
Nathan berjalan kembali ke rumahnya sore itu. Ia menguap dengan lebar saat dia merasakan matanya mulai mengantuk. Nathan mengeratkan mantelnya begitu merasakan angin malam yang menusuk tulangnya.
Nathan mendorong pintu rumahnya dan berjalan masuk di saat yang bersamaan. Setelah membuka sepatunya ia melepas mantel dan meletakkannya ke atas sofa.
Nathan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Dia mengambil beberapa saat untuk memikirkan di mana Jessica berada saat ini. Namun ia langsung saja menggelengkan kepalanya sendiri tepat setelah dia tersadar. Ada perasaan aneh di dalam perut Nathan saat dia memikirkan gadis itu. Nathan terus saja teringat saat Jessica menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Nathan sebelumnya di hari itu.
Dengan hati-hati Nathan menuangkan air panas ke dalam gelas untuk membuat teh melati untuk dirinya sendiri sebelum kemudian dia duduk kembali di depan laptopnya. Dia harus melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk menemukan dimana posisi Dimitri saat ini.
Namun perhatian Nathan teralihkan oleh Jessica. Dalam hati terdalamnya ia merasa khawatir pada gadis itu. Ia akhirnya diam-diam melupakan Dimitri dan secara perlahan melacak keberadaan Jessica. Nathan sebenarnya mengetahui kalau gadis itu pasti masih dalam perjalanan saat ini. Nathan terus mengamati pergerakan dari gadis itu sambil sesekali dia menyesap teh melatinya.
Dia dalam perjalanan. Jessica pasti dalam keadaan baik karena dia sedang bersama ayahnya. Dan ayahnya itu menyayanginya jadi aku yakin kalau dia pasti akan memastikan putrinya itu aman. Nathan menatap layar laptopnya.
__ADS_1
Nathan menghela napasnya perlahan, lalu memilih untuk menutup laptopnya. Bukankah saat ini dia butuh istirahat. Karena entah kenapa tubuhnya terasa begitu lelah. Setelah itu Nathan memutuskan untuk meletakkan laptopnya ke atas nakas dan memilih untuk tidur.
Beberapa jam kemudian, Nathan bangun dari tidurnya. Ia dengan buru-buru menyalakan kembali laptopnya untuk memastikan lokasi Jessica dan mendapati kalau pesawat mereka kini sudah sampai di bandara. Nathan membuka kembali pelacaknya pada Jessica. Gadis itu sedang berada di stasiun, sepertinya ia hendak menaiki kereta yang menuju ke suatu tempat.
Alis Nathan berkerut, dia kembali melihat pada CCTV yang baru saja berhasil ia bobol. Ia harus menjaga Jessica, sebisanya. Sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja di stasiun tempat mereka berada.
Menurut yang Nathan ketahui dari catatan jadwal keberangkatan, kepergian mereka memang agak sedikit terlambat, sepertinya ada beberapa kesalahan teknis di jalur depan kereta sebelumnya. Kesalahan teknis memang akan terjadi sepanjang waktu. Dan itu bukanlah sesuatu yang bisa di anggap misterius dan mengkhawatirkan. Namun Nathan tidak bisa untuk tidak berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih dari itu. Hatinya tetap merasa khawatir entah kenapa.
Dia memindahkan layar CCTV lebih jauh di sepanjang bagian stasiun, mencoba untuk mencari sesuatu yang janggal sebelum dia melihat tim pekerja yang ada di stasiun. Nathan memperbesar layar, memindai setiap wajah yang dilihatnya sebelum kemudian di layar komputernya itu menampilkan gambar juga data diri dari para pekerja dan memberitahunya dengan jelas bahwa setiap orang yang bekerja di rel itu memang bekerja untuk perusahaan kereta api.
Nathan dengan tenang bersandar di kursinya sambil menyesap tehnya. Ia memindah layar CCTV di stasiun dengan keyboard di laptopnya. Ia lalu menolehkan kepalanya ke lubang peluru yang ada di dinding.
__ADS_1
Setidaknya aku punya kenangan tentangnya. Nathan kembali tersenyum.
Senyum kecil kembali muncul di bibirnya saat dia bertanya-tanya apa yang akan dikatakan pemilik asli dari rumahnya ini. Bola matanya kembali ke layar laptopnya untuk kembali mengontrol. Dan detik itu juga Nathan mengerutkan keningnya. Dia menghentikan rekaman CCTV saat dia melihat pemandangan yang familiar dari rambut pirang seorang pria.
"Sial," gumam Nathan pada dirinya sendiri.
Nathan mencoba untuk memperbesar gambar, mengamati rambut pirang yang tertekuk dari pria yang berada di dekat lintasan kereta dan Nathan bisa melihat sesuatu yang berkedip di dekat tangan pria itu.
"Benda apa itu?" gumam Nathan dengan mata menyipit.
Pria muda itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Ia bertanya-tanya apa yang sedang di lakukan Dimitri saat ini. Permainan apalagi yang di lakukan lelaki itu. Pada saat itulah Nathan merasa khawatir membanjiri dirinya. Dimitri kemudian menoleh dan mengalihkan perhatiannya ke arah CCTV stasiun. Mantan agen itu tampaknya tersenyum ke kamera CCTV sebelum bergegas keluar dari stasiun.
__ADS_1
Nathan bisa merasakan sebuah tegukan ludah yang kasar bergerak turun di tenggorokannya sebelum dia dengan cepat bergerak dan meraih ponsel yang baru saja ia beli di perjalanannya tadi. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Dimitri di stasiun, tetapi dia tahu bahwa dia harus mencaritahu agar bisa meminta Robert dan Jessica keluar dari kereta itu.
***