
"Tentang ibumu?"
Jessica mengangguk mengiyakan. "Aku hanya berpikir kalau ibuku pasti membenciku," kata Jessica.
"Kenapa kau berkata seperti itu tentang ibumu sendiri? Ayolah Jessica, seorang ibu pasti tidak mungkin membenci anaknya sendiri. Ibumu tidak mungkin membencimu." Nathan membalas. "Apa yang terjadi?"
"Sebelumnya, dia masuk kemari...dan dia...dia bilang padaku... kalau aku harus ikut kembali ke Singapura bersamanya."
Nathan memilih diam untuk mendengarkan cerita dari gadis itu.
Jessica menghela pelan sebelum kembali berbicara, "Sebelumnya aku telah berbohong padanya dan mengatakan kalau aku pergi ke Thailand untuk liburan. Maksudku, aku bahkan tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padaku dan alasan kenapa aku bisa berada di Thailand. Kau pikirkan saja, bisakah aku memberitahu kebenaran itu pada ibuku?"
Nathan menggeleng, "itu akan menjadi akhir dari hubunganmu dan ayahmu jika ibumu sampai tahu."
"Itu dia." ujar Jessica pada Nathan. "Jadi, aku harus kembali berbohong padanya dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku juga mengatakan kalau saat ini aku ingin tinggal bersama ayahku saja."
"Dan aku tebak. Kurasa dia tidak menanggapi ucapanmu itu dengan baik. Dia pasti tidak setuju kan?" Nathan memastikan.
Jessica mengangguk, "Ya kau benar. Ibuku memang tidak setuju."
"Tentu saja, dia pasti berpikir kalau ayahmu tidak bisa menjagamu." Nathan melipat tangannya di dada sementara sebelah tangannya memijit dagunya.
"Kau tahu Nathan, ibuku bahkan mengatakan kepadaku bahwa aku ini membutuhkan pengaruh yang baik dalam hidupku. Dan ayahku tidak termasuk dalam kategori itu. Dia…" Jessica hampir tak bisa melanjutkan kalimatnya. Air matanya mulai keluar.
Nathan mengambil air putih yang ada di atas nakas, lalu menyerahkannya pada Jessica "apa kau mau minum dulu?"
"Terima kasih." ujar Jessica sambil mengambil gelas itu dan menegaknya. Ia lalu menunduk, menatap gelas di tangannya kemudian tersenyum miris.
__ADS_1
"Ibuku juga mengancamku dengan mengatakan kalau aku masih ingin di dukung secara finansial olehnya, maka aku harus menuruti ucapannya."
"Secara finansial?"
"Ya, maksudku adalah kalau aku masih ingin dibiayai langsung olehnya setiap bulannya, maka aku harus ikut pulang bersamanya." jelas Jessica.
"Dan apa yang kau katakan padanya?" tanya Nathan.
"Aku mengatakan bahwa ... ya ... aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku tidak ingin pulang ke Singapura. Aku juga tidak butuh uangnya."
Nathan mengangguk. Ia masih terdiam dan terus mendengarkan cerita dari gadis itu. Hatinya tergerak saat melihat Jessica melamun. Gadis itu diam, melihat ke arah pintu kamar rawatnya. Mungkin ia memikirkan tentang pertengkaran yang baru saja terjadi antara dia dengan ibunya beberapa saat lalu.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
Jessica menoleh pada Nathan, tersenyum kecil dan kembali menunduk.
"Kami terus berdebat. Saat itu aku juga mengatakan kepada ibuku bahwa dia selalu memaksakan kehendaknya padaku." ujar Jessica. "Aku juga mengatakan kalau aku sudah belajar dengan keras demi menyenangkannya tapi ibuku tidak pernah puas."
"Ibuku… dia hanya memiliki satu keinginan tentangku. Baginya aku harus menjadi nomor satu dalam segala hal. Jadi aku bilang pada ibu bahwa untuk saat ini aku ingin tinggal bersama ayahku." Jessica berbicara panjang lebar."
"Lagipula kau tahu kenapa, bukan?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan. "Aku ingin bersama ayahku karena aku khawatir. Maksudku... Dimitri bahkan masih berkeliaran di luar sana. Bagaimana jika dia mengejar ayah nanti?"
"Tapibagaimana jika Dimitri justru malah mengejarmu? Bagaimana jika dia melakukan hal yang sama lagi padamu." Nathan menjawab. "Entah kenapa, tapi aku rasa kau akan jauh lebih aman jika kau bersama ibumu di Singapura."
