Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
100


__ADS_3

Jessica memekik saat ia merasakan pecahan kaca bertebaran di dalam mobil dan Nathan langsung menarik kepalanya ke dadanya saat dia melihat pada pria itu.


"Apa yang kau inginkan?" Nathan berseru padanya, nada suaranya terdengar bergetar.


"Tidak ada," pria itu berujar kepada mereka. "Aku hanya ingin memberimu sesuatu. Itu saja. Kamu tidak perlu terus menjauh dariku seperti itu."


"Dan kau juga tidak perlu menabrak mobil," jawab Nathan dan Jessica duduk, duduk sejauh mungkin dari pria itu. Dia bisa merasakan pegangan tangan Nathan di pinggangnya, berusaha melindunginya.


"Aku mulai lelah," jawab pria itu. "Lagi pula, aku juga tidak tahu berapa lama kau akan terus bergerak. Aku ingin menyalip mobilmu tapi kau menambah kecepatan mobilmu. Aku punya pekerjaan lain yang harus dilakukan di banding kejar-kejaran. Dengar! Aku ini hanya seorang 'kurir'."


"Jadi ada apa ini?" Jessica akhirnya bertanya-tanya, suaranya juga terdengar bergetar. "Apa yang begitu penting sampai kau mengikuti kami kesana kemari?"


"Ya, ini, dia" katanya sambil merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah kartu memori. "Aku hanya ingin memberimu benda ini!"

__ADS_1


Dia menyerahkan benda itu kepada Jessica dan gadis itu dengan cepat mengambilnya dengan tangan yang terlihat gemetar. Nathan melihat kartu memori itu sebelum kemudian melihat kembali ke pria yang berdiri di dekat jendela.


"Siapa yang memberimu benda ini?" tanya Nathan dengan raut wajah penasaran.


"Seorang pria," ujar pria itu sambil mengangkat bahu dengan acuh. "Ya, dia tidak memberitahuku namanya. Dia agak misterius. Tapi aku tidak peduli, aku hanya di bayar untuk mengantarkan itu."


"Kau tidak tau siapa?" Nathan menatap curiga.


"Ya," pria itu mengangguk. "Kami bertemu saat kalian sedang berada di bawah pohon setelah itu dia menghilang. Ya, pokoknya, aku minta maaf tentang mobil kalian...tapi...yah... sebenarnya aku tidak begitu menyesal."


"Apakah kau baik-baik saja?" Nathan memeriksa keadaan Jessica saat mobil pria tadi meluncur melewati mobil mereka.


"Aku rasa begitu," jawab Jessica.

__ADS_1


"Tetap di sana... kita turun dari mobil ini," kata Nathan padanya dan dia membuka pintunya dan pindah ke pintu sebelahnya tempat Jessica berada. 


Nathan membuka pintu dan membantu untuk menarik Jessica dalam pelukannya untuk menghindari kaca yang ada di kursinya. Nathan menggendong Jessica menjauh dari mobil. Ia bahkan tak peduli dengan rasa sakit pada tulang rusuknya dan tetap membawa gadis itu.


Nathan akhirnya menurunkan Jessica begitu mereka sampai di tempat lain, untuk bersembunyi di bawah pepohonan. Nathan mengambil kartu memori itu dari tangan Jessica. Diam-diam Jessica juga ikut melihat Nathan saat pria muda itu mulai mengamati kartu memori yang ada di tangannya itu.


"Siapa yang melakukan ini?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan, menatap pemuda itu dengan ekspresi penasaran.


"Siapa saja itu, siapapun itu," kata Nathan. "Aku akan segera mengetahuinya."


Nathan berkata dengan sungguh-sungguh. Dia akan melakukannya. Dia akan mencari tau siapa sebenarnya pengirim kartu memori ini. Dia akan mencari tau siapa yang sudah membuat mereka terkejut setengah mati seperti ini.


Beberapa saat kemudian Nathan memanggil taksi ketika mereka berdua berdiri di sisi jalan, meringkuk di bawah payung saat mereka menunggu. Mereka memilih meninggalkan mobil sewaan tadi di tempat itu. Selama perjalanan pulang, bahkan tak satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa, keduanya merasa terlalu terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


***


__ADS_2