.
"Mengasuh anak tidak benar-benar ada dalam catatan pekerjaan ku, Mr. Anderson, kalau kau lupa." ujar Nathan, mencoba mengingatkan Robert.
Robert menatap Nathan yang saat ini tengah kembali mengutak-atik senjata baru di tangannya itu. Mungkin ingin kembali mengaktifkannya.
"Memang tidak," Robert berujar sambil mengangguk setuju, "tetapi beberapa dari kita memiliki pekerjaan atau hal yang cocok juga layak untuk dilakukan. Lagipula aku hanya meminta kau untuk mengawasi iPhone-nya."
__ADS_1
"Wow, apakah dia memiliki alat pelacak atau semacamnya di dalam ponselnya?" Nathan mulai penasaran dan bertanya-tanya. "... Ah apakah kau bermaksud mempersulit hidupku dengan membuatku memasang pelacak di ponselnya?"
"Tidak perlu."
"Jadi aku tidak perlu memasang apapun?"
"Ya! Aku sudah memasang pelacak pada ponselnya beberapa waktu lalu." jawab Robert. Ia lalu berdehem sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah meletakkan pelacak lebih dahulu karena aku berpikir kalau aku harusnya tidak boleh meminta hal sulit pada programmer baru sepertimu."
Nathan menaikkan sebelah alisnya. Programmer baru dia bilang? Entah kenapa Nathan merasa kalau lelaki di hadapannya ini seakan sedang mencoba untuk meremehkan kemampuannya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu adalah hal sulit, Mr. Anderson." jawab Nathan ketus. "Aku hanya tidak suka di repotkan."
Nathan lalu mulai bermain di komputer setelah memberikan senjata baru itu pada Robert. Setelah mengambil senjata itu, Robert menatapnya untuk beberapa saat.
"Aku memang tidak tau. Aku hanya mengaktifkannya karena bos kita yang memberitahu caranya padaku. Aku bahkan tak pernah menyentuh senjata seperti itu seumur hidupku karena satu-satunya senjata yang aku pegang adalah pisau." ungkap Nathan panjang lebar.
"Begitu rupanya." ujar Robert santai.
Dan tanpa peringatan apapun tiba-tiba saja Robert menekankan jari telunjuknya pada pelatuk pistol. Dan hal itu membuat sebuah suara tembakan yang nyaring masuk ke telinganya dan saat itu juga sebuah peluru melesat mengenai dinding di ruangan itu.
Nathan yang terkejut, terlihat menutup telinganya dengan kedua tangan. Perlahan ia menggerakkan wajahnya untuk menatap ke arah Robert dengan tatapan tak percaya. Robert Anderson, pria tua gila ini baru saja melubangi dinding yang ada di ruang kerjanya.
Sementara itu, Robert yang di tatap hanya memberinya seringai sombong dan mengangkat bahunya santai.
"Hanya memeriksa," jawab Robert masih dengan ekspresi santai di wajahnya.
__ADS_1
"Ya! Tapi tidak harus di sini," jawab Nathan dengan raut kesal. "Pergilah dulu dan mainkan mainanmu itu di tempat lain."
"Baiklah." jawab Robert acuh. "Tapi apakah kau sudah mulai melacaknya?"
Nathan mengangguk dengan ekspresi gugup saat melihat Robert yang saat ini kembali memainkan senjata di tangannya sambil sesekali mengarahkan benda itu ke arahnya. Apa itu sebuah ancaman?
Kurasa dia memang hanya ingin membunuhku dengan benda itu. batin Nathan.
Dan akhirnya, dengan cepat Nathan mengetik sesuatu di keyboardnya. Dan butuh waktu kurang dari lima belas detik hingga akhirnya titik merah muncul di layar komputernya.
Nathan menatap Robert dan menaikkan sebelah alisnya.
"Saat ini dia ada di restoran yang ada di ujung jalan dari rumahmu, mungkin sedang sarapan." kata Nathan dengan nada ketus. Ia melirik sekilas ke arah Robert sebelum kemudian kembali fokus pada layar komputer. "Aku yakin, anak gadismu itu pasti tak akan menyukai sikap kasarmu itu."
"Aku rasa juga begitu." gumam Robert
Sambil memasukkan senjata itu ke dalam tasnya, Robert kamudian menyeringai. Ia menyesuaikan tali tas di bahunya dan mulai meninggalkan Nathan sendirian di ruangan itu.
Nathan yang masih terlihat sedikit gugup hanya bisa menatap Robert yang saat ini tengah melangkah menjauh darinya. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputernya, menatap pada titik merah di layar.
Entah kenapa ia jadi penasaran bagaimana reaksi Jessica Anderson jika gadis itu mengetahui siapa ayahnya dan apa pekerjaan yang dilakukan ayahnya sebenarnya.
"Bagaimana jika dia mati berdiri saat tahu ayahnya adalah mata-mata?" gumamnya kemudian mendecih sinis.
***
__ADS_1