Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
45


__ADS_3

Nathan berdiri di dekat mejanya, mengetik keyboard di komputer lebih cepat jauh dari yang pernah dia lakukan selama hidupnya. Dia menghentikkan gerakannya untuk beberapa saat, memberi jeda pada otaknya agar bisa berpikir jernih.


Nathan berdiri tegak dan menatap layar besar yang terlihat rusak di depannya. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area dari ruangan itu.


"Ruangannya sudah benar-benar hancur." gumam Nathan.


Nathan telah memberi tahu pihak keamanan tertinggi tentang apa yang barusaja terjadi di tempat ini beberapa waktu yang lalu. Dan menurut kabar, mereka akan segera datang untuk membereskan kekacauan ini.


Selain itu, Nathan juga sudah mengetahui kalau para penjaga yang harusnya berjaga di luar pada malam hari ini ternyata sudah di lumpuhkan oleh Dimitri. Jadi itulah sebabnya mengapa Dimitri dan anak buahnya bisa dengan mudah masuk kedalam gedung dan bahkan menghancurkannya segala isinya.


Nathan kembali menghela. Ia tidak punya waktu untuk meratapi keadaan ini.  Sekarang dia harus memberi tahu Robert tentang apa yang terjadi. Ia kembali fokus pada komputer di hadapannya, mencoba untuk kembali menghubungi Robert.


Beberapa saat mencoba, Nathan menghela napasnya kesal. Kenapa untuk menghubungi pria tua itu sepertinya sangat sulit sekali. Nathan jadi bertanya-tanya dalam hati apakah Robert telah membuang ponsel kerjanya ke sembarangan tempat?


Nathan mendecih.


Tampaknya itulah yang mungkin terjadi dan menyebabkan dia tak bisa mengabari Robert sama sekali saat ini.


Lalu kemudian sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepala Nathan. Ia mengedarkan pandangannya, mencari tas Jessica dan menemukannya di atas meja yang berada tak jauh darinya. Nathan perlahan berjalan ke tas Jessica dan membuka resletingnya.

__ADS_1


Nathan melihat ke dalam, mencari ponsel milik gadis itu. Dia mendapatkannya, bagus! Nathan kemudoan mengeluarkan ponsel milik Jessica itu dan mulai menelusuri kontaknya. Ia mengernyit saat mendapati betapa banyaknya nomor kenalan dari gadis itu di dalam kontaknya.


"Tentu saja, dia pasti gadis yang sangat populer di antara teman-temannya," gumam Nathan saat akhirnya dia menemukan nama kontak yang bertuliskan, "Ayahku."


Nathan menatap ponsel di tangannya dengan pandangan ragu. Hatinya berharap kalau idenya kali ini akan berhasil, karena tadinya Nathan sempat berpikir apakah Robert memiliki dua ponsel. Karena ya, Robert pasti tak mungkin menyimpan kontak dari yang berhubungan dengan pekerjaannya di satu ponsel yang sama. Itu pasti akan membuat orang-orang terdekatnya merasa curiga padanya.


Selama ini dia kan selalu berusaha untuk melindungi privasinya. Itu artinya bisa jadi Robert memiliki dua ponsel. Satu untuk pekerjaan dan satu lagi yang dia gunakan untuk menghubungi Jessica.


Setelah berpikir agak lama, Nathan akhirnya menekan tombol untuk menelepon ke nomor itu. Dan ternyata ide-nya kali ini tidak berakhir dengan sia-sia karena setelah beberapa detik kemudian Robert akhirnya mengangkat telepon itu.


"Jessica, ada apa?"


Nathan bahkan merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat sambil memegang ponsel itu. Ia lalu menjepit ponsel itu di antara telinga dan bahunya untuk membebaskan tangannya agar bisa lebih leluasa bekerja di keyboardnya.


"Sebenarnya, ini… Nathan." lanjut Nathan ragu.


"Nathan?" terdengar nada seperti kebingungan dari ucapan Robert. "Apa yang sedang kau lakukan dengan ponsel milik putriku?"


Nathan berdehem sebentar, ia merasa sangat gugup sekarang. Bayangkan, ia harus memberitahu seorang ayah jika anak gadisnya di bawa paksa oleh musuhnya.

__ADS_1


"Jadi begini… saat ini… kau tahu… em, aku harus memberitahumu tentang sesuatu," jawab Nathan kemudian agar terbata-bata.


"Apa?"


"Ya, sejujurnya ini sama sekali bukan berita baik. Tapi kau harus tahu bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa bela diri sepertimu. Jadi, begitu dia datang... ya...dia mengancam akan menembak. Dan dia… maksudku, dia gila, Robert."


"Nathan, kau bicara tidak jelas. Bicaralah yang benar, aku tidak mengerti apapun maksud ucapanmu." jawab Robert. "Bisa aku tau di mana Jessica sekarang?"


Nathan memperbaiki posisi ponsel itu agar lebih dekat ke telinganya. Namun karena merasa lelah dengan posisi kepala dan lehernya yang miring. Nathan lalu memilih untuk meletakan ponsel Jessica itu ke atas meja dan menyalakan pengeras suara.


"Jessica… dia tidak ada di sini," Nathan akhirnya mengakui segalanya. "Sepertinya dia sedang dalam perjalanan ke Thailand."


"Dengan siapa?" tanya Robert tajam.


Robert terdengar menahan marah. Ia marah karena sebenarnya dia sudah tahu jawaban yang akan Nathan katakan padanya. Robert jelas sudah tahu jawabannya sejak awal. Ia tahu jelas siapa yang sudah beraninya membawa putrinya itu pergi, tapi entah kenapa dia tetap memilih untuk menanyakan pertanyaan itu?


"Dengan siapa, Nathan?" tanyanya lagi tajam.


"Dimitri."

__ADS_1


__ADS_2