"Ayolah Nathan, itu akan sama saja. Bayangkan, jika aku kembali ke Singapura nanti dan dia datang untuk mengejarku ke sana? Apa yang akan terjadi jika dia menemukan ibuku di sana? Dia justru tidak akan merasa keberatan untuk menembak ibuku." ujar Jessica lirih.
"Tapi setidaknya kau-"
__ADS_1
"Tidak, aku harus tinggal bersama ayah sampai semuanya aman. Saat ini aku tidak bisa memberitahu ibuku tentang masalah ini. Dia tidak akan mengerti. Tak akan pernah. Jika dia tahu apa yang ayah lakukan maka... ya... dia pasti akan lebih marah daripada saat ini."
"Jessica, apapun yang kalian perdebatan sebelumnya, jika aku menjadi ibumu aku juga pasti akan khawatir. Ya, kurasa dia hanya menginginkan yang terbaik untukmu," Nathan mencoba untuk meyakinkan Jessica. "Dan bagaimana pun dia tetaplah ibumu. Kau harus menyelesaikan masalah ini dengan ibumu. Kau harus melakukannya."
"Aku mendengar John mengatakan pada ibu kalau harusnya mereka tidak perlu repot-repot datang kemari untuk menemuiku." ujar Jessica menundukkan kepalanya. "Ternyata aku hanya membuang-buang waktu dalam pandangan mereka. Aku ini tidak pengertian, egois, sembrono dan-"
"Tdak, kau tidak seperti itu," sela Nathan sambil menatap mata Jessica. "Aku tidak berpikir kalau kau seperti salah satu dari hal-hal yang kau katakan itu."
Jessica mendengus, "Kau bahkan baru bertemu denganku kurang dari seminggu yang lalu. Kau juga tidak mengenalku. Bagaimana kau-"
"Aku tahu kau baik," potong Nathan lagi. "Aku tahu kau humoris dan lucu. Aku tahu kau benci lukisan karena kau tidak paham maknanya. Aku tahu kau bisa makan lebih banyak pizza daripada aku. Aku tahu kau sangat setia dan sayang kepada ayahmu, terlepas dari dia yang sudah membohongimu. Kau mungkin juga suka banyak minum, tapi... yah... dari pengalamanku selama ini, ada banyak orang lain yang melakukan hal itu. Dan untuk egois?" Nathan diam sebentar sebelum akhirnya kembali bicara. "aku tidak melihat tanda-tanda itu. Ya, untuk saat ini…"
Dan saat itulah tiba-tiba saja air mata jatuh di pipi Jessica. Gadis itu mulai menangis sesenggukan. Dan hal itu membuat Nathan bertanya-tanya apa yang terjadi. Apakah dia sudah salah bicara?
Nathan tidak pernah mengerti bagaimana caranya menghibur seseorang. Ia dengan cepat bergerak dari kursinya mendekat pada Jessica dan melingkarkan lengannya pada bahu gadis itu.
Dan di detik itu juga, Nathan menjadi lupa diri saat tiba-tiba saja Jessica menyandarkan kepalanya di bahunya dan semakin terisak di pelukannya. Dan saat itulah, Nathan perlahan mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya itu di kepala Jessica, mengusap rambut gadis itu dengan perlahan.
Nathan tetap menjaga posisinya dan membuat Jessica merasa nyaman. Ia tidak terlalu yakin berapa lama mereka telah duduk berdua dengan posisi itu sebelum tiba-tiba dia mendengar dering dari iPhone milik Jessica dari dalam tas.
"Aku akan mengambilkannya," kata Nathan sambil melepaskan pelukannya dari Jessica dan mengambil tas Jessica, mengeluarkan benda itu dari tas Jessica.
Nathan menyerahkan ponsel itu pada Jessica sebelum kemudian dia berdiri di sisi tempat tidur, berdiri di dekat Jessica. Jessica kembali memegang lengan Nathan saat ia akhirnya membuka pesan di ponselnya itu.
Mata Nathan tiba-tiba melebar sesaat setelah dia melihat isi pesan yang berupa sebuah foto di ponsel Jessica dari tempat ia berdiri saat ini. Dia sontak melihat ke luar jendela sebelum dia melihat kembali ke layar ponsel Jessica.
Ponsel itu kembali berbunyi. Pesan lain masuk setelah beberapa saat dan Jessica kembali membuka pesan itu dan membaca kata-katanya.
__ADS_1
*Ini belum berakhir.*
*Kita akan bertemu lagi*